Hari ini saya terpikat satu kisah dalam hadits shahih yang isinya sederhana tapi mengguncang saya: seorang pembunuh 99 jiwa yang akhirnya masuk surga. Saya baru tahu bahwa pintu taubat itu tidak pernah tertutup, bahkan bagi orang yang dosanya kelihatannya paling mustahil diampuni. Ini catatan saya tentang kisah tersebut, supaya suatu hari ketika putus asa datang, saya ingat bahwa rahmat Allah lebih luas dari semua dosa saya.
Sumber Kisah: Hadits Shahih Muslim No. 2766
Kisah ini bukan cerita karangan, melainkan sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya, no. 2766, dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat lain yang seirama, hadits ini juga diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
“Sesungguhnya di antara umat-umat terdahulu seorang lelaki yang telah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya siapa orang paling berilmu di bumi. Ia ditemukan kepada seorang ahli ibadah…”
Ini berarti bagi saya: kisah taubat ini disampaikan langsung oleh Nabi ﷺ, dan kedua imam ahli hadits meriwayatkannya dengan sanad yang shahih. Jadi kalau sampai ada bisikan “dosaku sudah terlalu banyak”, kisah ini adalah jawabannya.
Jalannya Kisah: 99 Jiwa dan Pertanyaan yang Salah Sasaran
Ceritanya dimulai dari seorang lelaki dari Bani Israil yang sudah membunuh 99 orang. Setelah membunuh orang ke-99, hatinya mulai sadar — dia ingin bertobat. Lalu dia melakukan sesuatu yang menurut saya sangat penting: ia mencari orang yang berilmu untuk bertanya cara taubat yang benar. Di sinilah ada bagian yang membuat saya berpikir keras. Ia datang kepada seorang ahli ibadah, dan orang ini menjawab kaku: “Siapa yang bisa menghalangi taubatmu daripada 99 jiwa?” Ahli ibadah itu lalu meminta lelaki itu membunuhnya juga, sehingga jumlahnya genap seratus.
Dan benar saja, jadi 100 jiwa. Pertanyaan saya: mengapa jawaban pertama itu salah? Karena yang ditanya bukan orang berilmu, melainkan ahli ibadah — orang yang rajin beribadah tetapi tidak mendalami ilmu. Ia tidak memahami luasnya rahmat Allah, dan jawabannya malah mendorong lelaki itu makin jauh dari taubat. Saya terapkan dengan begini: sebelum menasihati orang, pastikan dulu ilmu saya cukup, karena nasiha yang salah bisa menutup pintu bagi orang yang sedang mencari jalan pulang.
Nasihat Orang Berilmu: “Siapa yang Menghalangi Antara Dirimu dan Taubat?”
Lelaki itu tidak berhenti. Ia masih bertanya lagi: siapa orang paling berilmu? Sekarang ia diarahkan kepada seorang alim — orang yang benar-benar berilmu. Dan jawaban orang ini jauh berbeda. Ia berkata: “Wahai engkau! Siapa yang dapat menghalangi antara dirimu dengan taubat? Pergilah ke negeri fulan, karena di sana ada orang-orang yang menyembah Allah, ikutilah mereka dan jangan kembali kepada hawa nafsumu.” Perhatikan: nasihatnya bukan cuma teori, tetapi arahan praktis — pindahkan diri ke lingkungan yang baik, temani diri dengan orang-orang saleh, tinggalkan lingkungan lama.
Lalu lelaki itu berangkat. Di tengah perjalanan, maut menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab memperebutkannya, karena satu pihak melihat taubatnya tulus, pihak lain masih menghitung 100 nyawa. Allah lalu memerintahkan agar bumi mereka yang dekat tanah itu saling mendekat, dan di sanalah ia wafat. Kemudian malaikat rahmat dan malaikat azab mengambilnya — dan Allah memfokuskan ampunan-Nya kepadanya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “…maka diamlah (di antara mereka), kemudian malaikat rahmat dan malaikat azab memperebutkannya…”
Saya baru tahu detail ini: Allah memutuskan sengketa para malaikat dengan mengukur jarak fisik tempat ia meninggal. Yang diperebutkan bukan sekadar nasib seorang pembunuh, tetapi soal siapa yang berhak atas hamba yang akhirnya mau pulang. Dan Allah memilihkan dia pada rahmat-Nya.
Ayat Az-Zumar 53: Dasar Naqli Bahwa Taubat Itu Selalu Diterima
Setelah membaca kisah ini, saya cek ayat yang menjadi fondasi semua cerita ini, QS. Az-Zumar ayat 53:
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Inilah yang membuat saya semakin yakin: dosa sebanyak apa pun, jika taubatnya tulus dan ia berusaha menjauh dari lingkungan dosa, maka rahmat Allah lebih besar. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai kabar gembira bagi seluruh hamba yang bertaubat — termasuk orang yang dosanya seperti kisah lelaki di atas. Saya terapkan dengan begini: setiap kali merasa “sudah terlambat”, saya kembali ke ayat ini, karena ayat ini tidak mengecualikan satu dosa pun kecuali syirik tanpa taubat.
Pelajaran Praktis untuk Hidup Saya
- Taubat tidak pernah terlambat — bahkan di ambang maut sekalipun, selama taubatnya tulus dan sempat diucapkan.
- Cari orang yang tepat untuk bertanya. Ahli ibadah belum tentu orang berilmu; jawaban tanpa ilmu bisa menyesatkan orang yang sedang mencari jalan taubat.
- Taubat yang benar butuh aksi konkret: pindah lingkungan, cari kawan yang saleh, jauhi pemicu maksiat — persis perintah orang berilmu dalam kisah ini.
- Jangan mudah menghakimi orang lain. Kalau Allah sendiri memaafkan pembunuh 100 jiwa yang bertaubat, siapa saya menutup pintu harapan untuk saudara saya sendiri?
- Jangan buruk sangka kepada Allah. Putus asa dari rahmat-Nya justru bentuk prasangka yang salah — padahal Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Menutup catatan ini, saya berjanji kepada diri sendiri: kalau besok saya tergelincir lagi, saya tidak akan membiarkan bisikan “Allah tidak akan mengampuniku” menguasai diri. Saya akan kembali, minta ampun, dan berbenah — karena kisah pembunuh 99 jiwa ini adalah bukti hidup bahwa pintu taubat selalu terbuka sampai nyawa sampai di tenggorokan.
Sumber
- HR. Muslim no. 2766, kitab At-Taubah, dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu
- Kisah Taubat Pembunuh 100 Jiwa — Pengadilan Tinggi Agama Bandar Lampung
- Pembunuh 100 Jiwa — Majalah Islam Asy-Syariah
- QS. Az-Zumar ayat 53 — Quran.com (terjemah Kemenag)
- Tafsir QS. Az-Zumar ayat 53 — Tafsirweb
Komentar Terbaru