Cara Meyakinkan Orangtua untuk Menikah

Setelah membahas persepsi, tujuan, dan proses khitbah, kajian Ngaji Jomblo bertemu dengan tembok yang paling sering dihadapi calon pengantin: orang tua tidak setuju. Tiga episode berturut-turut — episode 11, 12, dan 13 — membahas utuh bagaimana cara meyakinkan orang tua, khusus untuk laki-laki, khusus untuk perempuan, lalu untuk kondisi orang tua yang jauh dari ideal. Hari ini saya dapat belajar bahwa meyakinkan orang tua bukan soal pintar bicara, melainkan soal pembuktian: membuktikan dengan perilaku bahwa kita sudah layak memikul tanggung jawab pernikahan. Ini yang saya catat dari tiga episode tersebut.

Kunci untuk laki-laki: bisa melakukan apa yang ayah lakukan

Ustadz Felix membuka dengan cerita pribadinya. Ia masuk Islam tahun 2002 dalam keadaan masih berpacaran selama empat tahun. Begitu menyatakan ingin menikah, sang ayah menjawab dengan nada tidak percaya sama sekali — dalam bahasa Palembang, “kanji kau” — karena ayahnya tidak melihat kesiapan apa pun pada dirinya. Sakit hati tentu ada, tetapi dari situ ia belajar melakukan introspeksi: kenapa ayah tidak bisa menerima? Jawabannya, karena ia memang belum siap menjadi seorang suami.

Dari pengalaman itu lahir satu kunci yang menurut saya paling membekas: seorang laki-laki tidak akan mendapat izin atau restu ayahnya sebelum ia bisa melakukan apa yang ayahnya lakukan. Sederhananya begini — seorang direktur digaji lebih besar daripada karyawan karena desk pekerjaannya berbeda. Kalau seorang karyawan ingin menjadi direktur, ia harus mampu menjalankan pekerjaan seorang direktur. Begitu pula kita: kalau ingin dipercaya memimpin keluarga, kita harus mampu menjalankan tugas yang selama ini dijalankan ayah kita — mencari nafkah, mengambil keputusan, menghadapi masalah, dan bertanggung jawab atas keluarga. Hidup adalah pilihan, dan kita adalah apa yang kita pilih.

Ustadz Felix lalu mempraktikkannya. Ia membuat daftar apa saja yang bisa dilakukan ayahnya, lalu membuktikan satu per satu. Ia bercerita saat adiknya bermasalah di sekolah dan ayahnya dipanggil pihak sekolah; ia menawarkan diri menggantikan ayahnya menghadap guru sebagai wali, dan menyelesaikan masalah yang seharusnya diselesaikan ayahnya. Ia juga mengambil alih pembayaran listrik dan belanja rumah — “Papi transfer saja.” Setiap tanggung jawab yang diambil adalah poin kepercayaan. Sebab kalau bapak sendiri tidak percaya, bagaimana mungkin bapak orang lain mau mempercayakan anaknya pada kita?

Tiga persiapan: sakofah, emosional, dan finansial

Inti dari semua ini adalah tiga persiapan yang juga berlaku bagi perempuan: persiapan sakofah, persiapan emosional, dan persiapan fisik yang mencakup harta dan kesehatan. Persiapan sakofah adalah persiapan agama dan cara memandang hidup — bagaimana memandang suami, istri, anak, dan masyarakat. Ini adalah fondasi, ibarat dasar bangunan; semua yang dibangun di atasnya bergantung pada seberapa benar dasar ini.

Persiapan finansial sering dianggap tidak penting oleh sebagian pembicara, padahal harta itu penting — bukan segala-galanya, tetapi Allah memerintahkan kita untuk memerhatikannya. Di episode 12 dijelaskan bahwa qawwam dalam QS. An-Nisa: 34 bukan sekadar pemimpin, tetapi juga penyangga dan tempat bersandar, dan ayat itu menyebut alasan laki-laki menjadi qawwam adalah karena ia menafkahkan hartanya. Ustadz Felix menegaskan: nafkah bukan syarat menikah, tetapi kewajiban setelah menikah. Seperti salat — sebelum masuk waktu, salat tidak wajib; begitu waktunya tiba, salat menjadi kewajiban. Maka minimal seorang laki-laki sudah punya penghasilan. “Yang penting penghasilan, bukan kerjaannya,” katanya. Kalau ingin menikah tetapi belum punya penghasilan, selesaikan dulu urusan itu.

Persiapan fisik juga mencakup menjaga tubuh dan penampilan — bukan hanya supaya sehat, tetapi supaya kita tidak membawa “handicap” yang seharusnya bisa dicegah ke dalam pernikahan. Merawat tubuh, merapikan penampilan, dan mengelola waktu termasuk bagian dari kesiapan ini.

Persiapan emosional: kendalikan lisan, hadapi masalah

Bagian yang paling dalam bagi saya adalah persiapan emosional. Ustadz Felix mengingatkan: akal kita akan mewujud pada lisan, pada tangan, dan pada perilaku. Orang yang lisannya tidak bisa dikendalikan — mudah memaki, mudah mengeluarkan kata-kata kasar — sesungguhnya menunjukkan ketidakcerdasan emosional. Beliau mencontohkan pengalamannya sendiri: suatu ketika pulang dan tidak menemukan makanan yang disukainya, ia berkata kepada istrinya, “Umi, ini masak buat siapa sih?” — kalimat yang sangat menyakiti. Penganiayaan dalam rumah tangga tidak selalu fisik; penganiayaan verbal justru paling sering merusak rumah tangga.

Rasulullah bersabda bahwa seorang muslim adalah orang yang membuat muslim lain selamat dari lisan dan tangannya — pengendalian tangan dimulai dari pengendalian lisan, karena keduanya dikendalikan oleh kepala yang sama. Beliau juga menekankan bahwa kita tidak boleh melegitimasi kesalahan kita dengan kesalahan orang lain: “karena saya disakiti, maka saya boleh menyakiti” tidak dikenal dalam Islam. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Inilah kecerdasan emosional — dewasa adalah mampu mengendalikan emosi sehingga situasi menjadi lebih baik, bukan sekadar menang gengsi.

Persiapan emosional juga berarti berani menghadapi masalah, tidak kabur dari tanggung jawab, mengakui kesalahan, dan mau memperbaiki. Di episode 13, Ustadz Felix mengingatkan: salah dalam menjawab soal tidak mengapa, yang tidak boleh adalah tidak mengerjakan soal sama sekali. Menghadapi masalah, kita bisa benar atau salah — tetapi lari dari masalah itu sudah kesalahan hakiki. Pernikahan penuh masalah yang harus dihadapi; kalau sejak sekarang kita lari dari masalah kecil, bagaimana nanti menghadapi masalah rumah tangga?

Untuk perempuan: mulai dari pertanyaan yang aman

Untuk perempuan, kesalahan nomor satu menurut Ustadz Felix adalah baru membuka pembicaraan dengan orang tua ketika sudah dikhitbah atau dilamar. Wajar kalau orang tua kaget dan stres — selama ini tidak pernah ada pembicaraan apa pun, tiba-tiba ada lamaran. Maka pembicaraan itu harus dimulai jauh sebelumnya, bahkan bertahun-tahun. Beliau butuh empat tahun persiapan — masuk Islam usia 18 tahun, baru merasa siap di usia 22 — dan Ustadz Salim A. menikah usia 20 tahun dengan persiapan sejak usia 16. Mulailah lebih awal, bukan menunggu sampai terdesak.

Karena hubungan ayah dengan anak perempuan seharusnya sedekat hubungan teman, beliau menyarankan strategi yang saya rasa sangat halus: cari waktu dan suasana yang tepat — misalnya saat berbuka puasa, sambil melayani ayah dan mengajaknya mengobrol — lalu ajukan pertanyaan yang aman: “Abi, gimana pendapat Abi kalau seandainya saya mau nikah?” Perhatikan bedanya dengan “Abi, saya mau nikah”. Pertanyaan dengan kata “seandainya” bersifat aman dan halus; ia membuat ayah mulai berpikir, bukan terkejut. Kalau jawabannya “kamu gila ya?”, berarti masih jauh; kalau “emang kamu sudah punya calon?”, itu sudah lumayan. Dari situ percakapan bisa dilanjutkan: “Seperti apa, Bi, laki-laki yang baik?” Atau: “Bagaimana cara mendapatkan laki-laki seperti Abi?”

Yang penting pula: jangan melawan pendapat ayah, meskipun keliru — misalnya prasangka tentang suku atau etnis tertentu. Dengarkan, gali alasannya, lalu arahkan ke sifatnya: kalau yang ditakuti adalah sifat pelit, kasar, atau tidak bertanggung jawab, maka yang penting adalah calon tidak memiliki sifat itu, bukan dari mana sukunya. Puncaknya, kalau sudah berhasil, ketika ada laki-laki datang meminang, ayah akan berkata, “Saya mah terserah sama anak saya saja.” Itulah tanda kepercayaan penuh — dan itu adalah tujuan yang diidamkan.

Ayah pengambil keputusan, ibu influencer

Di episode 13 saya belajar pembagian peran yang sering tidak disadari. Ada ungkapan: anak laki-laki milik ibunya sampai mati, sedangkan anak perempuan milik bapaknya sampai dinikahkan — karena begitu dinikahkan, tanggung jawab berpindah dari ayah kepada suami, bahkan hak suami lebih besar daripada hak ayah. Maka dalam Islam, yang berhak menikahkan perempuan adalah walinya, dan urutannya jelas: ayah, lalu kakek, buyut, kemudian anak laki-laki dari perempuan itu (saudara laki-lakinya), lalu paman, dan terakhir wali hakim. Kalau ayah sudah tiada, yang diajak berbicara adalah wali sesuai urutan itu.

Namun ibu bukan tidak penting — justru sebaliknya. Ibu bukan decision maker, tetapi ia adalah influencer yang paling ampuh; dan influencer kadang lebih kuat daripada pengambil keputusan. Maka setelah berbicara dengan ayah, ambil waktu khusus berbicara dengan ibu dari hati ke hati — menemani di dapur, mengobrol saat beliau longgar. Kalau menangis, menangislah di hadapannya. Dan jangan lupa: meyakinkan orang tua sendiri adalah tugas kita, bukan tugas calon. Setelah menikah, pembagian ini tetap berlaku — keluarga kita kita yang urus, keluarga dia dia yang urus; di depan orang tua kita, kita membela pasangan kita, dan sebaliknya.

Orang tua yang tidak ideal bisa menjadi guru

Banyak yang mengeluh: “Orang tua saya tidak seperti yang digambarkan — tidak bisa diajak bicara, tidak memahami Islam, bahkan kasar.” Ustadz Felix menjawab dengan tegas: guru tidak hanya berasal dari orang yang baik, kadang juga dari orang yang tidak baik. Nabi Musa dibesarkan di lingkungan Fir’aun yang sangat tidak ideal, tetapi akhlaknya luar biasa. Nabi Yusuf nyaris tidak dibesarkan oleh orang tuanya — ia hidup hanya dengan satu nasihat terakhir dari ayahnya — tetapi menjadi bendahara Mesir dengan akhlak yang mulia. Dari orang tua yang tidak ideal kita belajar: kalau saya punya anak nanti, saya tidak akan seperti itu.

Allah berfirman bahwa Dia tidak membebani seseorang melampaui kesanggupannya (QS. Al-Baqarah: 286). Situasi keluarga yang kita terima — termasuk yang tidak ideal — adalah yang terbaik bagi kita, dan Allah yakin kita mampu menanggungnya. Manusia memang diciptakan dalam kesulitan (fi kabad, QS. Al-Balad: 4); seperti kata Imam Syafi’i, kenikmatan ada di ujung jerih payah. Kalau semuanya mudah, kita tidak akan pernah menghargai pernikahan.

Bahkan saat orang tua bercerai dan ibu membenci ayah, wali tetaplah ayah selama ia hidup — dan tugas kita menyelesaikan kekusutan itu dengan sabar: prekondisi dengan kebaikan, cari waktu yang tepat, sampaikan kebutuhan kita (“Umi, saya perlu wali, bagaimana menurut Umi kalau saya mau menikah?”), dan serahkan pikirannya pada Umi. Kalau ditolak atau dimarahi, mundur dulu, karena setiap kata yang kita ucapkan akan membekas — kita tidak tahu kapan bekas itu berbuah. Jangan pernah melawan atau memperdebatkan orang tua; menyakiti hati mereka adalah dosa. Diam kadang lebih baik daripada berbicara. Dan jangan lupa berdoa agar Allah membukakan hati mereka.

Mapan bukan syarat, dan dua keping lego yang hilang

Ada satu koreksi pemahaman yang menurut saya penting dicatat: perempuan yang meminta laki-laki “mapan” sebelum menikah. Ustadz Felix menjelaskan bahwa kata mapan sebenarnya sama dengan sakinah — itu adalah hasil dari pernikahan, bukan syarat masuknya. Kalau yang dimaksud adalah kecukupan harta, itu berbeda urusan — tetapi sadarilah bahwa tidak ada laki-laki kaya sejak awal, kecuali anak konglomerat; dan yang sudah kaya justru punya lebih banyak pilihan. Yang kita cari adalah yang kita perlukan, bukan yang ideal; kalau hanya mau yang ideal, kita tidak akan pernah menikah.

Penutup episode 13 adalah perumpamaan yang paling saya ingat: anak-anak Ustadz Felix membangun menara lego setinggi 1.600 keping mengikuti buku petunjuk — tetapi dua keping di bagian dasar terlewat karena mereka merasa sudah paham dan meng-skip petunjuknya. Bangunan itu tampak kokoh, tetapi goyah; ketika disentuh sedikit, hancur berantakan. Dua keping yang hilang menghancurkan 1.598 keping lainnya. Begitulah pernikahan: banyak rumah tangga yang tampak baik dua puluh, tiga puluh tahun, tiba-tiba hancur dalam sehari — biasanya karena “dua keping” yang terlewat di awal, dari persiapan yang disepelekan. Maka jangan pernah merasa cukup dengan persiapan. Orang yang bersiap saja tidak pernah merasa siap; apalagi yang tidak bersiap sama sekali.

Kesimpulan dari tiga episode ini sederhana: meyakinkan orang tua dimulai dari membenahi diri sendiri. Untuk laki-laki, buktikan bahwa kita bisa memikul tanggung jawab seperti ayah. Untuk perempuan, bangun kedekatan dan komunikasi sejak dini dengan pertanyaan yang halus. Untuk semua, selesaikan kepingan-kepingan persiapan — sakofah, emosi, dan finansial — sebelum meminta restu. Karena berkomunikasi dengan orang tua adalah latihan berkomunikasi dengan pasangan; menyelesaikan masalah dengan mereka adalah latihan menyelesaikan masalah dalam rumah tangga. Dan untuk orang tua sendiri, cara terbaik bukan mendebat, melainkan mencintai sepenuh hati sambil berdoa — karena kita tidak bisa mendakwahi orang tua, tetapi Allah bisa membukakan hatinya.

Sumber

  • Ngaji Jomblo 11 — “Cara Meyakinkan Orangtua Buat Yang Lelaki”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
  • Ngaji Jomblo 12 — “Cara Meyakinkan Orangtua Buat Yang Perempuan”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
  • Ngaji Jomblo 13 — “Tentang Orangtua Yang Tidak Ideal”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
  • QS. An-Nisa: 34 — ar-rijalu qawwamuna ‘ala an-nisa; laki-laki qawwam karena dilebihkan sebagian atas sebagian yang lain dan karena menafkahkan hartanya
  • QS. Al-Baqarah: 286 — Allah tidak membebani seseorang melampaui kesanggupannya
  • QS. Al-Balad: 4 — manusia diciptakan dalam kesulitan (fi kabad)
  • HR. Bukhari dan Muslim — “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (kullukum ra’in)
  • HR. Bukhari — “Seorang muslim adalah yang membuat muslim lain selamat dari lisan dan tangannya” (al-muslimu man salima al-muslimuna min lisanihi wa yadihi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses