Beberapa tahun belakangan, sengketa antara Indonesia dan Malaysia memang sedang memuncak. Masalah-masalah di masa lampau belum selesai, ehh, Malaysia sudah bikin ulah lagi untuk membuat bangsa Indonesia marah. Seakan-akan bangsa kita tidak punya harga diri, dan tak perlu dihormati. Satu persatu kebudayaan milik kita diklaim, pulau-pulau kita dicaploki, orang-orang hebat kita diambil. Sungguh malang benar negeri ini. Kita sebagai generasi muda, apakah yang bisa kita lakukan?
Jurus Ampuh Malaysia untuk Membangun Negara Mereka
Sebuah kisah dari malingsia.com, warga Indonesia yang bekerja di Malaysia bercerita tentang kenyataan warga Malaysia, ehem, bisa dibilang ini adalah jurus ampuh Malaysia memajukan negara mereka. Maaf, tidak bisa memberikan link ke artikel aslinya, setelah tak cari-cari lagi di malingsia.com, belum ketemu juga. Yang tak baca dulu judulnya apa ya? Btw, berikut satu bab dari artikel tersebut yang masih kuingat yang kurasa cukup bagus sebagai intermezo artikel ini. Sekedar info, di artikel aslinya, banyak membahas hal-hal tentang Malaysia.
Singkat cerita, sang penulis menyimpulkan bahwa warga asli Malaysia itu pemalas, tidak kreatif, picik, dlsb. Mereka lebih memilih membayar dengan harga yang mahal SDM-SDM berkualitas dari negara lain untuk membangun negara mereka daripada bekerja keras memeras keringat sendiri. Orang yang diperkerjakan tersebut, akan diberi kemudahan tempat tinggal (tak perlu ribet mengurus ijin), serta fasilitas-fasilitas lainnya yang jauh lebih baik bila dibandingkan dengan negara asal mereka.
Setelah habis masa kontraknya, kemudian mereka akan ditawari kewarganegaraan. Kita yang berasal dari negara berkembang, misal seperti Indonesia, bila mendapat penawaran menggiurkan seperti itu, mungkin akan berpikir 100 kali untuk menolaknya. Lha wong hidup di Malaysia itu lebih enak kok, ngapain kembali lagi ke Indonesia?
Begitulah kurang lebihnya. Aku sendiri tak tahu kebenaran dari teori tersebut. Namun, kalau kita cermati, sepertinya memang begitulah adanya. Misal, pada saat ada pertandingan tingkat Internasional (sepakbola, badminton, tenis, dlsb), kebanyakan atlet Malaysia adalah warga negara asing yang telah menjadi warga negara Malaysia. Hmm, Malaysia pinter ya!?
Perlukah Kita Marah Bila Milik Kita Diambil?
Emang apa saja sih yang sudah diambil oleh Malaysia? Hmm, dalam artikel ini, kita tidak akan membahas tentang apa yang telah (katanya) dicuri Malaysia, tapi kita akan lebih fokus ke pertanyaan "Perlukah kita Marah?" Dalam Islam, kita memang berhak berdjoeang mempertahankan harta kita (konon bila kita terbunuh dalam mempertahankannya, kita termasuk mati syahid). Namun, apakah kita harus berperang melawan saudara kita sesama muslim (penduduk Malaysia mayoritas Muslim) demi sesuatu kebudayaan yang lebih condong ke arah kemusyrikan? Tentu saja tidak. Apa kata dunia bila kita mengaku seorang muslim, tapi ternyata kita malah berperang sendiri demi suatu kemusyrikan?
Misal masalah tarian. Tarian-tarian yang ada di Indonesia, kalau dirunut ke asal muasalnya, maka kita akan mendapati bahwa sebenarnya tarian-tarian tersebut digunakan dalam upacara-upacara penyembahan kepada tuhan-tuhan selain Allah. Pantaskah kita bangga menyebut kita seorang muslim bila meributkan tarian ini? Hmm, silakan dijawab dengan keimanan Anda.
Namun, bila yang dicuri itu sesuatu seperti pulau-pulau kecil, kesenian batik, angklung, binatang khas (komodo), bunga raflesia, dlsb, yang tidak bersinggungan dengan kemusyrikan, baru kita bisa marah. Tapi alangkah baiknya bila kita think smart, jangan sampai kita sesama muslim malah bertempur sendiri. Siapa tahu dibalik semua ini ada peranan Amerika atau musuh-musuh Islam yang lain. Walaupun belum terbukti, tapi kemungkinan itu selalu ada. Mari kita doakan saja agar Malaysia dapat menghormati Indonesia, dan begitu pula sebaliknya. Amin.
Pelajaran dari Acara di Televisi
Teringat sewaktu konflik Ambalat sedang memanas, dua remaja WNI yang tinggal di perbatasan Kalimantan dengan Malaysia, sewaktu ditanyai TV One, mereka mengaku lebih memilih untuk bekerja di Malaysia sebagai seorang TKI, walau sebenarnya mereka telah mengetahui kisah-kisah tragis TKW Indonesia yang disiksa warga Malaysia. Dan faktor pendorong mereka adalah gaji yang lebih besar beberapa ratus ribu saja. Demi beberapa ratus ribu yang belum tentu dibayarkan itu, mereka rela bertaruh dengan nyawa mereka sendiri. Masya Allah.
Kisah menarik lainnya saat Metro TV dalam suatu acaranya mengangkat tema, yang intinya: "Perlukah Putus Hubungan Diplomatik dengan Malaysia?" Maaf, lupa nama acaranya, narasumbernya siapa, tayang pada hari apa, dan jam berapa. Karena waktu itu aku melihat saat sudah segmen terakhir owk, hehe. Tapi walaupun hanya sempat melihat satu segmen saja, tapi sudah cukup bagiku dengan mendengar kesimpulan dari para narasumber tersebut untuk mengambil sikap mengenai permasalahan ini.
Dalam acara tersebut, ada dua narasumber, yang satu pro yang satu kontra. Si Bapak yang pro Indonesia harus memutuskan hubungan dengan Malaysia berpendapat, bahwa hubungan diplomatik dengan Malaysia tidak banyak memberi manfaat, bahkan mungkin bisa dibilang tidak ada sama sekali (Hmm, bener juga). Sedang si Bapak yang kontra berargumen bahwa nyatanya masih banyak WNI (kalau tidak salah ingat, kurang lebih 2 juta jiwa) yang bekerja di Malaysia, baik sebagai tki, profesor, atlet, pelatih, kontraktor, dlsb. Nah, kalo Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia, bagaimana dengan nasib mereka?
Generasi Muda, Generasi yang Harus Ikut Berdjoeang
Kesimpulan dari artikel yang cukup panjang ini, aku hanya ingin mengajak teman-teman, generasi penerus bangsa untuk mengambil cara pandang dari sudut yang berbeda. Sampingkan emosi, berpikirlah positif. Untuk membangun negeri ini agar menjadi lebih baik daripada Malaysia, kita tak perlu perang di dunia maya (ejek-ejekan di forum, deface situs Malaysia), demonstrasi anti Malaysia, sweeping warga Malaysia, dlsb.
Alangkah baiknya bila kita belajar ilmu agama, agar kita dapat membedakan mana yang hak dan mana yang haram. Kemudian, bagi yang merasa "wah Indonesia gak bakalan maju-maju kalau pejabat pemerintahannya masih korup", maka belajarlah politik serta thethek mbengek-nya, kemudian ikutlah salah satu parpol, untuk dapat mengikuti pemilu, dan bila terpilih, jadilah pejabat pemerintahan yang jujur.
Bagi yang merasa keadilan di negeri kita masih mlempem, maka belajarlah ilmu hukum dan jadilah hakim yang adil bijaksana. Bagi yang merasa potensi alam, kebudayaan, kesenian kita masih belum dioptimalkan, maka geluti dunia tersebut, dan berperanlah dalam memajukan potensi tersebut. Bagi yang ingin mengurangi pengangguran di Indonesia, silakan merintis bidang entrepreneurship-mu, syukur-syukur bisa membuka lapangan pekerjaan. Dan masih banyak contoh yang lain.
Insya Allah, perdjoeangan lewat jalur ini bakal lebih bermanfaat. Pertanyaannya, apakah kita mampu? Kalau Malaysia saja bisa, kenapa kita tidak? Masak kalah sama negara yang kemerdekaannya saja kita bantu? Ayo kawan, mulailah melangkah menuju kesuksesanmu sekarang juga!! Berdjoeanglah kawan, agar tak ada lagi saudara kita yang perlu disiksa, tak ada lagi pulau kita yang terampas, tak ada lagi saudara kita yang harus merendahkan diri menjadi pengemis, dan tak ada lagi penduduk Indonesia yang harus meregang nyawa akibat kelaparan. Astagfirullah. Indonesia pasti Bisa!! Amin.
Sebagai penutup, ada sebuah kalimat yang bagus yang kuambil dari salah satu artikel di malingsia.com, semoga dapat memberikan kita pencerahan. Berikut kalimatnya:
"And for all of you who loves Indonesia, don’t talk too much, just act!! We are highly noble minded people, show your quality not brutality!!!"
Tetap dalam Perdjoeangan!! Cayo!!