Hari ini saya menyimak kajian tematik Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri yang membahas tentang tiga penolong dalam kehidupan kita. Tema ini menarik karena langsung menjawab pertanyaan klasik: kalau bukan uang, sebenarnya harta apa yang paling berharga dalam hidup ini? Dari kajian ini saya mendapat jawaban yang membuat saya merenung cukup lama, dan saya catat di sini agar tidak lupa.
Berawal dari Pertanyaan Para Sahabat
Kajian ini bermula dari turunnya ayat 34 surat At-Tawbah, yaitu firman Allah tentang orang-orang yang menyimpan emas dan perak tetapi tidak menunaikan haknya, tidak menginfakkannya di jalan Allah, dan tidak membayar zakat. Kepada mereka Allah mengabarkan azab yang sangat pedih.
Ketika ayat ini turun, para sahabat yang hadir bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan langsung menangkap pesannya. Mereka sadar bahwa punya uang, emas, dan perak bukanlah jaminan selamat dari azab Allah, bukan jaminan hidup bahagia dan tenang. Maka mereka memberanikan diri bertanya: kalau begitu, harta apa yang paling baik agar kami bisa mendapatkannya dan dengan itu kami selamat serta hidup tenang?
Di sinilah saya menemukan perbedaan cara berpikir yang sangat penting. Para sahabat bertanya tentang harta yang paling berkah. Sedangkan kita sering kali bertanya seperti apa? Cara kita memikirkan harta biasanya berhenti pada: bagaimana saya bisa kaya seperti dia, bagaimana saya bisa punya mobil sebagus dia. Titik. Para sahabat berharap hartanya tidak mengubah mereka: tetap rajin salat, tetap memakmurkan masjid, tetap menjadi hamba Allah yang baik.
Tiga Penolong dari Rasulullah
Menjawab pertanyaan para sahabat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menyebut uang sama sekali. Beliau menyebutkan tiga hal, sebagaimana diriwayatkan Imam At-Tirmidzi:
- Lisan yang senantiasa berzikir kepada Allah (lisanun zakir)
- Hati yang senantiasa bersyukur kepada Allah (qolbun syakir)
- Istri yang beriman (zawjatun mu’minah), yang dalam riwayat shahih disebut istri sholehah yang menolong urusan agama dan urusan duniawi kita
Inilah harta terbaik dan paling berkah menurut Rasulullah. Ini berarti bagi saya: harta yang paling berharga bukan yang tersimpan di rekening, melainkan yang ada di lisan, di hati, dan di rumah tangga kita.
Kenapa Bukan Uang?
Ustadz menjelaskan bahwa kemampuan uang itu terbatas. Uang bisa membeli kasur yang empuk, tetapi tidak bisa membeli tidur yang nyenyak. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi tidak bisa membeli kelapangan hati dan jiwa. Tiga hal yang disampaikan Rasulullah jauh lebih powerful daripada uang sebesar apa pun.
Dan tidak mungkin Rasulullah salah dalam memberikan jawaban, karena Allah berfirman dalam surat An-Najm ayat 3 dan 4 bahwa beliau tidak berbicara dengan hawa nafsu, melainkan dengan wahyu yang diwahyukan kepadanya.
Pelajaran dari Ibn Hazm
Ustadz mengangkat sosok Imam Ibn Hazm, ulama besar yang hidup di Andalusia (Spanyol) dan wafat tahun 456 Hijriah. Beliau ini sosok yang lengkap: genius, kaya, pernah juga hidup susah, dan karena dibesarkan di lingkungan kaum wanita, beliau sangat memahami dinamika perempuan.
Setelah mengalami semua fase kehidupan itu, Ibn Hazm menyimpulkan bahwa yang dicari seluruh manusia, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, pada akhirnya hanya satu: menghindari kesedihan dan menolak kesedihan. Semua pekerjaan, dagang, dan perjuangan hanyalah sarana menuju satu tujuan itu. Kuncinya kata beliau adalah iman dan amal sholeh, zikir kepada Allah, hati yang bersyukur, kesolehan diri, dan dukungan keluarga.
Ibn Hazm tidak asal bicara, karena Allah sendiri yang menjanjikan dalam surat Yunus ayat 62 dan 63: wali-wali Allah, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa, tidak akan merasa takut dan tidak akan bersedih. Banyak orang tidak tertarik mendengar ayat ini karena tidak ada urusan uangnya. Padahal justru di situ inti kehidupan: hidup tidak sedih, hidup tidak takut.
Ketenangan Berada di Dalam, Bukan di Luar
Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah dijadikannya kebahagiaan kita terletak di dalam diri, bukan di luar. Kalau ketenangan kita bergantung pada teman, pada uang, atau pada kondisi luar, hidup kita akan mudah berantakan. Allah berfirman dalam surat Ar-Ra’d ayat 28: hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Contoh nyatanya adalah Asiah binti Muzahim, istri Fir’aun. Suami yang paling zhalim, disiksa oleh suaminya sendiri, tetapi beliau tetap tersenyum karena pada saat disiksa beliau ingat kepada Allah. Beliau berdoa dalam surat At-Tahrim ayat 11: Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya. Begitu juga Bilal bin Rabah yang disiksa dengan batu besar di atas dadanya, tetapi lisannya terus mengucapkan Ahad, Ahad, karena hatinya selalu mengingat Allah.
Yang membuat kita hancur sesungguhnya bukan kezaliman yang menimpa kita, tetapi ketika kezaliman itu terjadi kita lupa kepada Allah. Imam Ibn Aun berkata: mengingat manusia dan makhluk adalah penyakit, dan mengingat Allah adalah obatnya.
Kekayaan Bukan Angka, Tetapi Rasa
Rasulullah bersabda bahwa kekayaan itu bukan banyaknya harta dan aset, tetapi kekayaan jiwa. Kaya atau tidaknya kita bukan soal angka di tabungan, melainkan rasa yang kita alami dalam dada. Ketika kita ingat kepada Allah dan orientasi kita menuju akhirat, Allah memasukkan kekayaan ke dalam hati kita.
Maka pantas para ulama berkata bahwa ahli dunia keluar dari dunia tanpa pernah merasakan yang paling nikmat dari dunia, yaitu makrifatullah, mengenal Allah. Dengan mengenal Allah kita bersyukur, dan bagi yang bersyukur Allah berjanji menambah nikmatnya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 7.
Istri Sholehah, Penolong Terbaik
Bagian terakhir menegaskan bahwa manusia itu lemah, suka jatuh dan tergelincir, sehingga butuh pendamping. Dan pendamping terbaik adalah istri yang sholehah. Rasulullah menyandingkan istri sholehah bersama zikir kepada Allah dalam hadits tentang harta terbaik itu. Ini berarti kedudukan wanita sholehah berada di atas harta yang nilainya puluhan atau ratusan juta.
Tugas istri sholehah adalah membantu suaminya dalam urusan agama dan urusan dunia. Rumah tangga adalah sistem tolong-menolong di atas kebaikan dan ketakwaan, bukan saling menyalahkan atau menuntut hak. Orang beriman fokus pada kewajiban karena yakin Allah yang akan memberikan haknya, dan Allah tidak mungkin menzalimi hamba-Nya.
Kajian diakhiri dengan pesan yang sangat praktis: ingat Allah, maka kita akan bersyukur; didik istri kita dengan baik; dan bagi yang belum menikah, persiapkan diri menjadi istri sholehah yang mendukung suaminya agar bertakwa, sehingga terwujud keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Kesimpulan yang Saya Catat
- Harta terbaik bukan uang, melainkan lisan yang berzikir, hati yang bersyukur, dan istri sholehah.
- Uang terbatas kemampuannya; ketenangan hati tidak bisa dibeli.
- Inti kehidupan yang dicari semua orang adalah terbebas dari rasa takut dan sedih, dan itu hanya didapat dari iman, zikir, dan syukur.
- Ketenangan kita ada di dalam, bukan di luar. Jangan biarkan kezaliman orang membuat kita lupa kepada Allah.
Sumber: kajian tematik Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri di Masjid At-Taqwa, Rawa Lumbu, Bekasi, 15 Januari 2023.

Komentar Terbaru