Kisah Musa dan Khidir: Pelajaran tentang Ilmu dan Kesabaran

Hari ini saya membaca lagi kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir di surat Al-Kahfi. Sudah sering saya dengar, tapi baru kali ini saya menangkap pelajaran yang paling dalam: ternyata tidak semua yang tampak buruk itu buruk, dan tidak semua yang tampak baik itu baik. Yang kita lihat cuma potongan kecil, sementara Allah melihat seluruh gambaran. Ini catatan saya.

Berawal dari Rasa “Saya Paling Pandai”

Kisah ini menarik karena pembukanya bukan tentang Khidir, melainkan tentang kelemahan kecil Nabi Musa sendiri. Dalam hadits riwayat Bukhari (Kitab al-‘Ilm, no. 74) dari Ubay bin Ka’ab, suatu ketika Musa berpidato di hadapan Bani Israil. Ada yang bertanya, “Siapakah manusia yang paling alim?” Musa menjawab, “Aku.” Allah langsung menegur — kenapa jawaban itu tidak diserahkan kepada Allah?

Lalu Allah mewahyukan kepadanya bahwa ada seorang hamba-Ku di pertemuan dua lautan, yang lebih alim darimu.

Musa bertanya bagaimana cara menemuinya, dan Allah memberinya tanda: bawalah seekor ikan dalam wadah. Saat ikan itu hilang, di situlah Khidir berada. Ini berarti bagi saya: ilmu Allah itu luas, dan merasa paling pintar justru menjadi penghalang untuk belajar. Musa — seorang nabi ulul azmi — saja ditegur karena merasa paling alim. Apalagi saya yang baru belajar sedikit.

Perjalanan Mencari Guru

Allah abadikan perjalanan ini dalam QS. Al-Kahfi ayat 60–64. Musa berkata kepada muridnya (Yusya’ bin Nun), “Aku tidak akan berhenti berjalan sampai aku sampai ke pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan terus sampai bertahun-tahun.” Di tempat pertemuan dua lautan itu, ikan yang mereka bawa hidup kembali dan melompat ke laut — dan di situlah mereka bertemu Khidir.

Di QS. Al-Kahfi: 65–68, Musa meminta izin untuk mengikutinya:

Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab, “Sungguh, engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku. Bagaimana engkau sanggup bersabar atas sesuatu yang belum engkau ketahui?”

Musa berjanji akan bersabar dan tidak membantah apa pun. Lalu syarat itu diuji satu per satu: tiga peristiwa yang berturut-turut membuat Musa tidak sabar.

Tiga Peristiwa yang Menguji Kesabaran

Pertama, melubangi perahu (QS. Al-Kahfi: 71). Mereka naik sebuah perahu di laut. Tanpa alasan yang terlihat, Khidir justru melubangi perahu itu. Musa protes, “Mengapa engkau melubanginya? Engkau hendak menenggelamkan penumpangnya?” — sungguh perbuatan yang mungkar.

Kedua, membunuh seorang anak (QS. Al-Kahfi: 74). Setelah turun dari perahu, mereka bertemu seorang anak, lalu Khidir membunuhnya. Musa semakin tidak tahan, “Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, padahal dia tidak membunuh siapa pun?”

Ketiga, menegakkan tembok yang hampir roboh (QS. Al-Kahfi: 77). Di sebuah kampung yang penduduknya menolak menjamu mereka, Khidir masih menegakkan tembok milik dua anak yatim yang hampir roboh. Musa berkata, “Kalau engkau mau, niscaya engkau dapat meminta upah untuk itu.” Kali ini Musa protes karena Khidir bekerja cuma-cuma di tempat yang bahkan tidak mau menghormati tamu.

Setelah tiga kali, Khidir pun berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan engkau” (QS. Al-Kahfi: 78) — lalu menjelaskan apa yang selama ini tidak terlihat oleh mata Musa.

Hikmah di Balik Tiga Peristiwa

Penjelasan Khidir ada di QS. Al-Kahfi: 79–82. Perahu yang dilubangi itu milik orang-orang miskin yang bekerja di laut — di depan mereka ada raja yang merampas setiap perahu yang masih bagus. Melubanginya justru menyelamatkan perahu itu dari perampasan.

Anak yang dibunuh itu — kedua orang tuanya orang beriman — dikhawatirkan akan memaksa mereka kufur karena kedurhakaan dan kekufurannya. Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik kesuciannya dan lebih dekat kasih sayangnya.

Tembok itu milik dua anak yatim, dan di bawahnya tersimpan harta untuk mereka. Ayahnya adalah orang saleh, dan Allah menjaga harta itu sampai mereka dewasa. Khidir menutup penjelasannya dengan kalimat yang saya catat tebal: “Aku tidak melakukannya atas kemauanku sendiri” — semua itu adalah rahmat dari Tuhanmu (QS. Al-Kahfi: 82).

Refleksi Saya

Setelah membaca ulang kisah ini, ada tiga hal yang saya bawa.

  • Ilmu itu luas, kesombongan ilmiah itu buta. Musa yang hebat pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Saya jadi lebih hati-hati menghakimi sesuatu hanya berdasarkan yang saya lihat — apalagi menghakimi orang lain padahal saya tidak tahu latar belakangnya.
  • Kesabaran adalah syarat untuk memahami. Khidir bilang Musa tidak akan sanggup bersabar atas sesuatu yang belum diketahuinya. Saya terapkan dengan begini: kalau ada kejadian yang tidak saya mengerti, saya tahan dulu protesnya, cari dulu penjelasannya.
  • Tidak semua yang buruk tampak buruk. Perahu rusak, anak hilang, tembok tegak — semua tampak aneh, padahal semuanya justru menyelamatkan atau menjaga. Ini menguatkan saya bahwa rencana Allah selalu lebih baik dari dugaan saya, walaupun kadang saya baru paham belakangan.

Kisah ini juga mengingatkan saya: ada ilmu yang bisa dipelajari dari guru, dan ada rahasia Allah yang baru terbuka seiring waktu. Tugas saya bukan memaksa semuanya masuk akal hari ini, tapi tetap bersabar sambil terus belajar.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses