Jujur saja, saya sering kali lebih sabar melayani pelanggan di kantor daripada menjawab telepon dari Ibu di rumah. Lebih ramah ke rekan kerja yang baru kenal daripada bicara dengan Bapak yang mulai pelan suaranya. Ada yang sama? Kalau iya, saya juga sedang belajar mengubah kebiasaan ini.
Berbakti kepada orang tua — atau yang dalam bahasa Arab kita kenal dengan istilah birrul walidain — bukan sekadar kewajiban moral yang terasa berat. Ia sebenarnya adalah salah satu jalan paling dekat menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan lucunya, hal ini sering kali justru hal paling sederhana yang paling sering kita abaikan.
Ayat yang Bikin Merinding
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 23-24:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar janganlah kamu menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'”
QS. Al-Isra [17]: 23-24
Coba perhatikan: Allah tidak sekadar memerintahkan “berbuat baik” kepada orang tua. Tapi turun ke detail yang sangat spesifik — jangan ucapkan perkataan “ah”, jangan membentak, dan gunakan kata-kata yang mulia. Pernah tidak kita tanpa sadar bicara dengan nada tinggi ke Ibu hanya karena ditanya hal yang menurut kita sepele? Saya pernah, dan ayat ini selalu menghantui setiap kali saya teringat.
Allah bahkan memerintahkan kita untuk mendoakan mereka: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya.” Doa ini sendiri sebenarnya sudah ada di dalam Al-Qur’an. Artinya, membaca Surat Al-Fatihah saja belum cukup kalau kita tidak menyertakan doa untuk kedua orang tua di dalamnya.
Ridha Orang Tua = Ridha Allah
Ada satu hadits yang sangat populer dan sering saya dengar dari kajian-kajianustadz:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
HR. At-Tirmidzi no. 1899 — dinilai shahih oleh At-Tirmidzi
Dengar sekali lagi: ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Bukan pada banyaknya shalat malam kita, bukan pada seberapa sering kita ke masjid, bukan pada seberapa banyak sedekah yang kita keluarkan. Tapi ada kaitan langsung antara sikap kita kepada orang tua dengan ridha Rabb semesta alam.
Tentu ini bukan berarti ibadah lain tidak penting. Tapi hadits ini mengingatkan kita bahwa ada satu ibadah yang sering kita anggap “bonus” padahal sebenarnya ia adalah indikator utama kedekatan kita dengan Allah: yaitu bagaimana kita memperlakukan kedua orang tua kita.
Sederhana, Tapi Tidak Mudah
Berbakti kepada orang tua tidak harus selalu dramatis. Tidak perlu menunggu punya h banyak baru bisa berbuat baik. Berikut beberapa hal sederhana yang bisa kita mulai hari ini:
Pertama, dengarkan. Saat Ibu bercerita tentang hal yang sama untuk kesekian kalinya, dengarkan seolah-olah baru pertama kali mendengarnya. Bagi beliau, itu adalah momen kebersamaan yang berharga.
Kedua, hubungi lebih sering. Kalau sudah tidak tinggal serumah, telepon atau video call. Jangan menunggu mereka yang menghubungi. Anak yang baik adalah yang proaktif menjalin silaturahmi, bukan yang menunggu.
Ketiga, sabar dengan perubahan mereka. Orang tua yang dulu kuat dan tegas mungkin kini mulai pelupa, mulai rewel, mulai butuh perhatian seperti anak kecil. Itu bukan melemah, itu adalah proses kembali kepada Allah — dan kita adalah bagian dari proses itu.
Keempat, mendoakan mereka. Setiap shalat, sebut nama mereka. Setiap sujud, bacakan doa untuk mereka. Ini tidak membutuhkan waktu lebih dari lima detik, tapi efeknya kekal di dunia dan akhirat.
Kisah Uwais al-Qarni: Berbakti di Tengah Keterbatasan
Mungkin kita pernah mendengar kisah Uwais al-Qarni, seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah bertemu langsung dengan Beliau, tapi diakui keutamaannya. Uwais hidup dalam kemiskinan dan merawat ibunya yang sakit. Karena harus menjaga ibu, ia tidak bisa berangkat hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin lainnya. Ketika ditanya tentang Uwais, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa akan datang kepadaku seorang pemuda dari Yaham — yang namanya Uwais bin Amir. Jika ia berdoa untuk kalian, mohonlah ia berdoa untuk kalian.
Bukan banyak amal ibadahnya yang menjadikan Uwais istimewa. Tapi keikhlasannya dalam berbakti kepada sang ibu, di tengah keterbatasan yang ia hadapi.
Refleksi untuk Diri Sendiri
Menulis artikel ini sebenarnya saya tujukan untuk diri saya sendiri. Karena saya tahu, kesabaran saya kepada orang tua masih jauh dari kata cukup. Masih sering bilang “ah” tanpa sadar. Masih sering lebih memilih scrolling HP daripada duduk dan bercerita dengan Bapak.
Tapi setidaknya, setelah membaca ayat dan hadits di atas, saya ingat satu hal: waktu dengan orang tua itu terbatas. Dan setiap momen yang kita lewatkan begitu saja tanpa kebaikan, tidak akan pernah bisa kita ulang.
Mari kita mulai hari ini. Bukan besok, bukan nanti kalau sudah punya waktu. Hari ini. Karena ridha Allah mungkin hanya sejauh satu telepon telepon, satu pelukan, atau satu kata “terima kasih, Bu/Bap” yang tulus dari hati kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Komentar Terbaru