Belajar AI #1: Sejarah AI — dari Turing Test (1950) sampai ChatGPT (2022)

Hari ini saya mulai seri baru: Belajar AI. Sebagai programmer yang sehari-hari menulis kode, saya merasa perlu memahami teori di baliknya — bukan sekadar memakai API. Dan saya memutuskan mulai dari awal: sejarah. Bukan karena nostalgia, tapi karena sejarah menjelaskan satu hal yang sering membingungkan saya: kenapa AI sempat “mati” dua kali, lalu bangkit lagi dan sekarang ada di mana-mana. Mari kita telusuri.

Timeline sejarah AI dari Turing Test 1950 hingga ChatGPT 2022
Timeline sejarah AI: dari Turing Test (1950) sampai ChatGPT (2022). Saya buat dengan Python PIL sebagai catatan visual.

1950: Turing Test — titik tolak

Alan Turing, matematikawan asal Inggris, menerbitkan paper berjudul “Computing Machinery and Intelligence” di jurnal Mind tahun 1950. Pertanyaannya sederhana: can machines think? Tapi karena “berpikir” terlalu kabur untuk diuji, Turing menggantinya dengan permainan imitasi: seorang pemeriksa mengobrol dengan mesin dan manusia melalui teks. Kalau pemeriksa tidak bisa membedakan mana mesin mana manusia, mesin itu dianggap lolos uji kecerdasan.

Dari sudut pandang programmer, Turing Test itu seperti unit test yang kasar: kita tidak mengukur cara kerja dalamnya, hanya hasil luarnya. Mesin boleh diimplementasikan dengan cara apa pun — yang penting outputnya tidak bisa dibedakan dari manusia. Konsep ini penting karena menanamkan pola pikir “kecerdasan bisa dinilai dari perilaku”, bukan dari jiwa atau kesadaran.

1956: Konferensi Dartmouth — lahirnya nama “AI”

Enam tahun kemudian, John McCarthy mengusulkan sebuah workshop musim panas di Dartmouth College, Amerika Serikat. Para pesertanya adalah tokoh yang kelak menjadi bapak pendiri AI: McCarthy, Marvin Minsky, Claude Shannon, dan Nathaniel Rochester. Di konferensi inilah istilah artificial intelligence pertama kali dicetuskan, dan AI resmi menjadi bidang riset.

Yang menarik: optimisme saat itu sangat tinggi. Mereka memperkirakan masalah AI bisa diselesaikan dalam satu generasi. Setelah konferensi, muncul beberapa hasil awal yang menjanjikan — Frank Rosenblatt membuat perceptron (neuron buatan sederhana) tahun 1958, dan Joseph Weizenbaum membuat chatbot ELIZA tahun 1966 yang bisa “ngobrol” ala terapis. Tapi dari kejauhan, saya melihat pola yang sama dengan hype teknologi sekarang: ekspektasi melampaui kenyataan.

Dua musim dingin: AI winter

Janji besar tanpa hasil yang konsisten membuat pendanaan riset AI membeku dua kali. Para sejarawan menyebut periode ini AI winter:

  • 1974–1980 (AI winter pertama): laporan Lighthill di Inggris tahun 1973 mengkritik habis-habisan capaian AI, pendanaan pemerintah dan industri menyusut drastis.
  • 1980-an (kebangkitan sistem pakar): expert systems — program berisi aturan if-then yang ditulis manual oleh ahli — dipakai di industri, misalnya untuk diagnosis dan konfigurasi. Populer, tapi mahal dan rapuh: aturan tidak bisa menangani kasus di luar yang tertulis.
  • 1987–1993 (AI winter kedua): pasar komputer LISP (bahasa favorit riset AI) runtuh, proyek sistem pakar ditinggalkan satu per satu.

Bagi saya ini pelajaran berharga: AI berbasis aturan yang ditulis tangan tidak pernah benar-benar “belajar”. Ia sekuat pengetahuan yang dimasukkan manusia, dan rapuh di luar domain itu. Paradigma inilah yang akhirnya digantikan oleh machine learning.

Kebangkitan: machine learning & deep learning

Alih-alih menulis aturan secara manual, machine learning membuat model belajar dari data. Beberapa tonggak yang saya catat:

  • 1997 — Deep Blue: komputer IBM mengalahkan juara catur dunia Garry Kasparov. Masih berbasis pencarian dan aturan, tapi momen penting: AI mengalahkan manusia di game populer.
  • 2012 — AlexNet: jaringan saraf konvolusional karya Alex Krizhevsky, Ilya Sutskever, dan Geoffrey Hinton menang telak di kompetisi ImageNet. Inilah momen deep learning “resmi” naik daun — berkat data besar dan GPU.
  • 2016 — AlphaGo: sistem DeepMind mengalahkan Lee Sedol di permainan Go, yang selama ini dianggap terlalu kompleks untuk diselesaikan dengan brute force.
  • 2017 — Transformer: paper “Attention Is All You Need” memperkenalkan arsitektur transformer, yang kelak menjadi fondasi GPT dan semua LLM modern.

2022–sekarang: AI generatif arus utama

ChatGPT dirilis November 2022 dan dipakai ratusan juta orang dalam hitungan bulan. Yang tadinya riset laboratorium menjadi produk harian: menulis, coding, menggambar, menganalisis. Sejarah tidak berhenti di sini — tapi untuk seri ini, 2022 adalah titik awal era yang sedang kita jalani.

Catatan programmer: mengingat lewat data

Sebagai programmer, cara paling natural buat saya mengingat sejarah ini adalah menjadikannya data — list pasangan (tahun, peristiwa):

sejarah = [
    (1950, "Turing Test"),
    (1956, "Konferensi Dartmouth"),
    (1974, "AI winter pertama"),
    (1987, "AI winter kedua"),
    (1997, "Deep Blue kalahkan Kasparov"),
    (2012, "AlexNet menang ImageNet"),
    (2017, "Paper Transformer"),
    (2022, "ChatGPT rilis"),
]
for tahun, peristiwa in sejarah:
    print(f"{tahun}: {peristiwa}")

Dari data ini saya menangkap pola besar: ide neural network sebenarnya sudah ada sejak 1958 (perceptron), tapi baru meledak tahun 2012. Yang berubah bukan teorinya, melainkan dua bahan bakar: data besar dan komputasi murah (GPU). Jadi ketika orang bilang “AI baru”, yang baru sebenarnya adalah skala, bukan konsep dasarnya.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.