Belajar Saham Syariah #10: Sukuk Ritel — Imbalan Tetap yang Halal dari Surat Berharga Negara

Ringkasan

Sukuk ritel terbaru SR025, Sukuk Tabungan, dan Sukuk Wakaf Ritel — cara kerja, imbalan nyata, dan cara membelinya.

Isi

Hari ini saya belajar instrumen yang paling dekat dengan “tabungan berimbalan” versi syariah: sukuk ritel. Kalau obligasi konvensional membayar bunga dari utang negara, sukuk berbasis bagi hasil atas aset riil — dan pemerintah Indonesia rutin menerbitkannya untuk investor perorangan.

Paling baru: Sukuk Ritel Seri SR025

Pada 21 Agustus 2026, Kementerian Keuangan membuka masa penawaran Sukuk Ritel seri SR025. Fakta-faktanya yang saya catat:

SeriTenorKuponCatatan
SR025T33 tahun6,80% per tahun (tetap)Minimum pembelian Rp1 juta, maksimum Rp5 miliar
SR025T55 tahun6,90% per tahun (tetap)Maksimum Rp10 miliar

Masa penawaran berlangsung 21 Agustus sampai 16 September 2026, dan seri ini bisa diperdagangkan di pasar sekunder antar investor domestik mulai 11 Oktober 2026. Dua hal yang menurut media pemberitaan menarik: kupon SR025 disebut tertinggi sejak 2020, dan kuponnya tetap (fixed) sampai jatuh tempo.

Yang sering luput dari perhitungan pemula seperti saya: pajak. Kupon sukuk ritel kena PPh final 10%. Setelah pajak, imbalan bersih SR025T3 menjadi sekitar 6,12% dan SR025T5 sekitar 6,21% per tahun. Sebagai ilustrasi perhitungan sederhana: investasi Rp100 juta di tenor 3 tahun diperkirakan menghasilkan imbalan bersih sekitar Rp510.000 per bulan sebelum dikurangi biaya administrasi (kalau dibeli lewat platform tertentu). Angka ini tetap ilustrasi — kupon dan ketentuan bisa berubah untuk seri berikutnya.

Sukuk Tabungan (ST) dan Sukuk Wakaf Ritel (SWR)

Selain SR, pemerintah menerbitkan dua varian lain:

  • Sukuk Tabungan (ST) — tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder, ada fitur pencairan dipercepat, dan imbalannya mengambang dengan lantai (floating with floor). Seri ST015 sebelumnya menawarkan sekitar 5,2% untuk tenor 2 tahun dan 5,45% untuk tenor 4 tahun.
  • Sukuk Wakaf Ritel (SWR) — instrumen wakaf uang; pokoknya dijaga dan tidak boleh dicairkan, yang disalurkan adalah imbalannya untuk program wakaf. Seri SWR007 menawarkan imbalan 6,7% dengan masa penawaran 4 September sampai 21 Oktober 2026, dikelola Badan Wakaf Indonesia.

SWR bagi saya paling unik: tidak menjanjikan pengembalian pokok karena memang wakaf — pokoknya tetap, imbalannya disedekahkan. Ini instrumen ibadah sekaligus investasi, bukan alat mencari untung.

Kenapa sukuk secara konsep berbeda dari obligasi

Perbedaan mendasarnya bukan pada angka kupon, tapi pada konstruksi hukumnya:

AspekSukukObligasi konvensional
DasarBagi hasil atas aset riil / portofolio asetUtang dengan bunga
StrukturSertifikat kepemilikan aset (akad seperti ijarah, mudharabah)Surat utang
RisikoRisiko usaha aset dan risiko gagal bayar penerbitRisiko bunga dan risiko gagal bayar
Pasar sekunderDiperdagangkan setelah masa tertentuDiperdagangkan bebas

Untuk investor ritel, praktisnya keduanya sama-sama memberi imbalan tetap bulanan dengan risiko gagal bayar negara yang sangat rendah (penerbitnya pemerintah RI). Bagi muslim, sukuk adalah pilihan yang jelas karena tidak melibatkan akad ribawi.

Cara membeli

  1. Saat masa penawaran — SR dan ST dijual langsung kepada WNI lewat mitra distribusi resmi: bank, sekuritas, dan platform investasi berizin. Periode penawaran biasanya beberapa minggu; informasinya diumumkan Kemenkeu (DJPPR).
  2. Di pasar sekunder — setelah diperdagangkan (SR025 mulai 11 Okt 2026), saya bisa membeli lewat sekuritas dengan harga yang bisa lebih tinggi atau rendah dari nominal. Kalau harganya di atas 100% nominal, kupon efektif yang saya terima justru lebih rendah dari kupon seri itu — ini yang perlu saya perhatikan.
  3. Minimal — pembelian mulai Rp1 juta, kelipatannya umumnya Rp1 juta. Jangkauannya memang dibuat untuk investor individu.

Ketersediaan seri baru tidak setiap bulan — biasanya beberapa kali setahun dengan seri dan kupon yang berbeda-beda. Situs DJPPR adalah sumber resmi untuk jadwal dan ketentuan tiap seri.

Posisi sukuk dalam portofolio saya

Dalam rencana saya, sukuk menempati lapis “amannah”: imbalan di atas bunga deposito, risiko rendah, dan nilainya tidak goyah setiap hari. Cocok untuk tujuan menengah (2–5 tahun) dan sebagai jangkar portofolio ketika pasar saham sedang bergejolak. Saya tidak menaruh seluruh dana di sini karena imbalannya tetap — daya tumbuhnya kalah dibanding reksa dana saham syariah dalam jangka panjang.

Membaca harga pasar sekunder dengan angka

Konsep yang paling membingungkan saat pertama kali saya pelajari: harga di pasar sekunder bisa bergerak menjauh dari 100 persen nominal, dan itu mengubah imbal hasil yang benar-benar saya terima. Mari saya ilustrasikan. Misalnya saya membeli SR025T3 sebesar Rp10 juta pada harga 102 persen nominal, berarti uang keluar saya Rp10,2 juta. Kupon SR025T3 tetap 6,80 persen, dan kupon itu dihitung dari nilai nominal Rp10 juta — jadi penerimaan per tahun tetap Rp680.000, berapa pun harga beli saya. Imbal hasil kasar saya terhadap uang yang benar-benar saya keluarkan menjadi sekitar 6,67 persen (Rp680.000 dibagi Rp10,2 juta), sedikit lebih rendah dari kupon tertulis.

Sebaliknya, kalau saya membeli pada harga 98 persen, modal keluar Rp9,8 juta dengan kupon yang sama Rp680.000 per tahun — imbal hasil kasar saya justru naik menjadi sekitar 6,94 persen. Pola inilah yang menjelaskan mengapa harga dan imbal hasil selalu bergerak berlawanan arah: harga naik berarti imbal hasil turun, dan sebaliknya.

Kenapa harga bisa naik dan turun

Harga sekunder sukuk, seperti obligasi dan Surat Berharga Negara pada umumnya, paling dipengaruhi oleh perbandingan antara kupon seri yang saya pegang dengan imbal hasil yang sedang berlaku di pasar saat ini. Kalau seri baru terbit dengan kupon lebih tinggi, seri lama dengan kupon lebih rendah jadi kurang menarik — harganya turun agar imbal hasil efektifnya mendekati seri baru. Sebaliknya, kalau imbal hasil pasar turun, seri lama dengan kupon tinggi jadi langka dan harganya naik di atas nominal.

Dari sisi investor ritel, konsekuensinya praktis: kupon tetap yang saya nikmati adalah dua sisi mata uang. Saat imbal hasil pasar turun, saya tetap menerima kupon tinggi dan nilai pasar investasi saya naik — ini keuntungan yang baru terealisasi kalau saya menjual di atas nominal. Tapi kalau imbal hasil pasar naik, nilai pasar seri saya bisa turun di bawah 100 persen. Untuk saya yang berencana memegang sampai jatuh tempo, fluktuasi harga ini tidak mengubah penerimaan kupon — pemerintah tetap membayar kupon sesuai jadwal dan mengembalikan pokok penuh. Untuk saya yang mungkin perlu menjual lebih awal, harga sekunder jadi risiko yang nyata.

Pilihan cepat: SR, ST, atau SWR

Agar keputusan saya tidak berputar-putar, saya merangkum perbandingan ketiganya berdasarkan kebutuhan:

Kebutuhan sayaPilihan yang masuk akalAlasan
Imbalan tetap dan jelas sejak awal, masih bisa dijual kembaliSR (Sukuk Ritel)Kupon tetap, ada pasar sekunder
Imbalan mengambang dengan lantai, berjaga terhadap kebutuhan mendadakST (Sukuk Tabungan)Ada fasilitas pencairan dipercepat, tidak terikat pasar sekunder
Ingin beramal sekaligus menjaga nilai jangka panjangSWR (Sukuk Wakaf Ritel)Pokok dijaga, imbalan disalurkan sebagai wakaf

Catatan saya: pilihan ini tidak saling menggantikan. Dalam satu portofolio, ketiganya bisa berdampingan dengan porsi berbeda sesuai tujuan masing-masing dana. Yang penting saya tidak membeli instrumen yang karakternya bertentangan dengan tujuan — misalnya dana berhorizon pendek ditaruh di SWR yang pokoknya memang tidak dikembalikan.

Hal-hal yang saya siapkan sebelum membeli

  • Akun di mitra distribusi resmi — entah bank, sekuritas, atau platform berizin; perlu identitas yang masih berlaku.
  • Dana dan sumbernya — pembelian mulai Rp1 juta; sebaiknya memang dana yang tidak saya butuhkan dalam waktu dekat.
  • Rencana setelah jatuh tempo — apakah saya meneruskan ke seri berikutnya atau memakai dananya; memutuskan sejak awal membuat saya tidak panik saat seri berakhir.
  • Pemahaman pajak — kupon kena PPh final 10 persen; saya sudah memasukkannya sejak awal perhitungan, bukan kaget saat imbalan masuk lebih kecil dari perkiraan.

Sukuk ritel bagi saya bukan cara cepat mendapatkan untung, tapi cara paling sederhana untuk memperoleh imbalan yang jelas, halal, dan didukung negara.

Ilustrasi saat jatuh tempo tiba

Untuk merasakan akhir masa investasi, saya kembali berhitung dengan angka sederhana. Kalau saya memegang SR025T3 senilai Rp10 juta sampai jatuh tempo tiga tahun, kuponnya 6,80 persen per tahun — sekitar Rp680.000 per tahun atau total sekitar Rp2,04 juta selama tiga tahun sebelum pajak. Setelah dipotong PPh final 10 persen, sisanya sekitar Rp1,84 juta. Pokok Rp10 juta saya kembali utuh pada saat jatuh tempo. Tidak ada harga pasar yang perlu saya perhatikan saat itu, karena saya tidak menjual apa pun — saya hanya menunggu pemerintah memenuhi kewajibannya, lalu memilih: mengakhiri, atau meneruskan ke seri baru yang sedang ditawarkan.

Pilihan meneruskan ke seri berikutnya inilah yang membuat sukuk ritel bisa menjadi kebiasaan jangka panjang. Uang pokok dan imbalan yang sudah terkumpul bisa langsung dialokasikan kembali ke seri berikutnya tanpa proses yang rumit — hanya perlu memastikan seri baru memang sedang dibuka, karena penawaran tidak berjalan terus-menerus.

Disclaimer singkat

Kupon, jadwal, dan ketentuan seri berbeda-beda dan bisa berubah. Angka dalam artikel ini adalah seri yang berlaku saat penulisan (cek tanggal artikel). Selalu verifikasi ke situs resmi Kemenkeu/DJPPR dan mitra distribusi.

Sumber

  • DJPPR Kemenkeu, “Pembukaan Masa Penawaran Sukuk Ritel Seri SR025T3 dan SR025T5”, 21 Agu 2026 — djppr.kemenkeu.go.id
  • DJPPR Kemenkeu, halaman “Sukuk Ritel” — djppr.kemenkeu.go.id/sukukritel
  • Bisnis.com, “Penawaran Buka Hari Ini, Kupon Sukuk Ritel SR025 Ditetapkan 6,80% dan 6,90%”, 21 Agu 2026
  • Bareksa, “SR025 Sudah Bisa Dibeli: Imbal Hasil 6,8% & 6,9% Tertinggi Sejak 2020”, 21 Agu 2026
  • BWI, “Pemerintah Rilis Sukuk Wakaf Ritel SWR007”, 7 Sep 2026 — bwi.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses