Belajar Adab Minum: Sunnah Sehari-hari yang Sering Kita Abaikan

Hari ini saya belajar tentang adab minum dalam Islam. Selama ini saya hanya tahu “baca bismillah sebelum minum” — ternyata ada cukup banyak adab lain yang saya sendiri belum praktikkan. Catatan ini saya rangkum dari beberapa hadits shahih yang membahas tata cara minum menurut Rasulullah ﷺ. Semoga bermanfaat untuk saya pribadi dan siapa saja yang membacanya.

Membaca Bismillah Sebelum Minum

Adab pertama dan paling mendasar: mengucapkan bismillah sebelum mulai minum. Ini berlaku sama seperti sebelum makan. Jika lupa membaca bismillah di awal, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk mengucapkan:

“Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu” — “dengan nama Allah pada awal dan akhirnya” (HR. Abu Dawud no. 3767 dan Tirmidzi no. 1858, dishahihkan Al-Albani).

Syaitan akan menjauhi makanan dan minuman yang dibacakan bismillah sebelum dikonsumsi. Jadi, setiap kali mau minum — entah air putih, teh, atau kopi — ucapkan “bismillah” dulu. Sederhana, tapi bernilai ibadah.

Minum dengan Tangan Kanan, Bukan Kiri

Selain membaca bismillah, Rasulullah ﷺ juga menganjurkan untuk minum dengan tangan kanan. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaklah dia makan dengan tangan kanannya; dan apabila minum, hendaklah minum dengan tangan kanannya. Karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 5233)

Tangan kanan dalam Islam identik dengan kebaikan, sedangkan tangan kiri ditinggalkan untuk keperluan yang kurang bersih. Menggunakan tangan kanan saat minum adalah bentuk simbolis memilih kebaikan dalam setiap tegukan.

Minum Sambil Duduk, Bukan Berdiri

Salah satu adab yang mungkin paling sering kita langgar: minum sambil berdiri. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian minum dengan berdiri; jika lupa hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim)

Perintah “memuntahkannya” ini cukup tegas — menunjukkan betapa pentingnya adab ini di sisi Rasulullah ﷺ. Minum sambil duduk memberikan ketenangan dan menunjukkan sikap tawadhu’ di hadapan Allah. Meskipun ada riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ pernah minum sambil berdiri, para ulama menjelaskan bahwa perkataan beliau lebih didahulukan daripada perbuatan beliau dalam hal ini.

Tiga Tegukan, Bernafas di Luar Gelas

Ini mungkin adab minum yang paling unik: minum secara bertahap dalam tiga tegukan, dengan bernafas di luar gelas di antara tegukan. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian minum, janganlah bernafas di dalam wadah minumannya.” (HR. Muslim no. 5458)

Dalam riwayat lain dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya dengan begini (minum tiga tegukan dengan bernafas di luar) dahaga lebih hilang, lebih sehat, dan lebih enak.” (Muttafaq ‘alaih)

Ternyata minum tiga kali teguk dengan bernafas di luar gelas itu bukan hanya sunnah, tapi juga secara medis membantu tubuh lebih optimal dalam menghidrasi diri. Tidak perlu minum dengan terburu-buru — pelan-pelan saja, sambil menikmati setiap tegukan.

Jangan Meniup Minuman

Saat minuman terlalu panas atau ada serpihan di permukaan, kebiasaan kita adalah meniupnya. Padahal, meniup minuman adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam. Alasannya selain tidak higienis, meniup juga termasuk perbuatan yang tidak disukai Allah karena dianggap sia-sia.

Jika minuman terlalu panas, cukup diamkan saja hingga suhunya turun, atau gunakan wadah lain untuk menuang bolak-balik (dikocok). Lebih sabar, lebih sunnah.

Adab Jika Lalat Jatuh ke Minuman

Pernahkah lalat jatuh ke gelas minuman kita? Kebanyakan orang langsung membuang minumannya. Tapi ternyata Rasulullah ﷺ mengajarkan hal yang berbeda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian jatuhkan ke dalam minumannya seekor lalat, hendaklah ia mencelupkan seluruh tubuh lalat tersebut ke dalam minumannya, kemudian membuangnya. Karena pada salah satu sayap lalat terdapat penyakit, dan pada sayap yang lain terdapat obat.” (HR. Abu Dawud no. 3758, dishahihkan Al-Albani)

Sungguh luar biasa — Allah memberikan obat dan penyakit berdampingan pada makhluk yang sering kita anggap menjijikkan. Cukup celupkan seluruh tubuh lalat ke dalam minuman, lalu buang. Tidak perlu membuang minumannya.

Akhiri dengan Memuji Allah

Setelah selesai minum, ucapkan hamdalah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang menikmati makanan lalu memuji Allah setelahnya, atau meneguk minuman lalu memuji Allah setelahnya.” (HR. Muslim no. 2734)

Bayangkan, hanya karena mengucap hamdalah setelah minum, Allah ridha kepada kita. Masya Allah, begitu murahnya pahala yang Allah sediakan. Cukup ucapkan: “Alhamdulillaah” — segala puji bagi Allah yang telah memberi minuman ini dan merizkikannya tanpa daya dan kekuatan dariku.

Refleksi Saya

Belajar adab minum ini membuat saya sadar: betapa banyak kebiasaan minum saya yang belum sesuai sunnah. Sering minum sambil berdiri, apalagi saat terburu-buru. Kadang meniup minuman panas tanpa pikir panjang. Belum lagi soal lalat — selama ini pasti langsung saya buang minumannya.

Nyatanya, semua adab ini sederhana dan bisa dimulai dari tegukan berikutnya. Minum sambil duduk, baca bismillah, tiga tegukan dengan nafas di luar, akhiri dengan hamdalah — tidak ada yang sulit, hanya perlu dibiasakan. Semoga Allah memberi kita taufik untuk istiqamah mengamalkan sunnah-sunnah kecil ini. Aamiin.

Doa & Dzikir Setelah Shalat Fardhu: Keutamaan dan Manfaatnya

Hari ini saya belajar tentang keutamaan doa dan dzikir setelah shalat fardhu. Ternyata selama ini saya sering sekilas-kilas saja — baca doa pelit, lalu langsung berhenti. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda “Barangkali seorang hamba itu tidak akan diberi ganjaran kecuali karena doa yang dia doakan setelah shalat fardhu.”

Di dalam kajian Ustadz Abdullah Zaen, M.A. (Fiqih Do’a dan Dzikir, Radio Rodja), beliau menjelaskan bahwa doa setelah shalat fardhu adalah momentum emas untuk berkomunikasi langsung dengan Allah. Ia bukan sekadar rutinitas—melainkan cara untuk mengakui kelemahan diri, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dzikir Pagi dan Petang: Kunci Doa yang Diterima

Dzikir pagi dan petang adalah rangkaian doa harian yang disunnahkan. Lengkap dengan teks Arab, Latin, arti, dan keutamaannya. Orang yang konsisten berdzikir pagi dan petang termasuk orang yang dicintai Allah. Berikut ini saya rangkum beberapa doa dan dzikir yang bisa dibaca setelah shalat fardhu.

Doa Setelah Shalat Fardhu

Setelah menyelesaikan shalat fardhu, bacalahlah doa ini:

  • Astaghfirullahal-‘Adhim — “Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Besar (3x)”
  • Allahumma Antas-Salamu Wa Minkan-Nsalam — “Ya Allah, Engkau adalah Yang Maha Damai, dan dari-Mu datangnya segala ketenteraman”
  • Subhanaka Allahumma Wa Bihamdika — “Maha suci Engkau, Ya Allah, dan dengan rahmat-Mu”
  • Darood dan Doa Akhir — “Ya Allah, ampunilah aku dan para manusiapun dan seluruh makhluk-Ni mengelilingi bumi”.

Doa ini membantu kita mengingat kesalahan diri, bersyukur atas nikmat shalat yang baru selesai, dan memohon perlindungan dari dosa.

Manfaat Doa Setelah Shalat Fardhu

Menurut kajian, doa setelah shalat fardhu memberi banyak manfaat:

  • Mendekatkan diri kepada Allah — doa adalah komunikasi langsung dengan Tuhan
  • Mengingatkan diri pada kesalahan — kita diajak merefleksikan kebaikan dan kekurangan dalam shalat
  • Meningkatkan rasa syukur — mengakui nikmat shalat yang baru selesai
  • Mohon ampun dan perlindungan — memohon agar diberi kekuatan menjauh dari dosa

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangkali seorang hamba itu tidak akan diberi ganjaran kecuali karena doa yang dia doakan setelah shalat fardhu.”

Refleksi

Saya belajar bahwa doa setelah shalat fardhu adalah satu-satunya momen yang bisa kita alokasikan setiap hari untuk beristighfar, memohon ampunan, dan berdoa dengan tenang. Jika kita konsisten, insyaAllah akan terbentuk kebiasaan yang erat dengan Rabb kelak.

Marilah kita jadikan doa ini sebagai rutinitas harian. Dzikir pagi dan petang, serta doa setelah setiap shalat — semua bisa jadi jembatan kita kembali kepada-Nya. Semoga doa-doa ini diterima, dan kita diberi kekuatan untuk konsisten berdzikir. Aamiin.

Belajar Adab Makan ala Rasulullah ﷺ

Hari ini saya belajar tentang adab makan dan minum menurut tuntunan Rasulullah ﷺ. Jujur, selama ini saya makan ya langsung makan saja — jarang memperhatikan hal-hal kecil yang ternyata punya nilai ibadah besar di sisi Allah. Catatan ini saya rangkum dari kajian Ustadz Abdullah Zaen tentang adab makan dan minum, kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri tentang adab di awal makan, serta artikel dari muslim.or.id dan Rumaysho.com. Semoga bermanfaat untuk saya pribadi dan siapa pun yang membacanya.

Adab Sebelum Makan: Membaca Bismillah

Pelajaran pertama yang paling membekas: sebelum makan kita dianjurkan membaca bismillah. Dalam hadits dari Umar bin Abi Salamah, Rasulullah ﷺ bersabda kepada beliau yang saat itu masih kecil,

«يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»

“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Subhanallah, dari satu hadits ini saja kita mendapat tiga adab sekaligus: menyebut nama Allah, makan dengan tangan kanan, dan mengambil makanan yang terdekat. Kalau lupa membaca bismillah di awal, Nabi ﷺ mengajarkan untuk mengucapkan “Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu” (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya) — HR. Abu Dawud no. 3767 dan Tirmidzi no. 1858, dishahihkan Syaikh Al-Albani.

Kenapa bismillah ini penting sekali? Karena dalam hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa “setan menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah padanya” (HR. Muslim no. 2017). Bahkan ada kisahnya: suatu ketika ada anak kecil dan seorang Arab Badui yang tangannya ditahan oleh Nabi ﷺ saat mau mengambil makanan, karena keduanya tidak membaca bismillah — dan ternyata setan ikut serta bersama mereka untuk menikmati makanan itu. Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dalam kajian “Adab di Awal Makan” mengingatkan hal yang sama: awal makan yang benar adalah dengan menyebut nama Allah, supaya setan tidak ikut serta.

Adab Saat Makan: Tangan Kanan dan Tidak Mencela Makanan

Selain makan dengan tangan kanan, ada satu adab yang dulu jarang saya sadari: jangan menjelek-jelekkan makanan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

“Tidaklah Nabi ﷺ mencela suatu makanan sedikit pun. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya; jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, ini adalah adab yang baik kepada Allah — karena kalau kita menjelek-jelekkan makanan, seolah-olah kita menolak rizki yang Allah berikan. Syaikh Utsaimin juga mengingatkan bahwa makanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri, bukan dicela. Kalau memang tidak suka, cukup tinggalkan saja tanpa komentar negatif. Yang menarik, Nabi ﷺ juga pernah memuji makanan sederhana: beliau bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka” (HR. Muslim no. 2052). Beliau tidak meminta yang mewah-mewah, lauk cuka pun dipuji dan disantap dengan senang hati.

Ada juga sunnah yang mungkin jarang kita lakukan: menjilat sisa makanan di jari setelah makan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian makan, janganlah ia mengusap tangannya sebelum ia menjilatnya atau dijilatkan kepada orang lain.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031). Alasannya, kita tidak tahu di bagian makanan mana letak keberkahan itu berada. Makan dengan tiga jari juga termasuk sunnah dan menunjukkan sikap tawadhu’.

Adab Setelah Makan: Memuji Allah

Ternyata selesai makan pun ada adabnya, yaitu memuji Allah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang menikmati makanan lalu memuji Allah setelahnya, atau meneguk minuman lalu memuji Allah setelahnya.” (HR. Muslim no. 2734)

Bayangkan, hanya karena mengucap hamdalah setelah makan, Allah ridha kepada kita. Masya Allah, begitu murahnya pahala yang Allah sediakan. Salah satu doa yang bisa dibaca setelah makan: “Alhamdulillaahil ladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa muslimiin” — “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, dan menjadikan kami orang-orang muslim” (HR. Abu Dawud no. 3850).

Yang paling berkesan buat saya dari belajar hari ini: makan itu ternyata bukan sekadar mengisi perut, tapi bisa menjadi ibadah yang berpahala jika dilakukan dengan adab. Mulai dari bismillah, makan pakai tangan kanan, tidak mencela makanan, sampai memuji Allah setelahnya — semuanya sederhana, tapi kalau dibiasakan insya Allah hidup kita jadi lebih berkah. Semoga Allah memberi kita taufik untuk istiqamah mengamalkan sunnah-sunnah kecil ini. Aamiin.