Belajar Adab Makan ala Rasulullah ﷺ

Hari ini saya belajar tentang adab makan dan minum menurut tuntunan Rasulullah ﷺ. Jujur, selama ini saya makan ya langsung makan saja — jarang memperhatikan hal-hal kecil yang ternyata punya nilai ibadah besar di sisi Allah. Catatan ini saya rangkum dari kajian Ustadz Abdullah Zaen tentang adab makan dan minum, kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri tentang adab di awal makan, serta artikel dari muslim.or.id dan Rumaysho.com. Semoga bermanfaat untuk saya pribadi dan siapa pun yang membacanya.

Adab Sebelum Makan: Membaca Bismillah dan Doa

Pelajaran pertama yang paling membekas: sebelum makan kita dianjurkan membaca bismillah. Dalam hadits dari Umar bin Abi Salamah, Rasulullah ﷺ bersabda kepada beliau yang saat itu masih kecil,

«يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»

“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Subhanallah, dari satu hadits ini saja kita mendapat tiga adab sekaligus: menyebut nama Allah, makan dengan tangan kanan, dan mengambil makanan yang terdekat. Kalau lupa membaca bismillah di awal, Nabi ﷺ mengajarkan untuk mengucapkan “Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu” (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya) — HR. Abu Dawud no. 3767 dan Tirmidzi no. 1858, dishahihkan Syaikh Al-Albani.

Selain bismillah, ada doa khusus yang bisa dibaca sebelum makan. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Apabila salah seorang kalian hendak makan, hendaklah ia membaca: ‘Bismillaahi, wa ‘alaa baarakatillaah.’ (Dengan nama Allah dan atas berkah Allah).” (HR. Abu Dawud no. 3763, dishahihkan Al-Albani). Artinya: Dengan nama Allah, dan atas berkah Allah. Doa sederhana ini mengingatkan kita bahwa makanan bukan sekadar kebutuhan fisial, tapi karunia yang penuh keberkahan dari Allah.

Kenapa bismillah ini penting sekali? Karena dalam hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa “setan menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah padanya” (HR. Muslim no. 2017). Bahkan ada kisahnya: suatu ketika ada anak kecil dan seorang Arab Badui yang tangannya ditahan oleh Nabi ﷺ saat mau mengambil makanan, karena keduanya tidak membaca bismillah — dan ternyata setan ikut serta bersama mereka untuk menikmati makanan itu. Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dalam kajian “Adab di Awal Makan” mengingatkan hal yang sama: awal makan yang benar adalah dengan menyebut nama Allah, supaya setan tidak ikut serta.

Makanan Halal dan Thoyyib: Bukan Sekadar Enak

Sebelum membahas adab saat makan, ada hal mendasar yang tidak boleh dilewatkan: makanan harus halal dan thoyyib. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 168,

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ»

“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal dan baik (thoyyib), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 168). Ayat ini mengajarkan dua kriteria: halal (sesuai syariat) dan thoyyib (baik untuk tubuh serta bermutu). Makanan yang halal tapi tidak thoyyib — misalnya makanan yang berlebihan hingga membahayakan kesehatan — juga tidak sejalan dengan tuntunan ini. Demikian pula makanan yang thoyyib tapi tidak halal, tidak boleh dikonsumsi. Keduanya harus seimbang.

Adab Saat Makan: Tangan Kanan, Berjamaah, dan Tidak Mencela

Selain makan dengan tangan kanan, ada adab lain yang sangat ditekankan Rasulullah ﷺ: makan bersama-sama. Beliau bersabda,

“Makanlah kalian berjamaah, dan hendaklah orang yang memegang bejana tidak memulai makan sebelum orang lain (bersamanya) memulai.” (HR. At-Tirmidzi no. 1847). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa makan berjamaah dari satu tempat itu lebih mengandung keberkahan daripada makan sendiri-sendiri. Ini mengajarkan kita tentang kebersamaan, kesetaraan, dan menghargai tamu — tidak mendahului mereka dalam mengambil makanan.

Ada satu adab yang dulu jarang saya sadari: jangan menjelek-jelekkan makanan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

“Tidaklah Nabi ﷺ mencela suatu makanan sedikit pun. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya; jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, ini adalah adab yang baik kepada Allah — karena kalau kita menjelek-jelekkan makanan, seolah-olah kita menolak rizki yang Allah berikan. Syaikh Utsaimin juga mengingatkan bahwa makanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri, bukan dicela. Kalau memang tidak suka, cukup tinggalkan saja tanpa komentar negatif. Yang menarik, Nabi ﷺ juga pernah memuji makanan sederhana: beliau bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka” (HR. Muslim no. 2052). Beliau tidak meminta yang mewah-mewah, lauk cuka pun dipuji dan disantap dengan senang hati.

Ada juga sunnah yang mungkin jarang kita lakukan: menjilat sisa makanan di jari setelah makan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian makan, janganlah ia mengusap tangannya sebelum ia menjilatnya atau dijilatkan kepada orang lain.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031). Alasannya, kita tidak tahu di bagian makanan mana letak keberkahan itu berada. Makan dengan tiga jari juga termasuk sunnah dan menunjukkan sikap tawadhu’.

Yang juga patut kita perhatikan: jangan menyia-nyiakan makanan. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah ﷺ melarang seseorang membuang sisa makanan yang masih bisa dimakan. Allah telah mencurahkan nikmat melalui setiap butir makanan; membuangnya berarti meremehkan karunia-Nya. Makan secukupnya, ambil sesuai kebutuhan, dan habiskan apa yang telah diambil — itu semua bagian dari rasa syukur.

Sunnah Minum: Duduk, Tiga Teguk, Tangan Kanan

Bukan hanya makan, adab minum pun diajarkan dengan sangat rinci oleh Rasulullah ﷺ. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,

“Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Siapa yang lupa, hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim no. 2024). Minum sambil berdiri dikhawatirkan mengganggu pencernaan dan menunjukkan sikap terburu-buru yang tidak sejalan dengan adab Islami. Selain itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk minum dengan tiga teguk, tidak sekali teguk langsung habis — karena minum bertahap lebih baik bagi tubuh dan juga merupakan bagian dari syukur atas nikmat yang diberikan Allah.

Adab minum yang benar: duduk, berdoa terlebih dahulu dengan mengucap bismillah, minum dengan tangan kanan, dan tiga kali teguk. Semuanya sederhana, tapi kalau dilakukan secara konsisten, makan dan minum kita berubah menjadi ibadah yang terus-menerus mendatangkan pahala.

Adab Setelah Makan: Memuji Allah

Ternyata selesai makan pun ada adabnya, yaitu memuji Allah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang menikmati makanan lalu memuji Allah setelahnya, atau meneguk minuman lalu memuji Allah setelahnya.” (HR. Muslim no. 2734)

Bayangkan, hanya karena mengucap hamdalah setelah makan, Allah ridha kepada kita. Masya Allah, begitu murahnya pahala yang Allah sediakan. Salah satu doa yang bisa dibaca setelah makan: “Alhamdulillaahil ladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa muslimiin” — “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, dan menjadikan kami orang-orang muslim” (HR. Abu Dawud no. 3850).

Mengamalkan Adab Makan di Era Modern

Pertanyaannya: bagaimana mengamalkan adab makan ala Rasulullah ﷺ di tengah gaya hidup modern yang serba cepat? Saya menyadari bahwa budaya fast food dan makan sembarangan sudah sangat mengakar — makan sambil pegang HP, makan di mobil, bahkan lupa baca bismillah karena sudah terlalu lapar. Meal prep dan eating clean yang kini populer sebenarnya sangat selaras dengan konsep thoyyib: memilih bahan makanan yang baik, memasak sendiri, dan makan secara terukur.

Saya sendiri, setelah belajar kajian ini, berusaha membiasakan diri untuk: berdoa sebelum makan meskipun cuma satu suapan, tidak mencela makanan meskipun sederhana, makan dengan tangan kanan, dan mengucap hamdalah setelah selesai. Belum sempurna memang — terkadang masih lupa, masih makan sambil berdiri kalau sudah sangat terburu-buru. Tapi insya Allah dengan terus belajar dan mengingat hikmah di balik setiap adab ini, kebiasaan baik itu perlahan terbentuk.

Yang paling berkesan buat saya dari belajar hari ini: makan itu ternyata bukan sekadar mengisi perut, tapi bisa menjadi ibadah yang berpahala jika dilakukan dengan adab. Mulai dari bismillah dan doa sebelum makan, makan pakai tangan kanan, makan berjamaah, minum sambil duduk dengan tiga teguk, tidak mencela makanan, tidak menyia-nyiakan sisa, sampai memuji Allah setelahnya — semuanya sederhana, tapi kalau dibiasakan insya Allah hidup kita jadi lebih berkah. Semoga Allah memberi kita taufik untuk istiqamah mengamalkan sunnah-sunnah kecil ini. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses