Hari Genee Masih Nyatet??? Kenapa Tidak?!

Mencatat saat mengikuti kelas memang identik dengan anak SMA. Bahkan waktu zaman SMA-ku dulu, banyak temanku yang sudah malu untuk mencatat ilmu yang diajarkan bapak-ibu guru. ‘Kayak anak SMP aja’, mungkin begitu komentar anak SMA zaman sekarang. Apalagi kalau seorang mahasiswa sejati, pasti ogah dibilang anak SMA gara-gara mencatat. Namun, konyol rasanya kalau kita enggan mencatat hanya biar dibilang udah gak anak SMA lagi.

Aku hanya ingin sharing aja, betapa pentingnya sebuah catatan dalam kehidupanku, terutama dalam dunia perkuliahanku yang cukup berat, penuh aral merintang dan ujian berat, hayah. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Sekedar info saja, saat ini aku masih berstatus sebagai seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta di kota Semarang yang masih berumur 7 tahun, yang kayaknya masih belum begitu terkenal, hehe, yaitu di STMIK ProVisi. Walaupun warga kota Semarang saja belum tentu tahu di mana STMIK ProVisi itu berada, bahkan mendengar namanya saja mungkin belum pernah, tapi aku tetap bangga dan bersyukur kuliah di sana. Semoga diriku mampu menyelesaikan S1 ku dalam waktu dekat. Amin.

Kembali ke catat-mencatat. Dalam setiap kuliah yang ku ikuti, aku selalu siap sedia untuk mencatat poin-poin penting dari bahasan pak dosen untuk bab yang dipresentasikan. Ya kalo ku ingat-ingat, gak semua mata kuliah aku mencatat sih, hanya beberapa saja yang membuatku jadi hobi mencatat, yaitu mata kuliah tentang pemrograman, jaringan, dan database.

Pokoknya yang ada kelas teori, pasti di binderku ada catatannya deh, kecuali kelas rpl, hihihi. Kalau yang praktek, seperti photoshop, aku jarang mencatat, karena harus praktek langsung sih. Apalagi kalo sudah punya modul kuliahnya, jadi malas mengeluarkan peralatan tempurku sebagai mahasiswa, yaitu secarik kertas binder dan sebuah bolpoin. Walaupun begitu, banyak sekali tips & trik yang diungkap oleh pak Fitro di setiap perkuliahannya. Membuatku makin semangat saja untuk mendalami dunia desain.

Otak Manusia Memang Canggih, Tapi Sayang Manusianya Malah Kurang Canggih

Taukah kamu, otak seorang manusia mampu menyimpan semua informasi yang ia dapat selama hidupnya? Memori kita sejak masih kecil imut-imut hingga kini kita besar amit-amit, dari kamu mulai membuka mata pagi tadi hingga kini kamu sedang membaca artikel ini, semua aktivitas yang telah dilakukan masih tersimpan di dalam otak. Subhanallah.

Namun, sayangnya manusia tidak mampu mengingat semua informasi itu dengan baik. Bingung tho? Katanya masih tersimpan, tapi kok gak ingat? Yup. Kita pasti sering mengalami lupa. Sebagai pelajar, tentu tiap hari kita punya banyak sekali tugas dari pak guru (alhamdulillah, kampusku miskin tugas :p). Saking banyaknya, sampai-sampai kita lupa kita punya tugas apa saja. Pernah mengalami?

Nah, bila kita mencatat semua tugas itu, pasti kita akan teringat kembali saat kita melihat catatan tersebut. Ya tho? Nah itulah salah satu kegunaan mencatat. Selain tugas, yang paling sering terlupakan adalah janji, hutang, menyiram toilet sehabis buang hajat, mandi, gosok gigi, sholat, dan kalo kuburan band, yang sering terlupakan adalah syair lagunya. Lupa… lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya. Hayah.

Sebagai pelajar, perlukah kita mencatat?

Sudah pastilah. Banyak sekali deh manfaat mencatat. Segala hal yang kau anggap penting, alangkah baiknya bila dicatat, terutama saat dirimu menemukan sebuah ide. Ide mungkin tidak datang dua kali. Aku punya teman yang suka mencatat idenya. Dia punya banyak sekali ide, saking banyaknya, sampai-sampai bingung mana dulu yang akan diwujudkan. Mungkin dia lebih memilih kehilangan uang 100 ribu daripada kehilangan buku kecil seharga 3 ribu perak yang telah tercatatkan kumpulan idenya. Begitu berharganya sebuah ide. Karena dari ide yang sepele, bisa menjadi sesuatu yang hebat lho.

Bagiku yang hanya mahasiswa biasa, salah satu manfaat mencatat kuliah pak dosen adalah kemudahan belajar saat ujian. Di kampusku ada mata kuliah teknologi jaringan, yang materinya memakai materi CCNA dari cisco. Saat ujian kampus (bukan ujian CCNA-red), ternyata catatanku sangat membantu (bukan buat nyontek lho). Daripada belajar slide CCNA yang berjumlah ratusan slide, lebih baik belajar dari catatanku yang cuman beberapa lembar. Konon, semakin sedikit kita belajar, maka semakin sedikit pula yang akan kita lupakan. Weh-weh-weh, peribahasa yang gak bener. Jangan ditiru yah!!

Aku punya cerita unik. Waktu ujian mid semester kemarin, salah satu soal pada kertas soal ujian (hm.. kalimat yang tidak efektif) menanyakan tentang karakteristik RIP V1. Kebetulan saat pak Rissal dulu presentasi tentang dynamic routing protocol RIP, aku sempat mencatat karakteristiknya. Aku juga alhamdulillah ingat di mana letak tulisan tentang RIP itu berada. Meski tak begitu ingat apa saja karakteristik RIP itu, tapi alhamdulillah, aku bisa menjawab soal itu. Lha kok bisa?

Ceritanya waktu itu aku mentok lupa karakteristik RIP, namun saat itu alhamdulillah aku bisa membuat gambar halaman binder yang berisi catatanku tentang karakteristik RIP itu. Subhanallah, otak manusia memang menakjubkan. Banyak orang yang bilang salah satu cara mengingat adalah dengan menganalogikan sesuatu dengan gambar. Pada waktu itu, aku telah berhasil membuat gambar halaman binder tersebut. Dan lebih hebatnya lagi, aku bisa membaca sebagian besar tulisan di halaman tersebut. Pasti tidak percaya, kan!? Tapi begitulah adanya. Seandainya diriku ini bisa melakukannya setiap saat. Amin.

Nah, sudah tahu kan, betapa pentingnya sebuah catatan? Kalau tidak setuju, silakan beri komentar. Kalau belum ada larangan untuk mencatat, mengapa tidak dilakukan? Orang bijak berkata: Mencatatlah, Sebelum Mencatat Itu Dilarang. Ayo Mencatat!!

Hartadi

I’m a Passionate Programmer ;)

5 thoughts to “Hari Genee Masih Nyatet??? Kenapa Tidak?!”

  1. tu kaannn….
    benerĀ² rajin… ;)
    aku jadi kangen buat nyatet.. tp kamu tau gak rud? waktu aku pinjem bukumu yg the miracle of enzym itu.. aku juga sempet nyatet poin-poin penting lhohhhh… hehe
    tp parahnya, buku catetanku itu dimana yak sekarang?? _-_

Leave a Reply