Dilema Dunia: Nasihat Imam Al-Ghazali tentang Harta yang Fana

Hari ini saya mendengarkan ceramah Ustadz Nuzul Dzikri, Lc. dari YouTube (SalingSapa TV) tentang tema “Dilema Dunia”. Ceramah ini merupakan lanjutan dari series nasihat yang dibawakan dari kitab Ayyuhal Walad (Wahai Anakku) karya Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali, khususnya nasihat ketiga dari Hatim Al-Asam. Saya rangkum pelajaran-pelajaran penting yang bisa diambil.

Nasihat Ketiga Hatim Al-Asam

Al-Imam Hatim Al-Asam berkata:

“Aku melihat setiap orang berusaha sungguh-sungguh untuk mengumpulkan harta dunia, fasilitas-fasilitas dunia. Lalu begitu fasilitas dunia sudah terkumpul, maka banyak orang itu akan menahan, menyimpan, dan menjaga sekuat tenaga. Dia menggenggam fasilitas dunia itu.”

Lalu beliau merenungi firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 96:

“Apa yang di sisi kalian itu fana, dan apa yang di sisi Allah itu yang akan kekal.”

Kesimpulan beliau: gunakan harta dunia untuk mencari wajah Allah, bagikan kepada fakir miskin, agar menjadi tabungan di sisi Allah SWT.

Pelajaran 1: Mayoritas Orang Hobi Mengumpulkan Harta Tapi Menyimpannya

Al-Imam Al-Ghazali dan Al-Imam Hatim Al-Asam mengajarkan bahwa mayoritas manusia mengumpulkan harta dunia, lalu menahan, memonopoli, dan tidak mengeluarkan di jalan Allah. Padahal yang mereka miliki itu fana — tidak lama, ada masanya, sementara. Bukan prestasi.

Pelajaran 2: Jangan Kagum Melihat Harta Orang yang Tidak Bertakwa

Allah melarang kita kagum melihat harta seseorang jika dia tidak beriman kepada Allah. Ini bukan pendapat Ustadz, tapi larangan Allah sendiri dalam QS. At-Taubah ayat 55:

“Janganlah kagum terhadap harta-harta mereka dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk mengadzab mereka dengan harta itu di kehidupan dunia, dan binasalah jiwa mereka sedang mereka kafir.”

Harta itu ujian. Kalau tidak beriman, harta akan menyiksa — membuat gelisah, tidak tenang, dan hancur.

Contoh-contoh dari Ustadz Nuzul:

  • Teman punya Ferrari? Jangan kagum.
  • Ibu-ibu teman arisan pakai tas Hermes? Jangan kagum.
  • Interior rumah seseorang mewah? Jangan kagum.
  • iPhone terbaru? Itu ujian. Kalau lihat orang tertimpa ujian, kagum apa?

Kasus nyata keluarga konglomerat:

  • Keluarga Samsung (Lee Byung-chul) — saudara berantem gara-gara duit, tahta, dan warisan. Keluarga hancur.
  • Keluarga Hyundai — salah satu anaknya, Chung Mong-hoo, bunuh diri karena rebutan duit.

Dunia itu la’ibun (permainan). Kelihatan bagus di luar, padahal hancur di dalamnya. Orang tidak cerita kalau sedang berantem — “Gimana Pak?” “Baik.” Padahal habis perang di rumah.

Pelajaran 3: Gunakan Harta untuk Mencari Wajah Allah

Islam tidak fobia terhadap kekayaan. Sejarah Islam dihiasi orang-orang kaya. Boleh kaya, tapi niatkan untuk mencari ridha Allah (li wajahillah).

Contoh nyata: La’is bin Sa’ad (teman sezaman Imam Malik, abad ke-8 M). Diceritakan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliya:

  • Incomes per tahun: 700 M (angka yang luar biasa untuk zamannya).
  • Tidak pernah bayar zakat — bukan karena malas, tapi karena sebelum genap haul (1 tahun), uang sudah habis untuk infak, sedekah, sumbangan, dan hadiah. Hingga tidak mencapai nisab.
  • Tahun depannya, 700 M lagi. Habis lagi untuk jalan Allah. Tapi tetap kaya terus.

Inilah bukti nyata: orang mencari ridha Allah dengan hartanya, tidak akan kekurangan.

Harta Sejati adalah yang Diberikan

Penjelasan Nabi kepada Aisyah:

“Harta kita itu yang kita beri, bukan yang kita simpan.”

Kita punya 100 ribu, kita kasih 20 ribu — harta kita itu 20 ribu. Yang 80 ribu itu harta waris yang akan dibagi-bagikan ke pihak yang kita tidak tahu.

Abu Bakar As-Siddiq menginfakan seluruh hartanya. Jatuh miskin? Tidak. Kaya lagi, karena diganti oleh Allah.

Infak = Investasi dengan Allah

Allah menggunakan istilah bisnis (tijaroh) dalam QS. As-Saff ayat 10:

“Maukah aku beritahu kepada kalian bisnis yang akan menyelamatkan kalian dari azab yang sangat pedih?”

Allah tidak menggunakan kata “infak” atau “sedekah” — tapi bisnis. Supaya kita semangat. Karena kalau dikatakan “infak”, belum tentu tertarik. Tapi kalau dikatakan “investasi”, langsung ada rangsangan.

Fitnah Khusus Umat Nabi Muhammad

Dari hadits:

“Inna li-kulli ummatin fitnatan, wa fitnatu umatil maal.”
“Setiap umatku memiliki fitnah, dan fitnah khusus umatku adalah harta.”

Harta adalah tantangan terbesar umat ini. Setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Pelajaran 4: Harta Harus Digunakan — Sunatullah Dunia Harus Dipakai

Para ulama mengatakan: harta dunia bermanfaat kalau digunakan. Kalau dipendem, justru tidak berguna. Ini sunatullah — hukum alam yang berlaku untuk semua hal duniawi.

Analogi dari Ustadz:

  • Baju putih mahal, tidak pernah dipakai 4 tahun → warnanya berubah.
  • Mobil S-Class tidak pernah dinyalakan 2 tahun → hancur.
  • Rumah 5 tahun kosong di Imam Bonjo, Jakarta Pusat → hancur.
  • Sepatu mahal 3 tahun tidak dipakai → rusak, jebol.
  • Orang harus bedrest 6 bulan → betis menyusut, kulit punggung lecet.
  • Handbag 87 tas → gampang rusak, dan akan ditanyakan oleh Allah.

Harta harus dikeluarkan di jalan Allah. Punya branded boleh, asal sesuai kebutuhan — tapi jangan overdose.

Bonus dari Sesi Tanya-Jawab

Batasan Bekerja agar Tidak Lalai

Nasihat Ali bin Abi Talib dan Sufyan Ats-Tsauri:

“Kun lid-dunya bi yadika wal-akhirati bi qalbika.”
“Jadikan dunia di genggamanmu, dan jadikan akhirat di dalam hatimu.”

Parameter dari Abu Nu’aim: Kalau dapat harta → biasa aja, tidak tenggelam dalam euforia. Kalau tidak dapat → tidak sedih. Kalau sudah depresi, kecewa, emosi → itu sudah masuk ke hati, berarti sudah terfitnah.

Mau gaji 100 ribu USD atau 1 juta USD per bulan — tidak masalah, asal halal dan berkah. Yang penting tidak dimasukkan ke hati.

Membedakan Ujian, Azab, dan Istidroj

Istidroj (diulur) — berdasarkan QS. Al-An’am ayat 44:

Ketika seseorang lupa Allah — tidak sholat, tidak dzikir, tidak doa — maka Allah bukakan pintu dunia lebar-lebar. Dia senang dengan harta yang dimiliki. Lalu Allah ambil seketika.

Hadits Nabi: Jika melihat ada orang diberikan fasilitas dunia padahal isi waktunya maksiat terus-menerus — itu istidroj. Bukan kenikmatan, tapi diulur supaya sakitnya lebih parah saat jatuh.

Analogi: Jatuh dari lantai 1 sakit ringan. Tapi kalau diangkat ke lantai 101 lalu didorong — lebih sakit. Itulah istidroj.

Azab: untuk orang yang tidak beriman.

Ujian sekaligus teguran (untuk orang beriman): Setiap manusia mengumpulkan pahala dan dosa. Ketika kena musibah, perannya ganda — sebagian ujian keimanan, sebagian teguran atas kekhilafan. Proporsinya disesuaikan dengan isi diri masing-masing.

Sumber:

  • YouTube — Ustadz Nuzul Dzikri, “DILEMA DUNIA” (SalingSapa TV): https://www.youtube.com/watch?v=9SpZyI_TIUA
  • QS. An-Nahl ayat 96
  • QS. At-Taubah ayat 55
  • QS. As-Saff ayat 10
  • QS. Al-An’am ayat 44
  • Abu Nu’aim, Hilyatul Awliya
  • Hadits: “Inna li-kulli ummatin fitnatan…” (HR. Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses