Perbuatan baik memang tidak boleh ditunda-tunda. Begitu ada kesempatan, lebih baik langsung aja dilaksanakan. Jangan sampai berakhir menjadi niat baik belaka. Memang sih, kalau perbuatan baik, walau baru niat saja sudah mendapat pahala. Tapi, apa kita akan terus menerus berniat berbuat baik saja!? Apakah kita tidak ingin merealisasikan niat itu, walau hanya sekali saja seumur hidup!?
Tentu tidak. Meskipun niat baik sudah dibalas dengan pahala, namun bila belum terlaksana, tentu kita belum merasa puas. Serasa ada sesuatu yang hilang dari hidup kita. Serasa kehilangan seorang kekasih yang telah lama dicintai. Ehem, kok malah ngomongin cinta!? Hhh, jadi kepengen cari pacar. Ada yang mau gak ya!?
Ya sudahlah, lupakan urusan pacar, kita lanjutkan ceritanya. Buat yang belum punya pacar, gak usah sedih ya!!? Dunia tetap indah, walau tanpa seorang kekasih. Semuanya tergantung gimana cara kita memandang masalah ini, dan tentu saja bagaimana cara kita menjalani hidup ini. Walau kita tidak punya kekasih, selama kita merasa nyaman, buat apa susah mikirin pacaran!? Gitu aja kok repot!? Sudah ah, kok malah sok tahu soal cinta to!?
Kita lanjutin aja ya ceritanya. Kalo yang ini beneran kok pren. Jangan berhenti dulu ya, bacanya. Ok, sampai di manakah kita tadi? Oo, ternyata baru sampai niat tanpa aksi. Ok, mari kita serius sedikit.
Berikut adalah kejadian yang kualami sendiri. Saat hari raya idul adha kemarin, aku, sebagai seorang muslim yang cukup beriman, mengikuti solat ied berjamaah di masjid, yang tentu saja letaknya tidak begitu jauh dari rumahku. "Lebih baik hujan kerikil di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang". Maksudnya, lebih baik meramaikan masjid kecil di sekitar kita daripada meramaikan masjid megah yang letaknya jauh, tapi masjid di sekitar kita masih sepi. Setuju gak? Udah ah, kok ngelantur lagi.
Sebelum berangkat ke masjid, tentu saja supaya lebih afdol, aku mandi terlebih dahulu. Ketika aku mandi, ibuku sudah bersiap untuk berangkat ke masjid. Sebelum berangkat, beliau berwasiat kepadaku agar nanti memasukkan uang yang ada di meja ruang tamu ke kotak amal. Tapi, hal itu kuabaikan begitu saja. Mengapa? Karena saat itu aku teringat suatu pepatah "jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu".
Aku tak ingin amal yang tak seberapa, malah menimbulkan riya' dalam diriku. Aku tak ingin, walau hanya sekali, perbuatan ini kulakukan dengan sengaja. Apalagi sampai diawali dengan niat, lalu direncanakan dengan matang, kemudian dilaksanakan dengan sukses. Naudzubillahimindzalik.
Namun, ketika tiba saat kotbah disampaikan, dan kotak amalpun mulai berpindah dari tangan ke tangan aku malah berubah pikiran. Semula aku yang anti banget sama kotak amal, sekarang jadi kepengen banget memasukkan uang ke dalamnya, walau cuma seratus perak.
Hehe, untuk sementara segini dulu aja ya. Lain kali aku lanjutin ceritanya, lagi males mikir nih
Belum ada komentar untuk artikel ini.