Nasihat Al Imam Adz-Dzahabi tentang Cara Menghadapi Musibah

Hari ini saya dapat belajar dari Ustadz Nuzul Dzikhriri (SalingSapa TV) tentang nasihat Imam Adz-Dzahabi — bagaimana seorang muslim seharusnya menghadapi musibah dan ujian dalam hidup.

Imam Adz-Dzahabi

Saya baru tahu bahwa Imam Adz-Dzahabi (1322–1392 M / 723–791 H) adalah ulama besar madhhab Syafi’iyyah. Di antara karyanya yang terkenal: Talkhis al-Mawdu‘at dan Al-Majmu‘. Beliau papan atas di kalangan ulama — kita ini masih jauh dari kelas beliau.

Tiga Sikap Orang Beriman Saat Ditimpa Musibah

1. Sabar — Nahan Diri dari Emosi

Imam Adz-Dzahabi mulai dengan kata: Inna al-mu’mina idam tuhun — “Sesungguhnya orang mu’min itu disabar.”

Sabar bukan berarti duduk diam saja. Baginya, sabar berarti menahan diri sebelum merespons:

  • Tidak langsung memberi komentar kasar
  • Berikan jeda sebelum mengambil tindakan
  • Ingat: “Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153)

Tepat sekali — ketika emosi sudah teratasi, baru kita bisa bertindak dengan hikmah.

2. Berihtiar — Ambil Pelajaran dari Setiap Ujian

Tidak hanya bersabar, orang beriman juga mencari hikmah di balik setiap masalah. Istighfar bukan cuma mengucapkan “Astaghfirullah” semata — kita harus benar-benar bertanya: dosa apakah yang membuat ujian ini turun?

  • Jangan langsung minum obat, tapi cari tahu apa penyebab demam itu
  • Istighfar yang tulus = mengingat dosa, lalu memohon ampunan

3. Istighfar — Kembali ke Fitrah

Istighfar punya dua makna yang perlu saya ingat (jelas dijelaskan Ustadz Nuzul):

  • Menghilangkan dosa — “Hari ini, dosa apa yang kudapatkan?” -> Ya Allah tutup, tolong kubur dosa tersebut
  • Menghilangkan akibat dosa (side effect) — setiap dosa punya efek samping di dunia dan akhirat (QS. Ash-Shura: 30: Wa ma asabakum min musibatin fabi ma kasabat aidikum — “Apa pun musibah yang menimpa kalian, itu disebabkan oleh dosa-dosa kalian sendiri”)

“Walaikatu qaulan faqul: Astaghfirullah.”
HR. Muslim

HR. Muslim

Ustadz Nuzul menegaskan: istighfar jangan seperti “safilo, safilo” — cuma bibir bergerak tanpa makna, tanpa khusyuk. Rasulullah saw bersabda:

“Innallaha la yastajibu du’a’an min qalbin ghafilin lahin.”
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima doa (termasuk istighfar) dari hati yang lalai dan tidak fokus.”
HR. Tirmidzi

HR. Tirmidzi

QS. Ibrahim: 42 — Allah Tidak Lalai

Ayat ini jadi penguat hati:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang dikerjakan oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka hingga hari (Kiamat) ketika mata menganga terbelalak.”

QS. Ibrahim: 42

Ustadz Nuzul menafsirkan: jangan pernah berfikir Allah membiarkan kezoliman. Dia pasti membalas — cuma waktunya Allah yang tentukan. Orang zalim itu “babak belur” di akhirat, tapi kita tidak perlu ngurusin balasannya. Urusan kita: istighfar, perbaiki diri.

Hadis Nabi Salman — Dua Dosa Dibalas di Dunia

Ustadz menyebut hadis riwayat Nabi Salman al-Farisi: ada dua dosa yang pasti dibalas di dunia sebagai “pemanasan” sebelum adab di akhirat:

  • Al-Baghyu — kezoliman
  • Qathi’atur Rahim — memutus tali silaturahmi / mendurhakai orang tua

Dosa lain kalau dibalas di dunia = penggubur dosa (kafarat). Tapi kezoliman dan qathi’atur rahim — Allah balas di dunia sebagai peringatan awal.

Imam Ahmad bin Abdul Hanan — Jangan Balas Kezaliman

“A’idha ro’ayta ahad al adahul nas… walam ya’ut ila nafsihi… balaw mul istighfar… fa’alam anel musibahil musibah.”

“Apabila engkau melihat seseorang dizolimi oleh sekelompok orang, lalu dia tidak mengembalikan kezaliman itu ke dirinya sendiri dengan beristighfar — maka ketahuilah, itulah musibah yang sebenarnya.”

Imam Ahmad bin Abdul Hanan

Artinya: musibah sejati bukan kalau kita dizolimi, tapi kalau kita tidak introspeksi & istighfar. Nabi Yunus AS di perut ikan pun mengakui: “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zolimin” (QS. Al-Anbiya: 87) — “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim (terhadap diri sendiri).”

Musibah Dunia vs Musibah Akhirat

Imam Adz-Dzahabi menegaskan: musibah duniawi itu jauh lebih ringan daripada musibah akhirat. Beliau bersyukur: “Hamla nggak nyerang agama saya, nggak nyerang sholat saya, nggak nyerang puasa saya, nggak nyerang salawat saya ke Rasulullah.”

Ini poin kunci: orang beriman panik kalau musibah menyerang agamanya. Kalau cuma dunia (usaha ancur, ditipu, dibuli, sakit) tapi ibadah tetap terjaga — itu masih aman. Yang bikin hancur: musibah nyerang agama (tinggal sholat, jauh dari Qur’an, galau sampai lupa Allah).

QS. Thaha: 124 — Barangsiapa Berpaling dari Agama

“Wa man a’rada ‘an zikri fa inna lahu maishatan dhankan.”

“Barangsiapa berpaling dari kenangan-Ku (Al-Qur’an & agama), maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit (sengsara).”

QS. Thaha: 124

Apa yang Saya Ambil & Terapkan

Dari kajian ini, ada beberapa hal yang jadi catatan pribadi saya:

  • Musibah dunia tidak akan menyerang agama — asalkan kita jaga ibadah (sholat, puasa, wird, salawat). Itu yang saya syukuri.
  • Allah tidak akan membiarkan orang zalim — jadi jangan cemburu melihat orang zalim “nyaman”, akibatnya pasti ditanggapi Allah (QS. Ibrahim: 42).
  • Dosa mengundang musibah — setiap masalah punya akar; akar utamanya sering kali dosa (contoh Ustadz: demam -> cek luka di jempol, bukan minum obat saja).
  • Istighfar menghilangkan efek samping dosa — jadi saat kena musibah, langkah pertama: istighfar dengan hati yang hadir.
  • Jangan sibuk ngurusin orang yang zalim ke kita — orang mu’min setelah istighfar fokus ke diri sendiri, percaya Allah Maha Adil & Maha Bijaksana yang mengatur alam semesta.

Langkah Praktis Saat Kena Musibah

  • Istighfar dulu — bersihkan dosa & hilangkan efek sampingnya, jangan langsung marah/marahin orang
  • Sabar (nahan) — jangan biarkan emosi menguasai, ingat Allah bersama orang yang sabar
  • Berihtiar (ambil hikmah) — tanya: “Pelajaran apa buat gue dari masalah ini?”
  • Jaga agama — pastikan sholat, Qur’an, wird, salawat tetap jalan. Itu modal menghadap Allah.

Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses