Beberapa hari lalu saya iseng lihat history browser sendiri. Ternyata hampir seluruhnya cuma scroll media sosial, nonton video, dan cek harga barang online. Hampir tidak ada satu pun yang berhubungan dengan “belajar”. Kebiasaan ini, jujur saja, sudah berlangsung berminggu-minggu.
Kondisi ini mengingatkan saya pada sebuah hadits yang pernah dibaca sewaktu kecil tapi entah kenapa sering dilupakan saat sudah dewasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”
HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah.
Wajib. Bukan “boleh”, bukan “sunnah”, bukan “kalau ada waktu saja”. Kata ini punya bobot yang sangat berat. Artinya, menuntut ilmu termasuk kewajiban yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak, sama seperti sholat dan puasa.
Lalu ilmu apa yang dimaksud?
Saya pernah salah paham soal ini. Saya kira “menuntut ilmu” itu harus kuliah, atau minimal ikut kajian rutin setiap minggu. Tapi para ulama menjelaskan bahwa yang paling utama dipelajari adalah ilmu yang paling kita butuhkan: ilmu agama dasar.
Bagaimana cara sholat yang benar, bagaimana cara berwudhu yang sah, bacaan apa saja yang perlu dihafal, dan tata cara ibadah sehari-hari. Ilmu-ilmu ini menjadi fondasi. Tanpa fondasi, ibadah kita bisa jadi asal-asalan — dan kita tidak sadar sedang beribadah dengan cara yang keliru.
Allah mengangkat derajat orang yang berilmu
Ada janji yang sangat indah dari Allah dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang berilmu. Allah berfirman:
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
QS. Al-Mujadalah [58]: 11
Saya suka memikirkan ayat ini. “Beberapa derajat” — bukan satu, bukan dua, tapi beberapa. Artinya Allah benar-benar menghargai orang yang berusaha mencari ilmu dengan sungguh-sungguh. Dan derajat ini bukan soal pangkat dunia, melainkan kedudukan di sisi Allah.
Para ulama pewaris para nabi
Rasulullah ﷺ juga pernah menggambarkan betapa mulianya kedudukan para ulama dan orang-orang yang berilmu:
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang banyak.”
HR. At-Tirmidzi no. 2606. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani.
Bayangkan: kita bisa “mewarisi” ilmu para nabi. Bukan harta, bukan tanah, bukan jabatan — tapi ilmu. Ilmu yang tidak habis saat dibagi, justru bertambah ketika diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.
Mulai dari langkah kecil
Jangan terintimidasi dengan kalimat “wajib menuntut ilmu”. Kita tidak harus jadi ulama dalam semalam. Mulai dari yang sederhana:
Pertama, pelajari ilmu dasar yang kita sering sepelekan. Baca buku tentang tata cara sholat atau thaharah. Tidak perlu buku tebal — cukup satu buku kecil yang tepercaya.
Kedua, dengarkan kajian-kajian dari ustadz yang terpercaya. Di era digital ini, materi kajian bisa diakses dari mana saja. Rumaysho.com, muslim.or.id, atau podcast kajian Islam bisa jadi titik awal yang baik.
Ketiga, ajarkan kepada orang lain. Mengajar adalah cara terbaik untuk memperkuat pemahaman. Jika ada yang bertanya dan kita tidak tahu, tidak malu untuk mengatakan “saya tidak tahu, mari kita cari jawabannya bersama.”
Saya sendiri masih jauh dari sempurna dalam hal ini. Tapi setidaknya, sejak menyadari kewajiban ini, saya mulai mencoba menyisihkan waktu 15 menit setiap hari untuk membaca atau mendengarkan kajian. Tidak banyak, tapi konsisten.
Sebab ilmu itu bukan sekadar informasi. Ilmu itu cahaya. Dan cahaya itu yang akan menuntun kita — di dunia maupun di akhirat — kepada jalan yang diridhai Allah ﷻ.
Komentar Terbaru