Hari ini saya ingin membagikan catatan dari kajian Ngaji Jomblo karya Ustadz Felix Siauw, khususnya dua bagian pembuka yang menurut saya paling menentukan: episode pertama tentang mencari pasangan, dan episode kelima tentang makna pernikahan. Dua episode ini seperti fondasi. Kalau fondasi salah, semua lantai di atasnya ikut miring — termasuk pilihan pasangan, cara taaruf, sampai cara kita membina rumah tangga.
Kenapa banyak orang bingung memilih pasangan
Ustadz Felix membuka dengan sebuah perumpamaan yang sangat membekas: seseorang diminta mencari kayu di hutan. Aturannya hanya satu — dia boleh berjalan maju, tidak boleh mundur, dan hanya boleh membawa satu kayu. Dia menemukan kayu yang bagus, tapi berpikir, “mungkin di depan ada yang lebih bagus.” Dia terus maju. Setiap kali menemukan kayu yang bagus, selalu muncul pikiran yang sama. Hingga akhirnya dia keluar dari hutan dengan tangan kosong.
Perumpamaan ini persis menggambarkan orang yang mau menikah tapi tidak tahu alasannya. Karena tidak punya standar, dia selalu ragu: “yang ini iya atau tidak? yang ini terima atau tolak?” Hidupnya bergantung pada harapan yang tidak pasti, dan berakhir dengan penyesalan. Yang paling sering ditanyakan ke ustadz bukan soal cara menikah, tapi soal kebingungan memilih — itu gejala dari akar yang sama: tidak tahu kenapa ingin menikah.
“Harus dia” — tanda niat yang belum lillahi ta’ala
Bagian yang membuat saya tersentak adalah kritik terhadap kalimat “pokoknya harus dia.” Ketika seseorang ditolak oleh orang yang disukainya lalu jatuh depresi, ustadz bertanya: “Kamu benar-benar menikah karena Allah atau tidak? Kalau kamu menikah karena Allah, dan perempuan itu tidak mau, kamu tidak akan se-stress ini — karena memang tidak harus dia.”
Kalimat “harus dia” menjadi tanda bahwa keputusan kita masih ditentukan hawa nafsu, bukan pertimbangan syariat. Nafsu itu cepat terikat pada mata: cantik, tampan, playful, seksi. Sedangkan pertimbangan yang benar harusnya bebas dari nafsu. Bukan berarti tidak boleh mencari yang ideal — ideal itu boleh, tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah ketika idealitas itu menjadi satu-satunya ukuran, sehingga kita tidak pernah puas dan tidak pernah berani memutuskan.
Nikah itu ibadah, bukan sekadar melengkapi hidup
Episode kelima menegaskan hal yang sama dari sisi yang lain: pernikahan adalah ibadah. Seperti halnya salat, puasa, zakat, dan haji, pertanyaan yang paling penting bukan “bagaimana caranya”, melainkan “kenapa”. Kalau seseorang tahu caranya salat tapi tidak tahu kenapa harus salat, salatnya tidak akan dijalankan. Begitu pula nikah — kalau tidak tahu kenapa menikah, perspektifnya salah, persiapannya salah, caranya salah, waktunya salah, dan pasangannya pun salah.
Ustadz Felix bercerita bahwa dia masuk Islam pada usia 18 tahun, dan baru menikah pada usia 22 tahun. Empat tahun dipakai untuk mempelajari Islam dan mempersiapkan diri. Dulu, sebelum masuk Islam, pikirannya adalah “nikah kalau sudah mapan, sekitar usia 27-28 tahun.” Setelah memahami Islam, dia tahu bahwa pacaran tidak dibolehkan, dan keinginan menikah muncul dari kesiapan, bukan sekadar hasrat. Cara mengucapkan “saya mau menikah” kepada ayahnya pun berbeda — yang pertama ditertawakan, yang kedua didengar serius, karena keseluruhan dirinya sudah berubah.
Menikah adalah sunnah Rasulullah dan kaderisasi umat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikah itu bagian dari sunnahku. Barang siapa tidak mengamalkan sunnahku, maka tidak termasuk golonganku.” (HR. Ibnu Majah no. 1846, dinilai sahih oleh Al-Albani). Dalam riwayat lain beliau menegaskan agar umatnya menikah karena beliau bangga dengan banyaknya umatnya di hari kiamat.
Di sinilah saya baru paham bahwa pernikahan bukan urusan pribadi semata. Ketika kita menikah, kita sedang ikut membangun umat. Ustadz menyebut pasukan khusus di masa kekhalifahan Utsmaniyah yang bernama pasukan Azab — pasukan para pemuda lajang yang selalu minta ditempatkan di barisan paling depan. Jomblo dalam Islam itu bukan aib; ia kekuatan, asal diisi dengan kesiapan dan tujuan.
Lebih dalam lagi, nikah adalah cara melanjutkan dakwah. Dakwah selalu tentang kaderisasi — tentang apa yang kita tinggalkan setelah kita tidak ada. Kita tidak ditentukan oleh diri kita sendiri, tetapi oleh generasi yang datang setelah kita. Karena itu, saat mencari calon istri, laki-laki sejatinya sedang mencari um — ibu — dan dari kata yang sama lahir kata umat. Ibu yang akan mendidik umat. Memilihkan ibu terbaik bagi anak-anak kita adalah tugas para jomblo; mempersiapkan diri menjadi ibu terbaik adalah tugas para muslimah.
Investasi terbaik: anak saleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Nikah adalah satu-satunya jalan yang disyariatkan untuk memiliki keturunan. Karena itu, punya anak bukan sekadar “tambahan rezeki” — ia investasi yang pahalanya terus mengalir setelah kita tiada.
Nabi Ibrahim pun berdoa agar dari keturunannya lahir orang-orang yang meneruskan dakwah, menjadi generasi yang membacakan ayat-ayat Allah dan mengajarkan hikmah (QS. Ibrahim: 37). Dari sinilah pernikahan terhubung dengan kebangkitan umat: kalau kita tidak menikah, tidak ada kader; kalau tidak ada kader, dakwah terhenti. Dalam kaidah ushul, ma la yatimmu al-wajibu illa bihi fahuwa wajib — sesuatu yang tanpanya kewajiban tidak bisa tercapai, hukumnya ikut wajib. Menikah bukan tentang cepat-cepat atau gaya-gayaan, tetapi tentang siapa yang paling siap dan paling tepat persiapannya.
Standar pasangan: apa yang kita butuhkan, bukan semua yang kita mau
Kembali ke kayu di hutan: pencari kayu yang tahu kebutuhannya — misalnya kayu keras, setinggi 1,5 meter, mudah dipegang — akan langsung mengambil kayu yang memenuhi kriteria itu dan tidak tergoda mengganti dengan yang lain. Ustadz Felix bercerita bahwa dia menikahi istrinya karena yakin dia butuh perempuan yang mendukung dakwah dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. “Itu yang saya perlukan, dan itu yang saya cari. Kalau dapat yang cantik, itu bonus.”
Ketika standar sudah jelas, kita tidak akan menunda pernikahan hanya karena menunggu sesuatu yang lebih baik, dan tidak akan galau ketika seseorang menolak kita. Kalau datang laki-laki atau perempuan yang sudah memenuhi standar — komitmen terhadap Allah dan kesiapan masa depan — maka tidak ada alasan untuk menunda. Tidak semua yang kita inginkan harus terwujud; yang harus terwujud adalah apa yang kita niatkan di jalan Allah.
Penutup: pondasi sebelum melangkah
Dari dua episode ini, kesimpulan yang saya catat sederhana: sebelum memikirkan siapa pasangan kita, selesaikan dulu pertanyaan kenapa kita menikah. Tujuan menentukan kriteria, kriteria menentukan keputusan, dan keputusan yang benar akan melahirkan rumah tangga yang tenang. Di episode-episode berikutnya, kajian ini membahas tafsir pernikahan, mawaddah warahmah, sampai proses khitbah dan taaruf — semuanya bertumpu di atas fondasi “kenapa” ini.
Semoga catatan ini bermanfaat, dan saya doakan kita semua menjadi jomblo-jomblo yang siap — seperti pasukan Azab, berisi energi dan tujuan, bukan yang galau karena tidak punya arah.
Sumber
- Ngaji Jomblo 01 — “Biar Nggak Nyesel Setelah Nikah”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
- Ngaji Jomblo 05 — “Nikah 103”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
- HR. Ibnu Majah no. 1846 — “An-nikahu min sunnati…” (dishahihkan Al-Albani, Silsilah Shahihah 5/497)
- HR. Muslim no. 1631 — tiga amal yang tidak terputus setelah meninggal
- QS. Ibrahim: 37 — doa Nabi Ibrahim untuk keturunannya
Komentar Terbaru