Hari ini saya belajar tentang adab makan. Jujur, selama ini saya mengira makan itu urusan “teknis” saja — yang penting kenyang dan enak. Ternyata anggapan saya salah. Dalam Islam, cara kita makan bisa menjadi ibadah yang bernilai pahala, bahkan bisa mendatangkan keberkahan. Catatan ini saya rangkum dari kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri tentang adab di awal makan, kajian Ustadz Abdullah Zaen tentang adab makan dan minum, serta artikel Rumaysho tentang adab makan yang penuh barokah. Saya tulis di sini poin-poin yang paling berkesan buat saya.
Kenapa adab makan itu penting?
Alasannya sederhana: makan adalah kebutuhan yang kita lakukan setiap hari, bahkan berkali-kali dalam sehari. Kalau setiap kali makan kita melakukannya dengan cara yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, otomatis kita mengumpulkan pahala tanpa harus menambah aktivitas apa pun. Sebaliknya, kalau kita makan seenaknya, setan pun ikut “makan” bersama kita. Dari Hudzaifah, Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah padanya” (HR. Muslim no. 2017). Na’udzubillah, saya tidak mau makanan saya dimakan setan, jadi poin ini langsung saya catat baik-baik.
Selain itu, makanan yang kita konsumsi akan menjadi darah, daging, dan energi yang menentukan kualitas ibadah kita sehari-hari. Jika makanan kita baik dan halal, insya Allah ibadah kita pun akan lebih optimal. Sebaliknya, makanan yang haram akan menjadi penghalang antara kita dan doa kita. Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Muslim no. 1015). Hadits ini mengingatkan saya bahwa kualitas makanan dan cara makan sama-sama penting.
Adab-adab makan yang saya catat
1. Membaca bismillah sebelum makan
Pertama, membaca bismillah sebelum makan. Ini adab paling utama di awal makan, sebagaimana judul kajian Ustadz Nuzul Dzikri. Nabi ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan, maka ucapkanlah bismillah. Jika lupa menyebut nama Allah di awal makan, hendaklah ia mengucapkan: Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu — ‘dengan nama Allah pada awal dan akhirnya'” (HR. Abu Dawud no. 3767, dishahihkan oleh Al-Albani). Sunnah yang sederhana ini sering saya lupa, padahal hanya satu kalimat. Maka saya mulai menempelkan catatan kecil di meja makan sebagai pengingat.
2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
Sunnah lain yang sering terlewat adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Nabi ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia mencuci tangannya sebelum makan” (HR. Abu Dawud no. 3830). Membersihkan tangan bukan hanya soal higienitas — itu adalah bentuk penghormatan terhadap nikmat Allah yang akan kita terima. Di era modern ini, sabun dan air mengalir mudah didapatkan, jadi tidak ada alasan untuk melewati sunnah ini.
3. Makan dengan tangan kanan
Kedua, makan dengan tangan kanan. Nabi ﷺ bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan jika minum, minumlah dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kirinya pula” (HR. Muslim no. 2020). Saya baru sadar, ternyata sering sekali saya makan pakai tangan kiri tanpa sadar — mulai sekarang harus pelan-pelan dibiasakan.
4. Makan dari yang ada di hadapan, tidak mengambil yang terbaik
Ketiga, makan dari yang ada di hadapan kita, bukan mengambil bagian orang lain. Ini nasihat Nabi ﷺ kepada Umar bin Abi Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di hadapanmu” (HR. Bukhari no. 5376). Keempat, kalau makan bersama dalam satu wadah, ambil dari pinggir, bukan dari tengah, karena barokah itu turun di tengah-tengah makanan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila makanan diturunkan dalam satu nampan, janganlah kalian mengambilnya dari tengah-tengahnya, tetapi ambillah dari pinggirnya” (HR. Ibnu Majah no. 3276, hasan). Adab ini mengajarkan kita untuk tidak egois — makan bersama berarti saling menghargai.
5. Tidak bersendawa keras
Adab lain yang perlu saya perhatikan adalah tidak bersendawa dengan keras. Bersendawa memang reaksi alami dari perut, tetapi mengendalikannya adalah bagian dari tata krama makan. Dalam sebuah riwayat, Nabi ﷺ bersabda: “Aku dilarang dari tiga hal: menggonggong, bersendawa, dan beriwak” — yang dimaksud dengan bersendawa di sini adalah yang keras dan berlebihan (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubra, dishahihkan Al-Albani). Makan dengan tenang dan tidak terburu-buru juga membantu mengurangi sendawa berlebihan.
6. Jangan mencela makanan
Kelima, jangan mencela makanan. Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali; kalau beliau menyukainya, beliau memakannya, dan kalau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya begitu saja (HR. Bukhari no. 5409). Saya pribadi sering tergoda untuk mengomentari masakan orang — ternyata itu termasuk mencela nikmat yang Allah berikan. Mulai sekarang, kalau tidak suka, cukup diam dan tidak makan — tanpa perlu mengucapkan apa pun yang menyakitkan bagi yang memasak.
Doa sebelum dan sesudah makan
Selain adab makan, doa sebelum dan sesudah makan juga tidak kalah pentingnya. Doa sebelum makan yang paling utama adalah membaca bismillah, namun ada doa khusus untuk makanan yang disajikan: Allaahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban-naar — “Ya Allah, berkahilah makanan yang Engkau rizkikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa neraka” (HR. Ibnu Majah no. 3320, shahih). Doa ini singkat, mudah dihafal, dan mengandung permohonan keberkahan sekaligus perlindungan.
Adapun doa sesudah makan, telah saya sebutkan di atas: Alhamdulillaahilladzii ath’amani haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwah — “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan merizkikannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan). Barangsiapa membacanya, diampuni dosanya yang telah lalu. Ada juga lafadz lain: Alhamdulillaahilladzii ath’amanaa wa saqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin — “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami dan menjadikan kami dari golongan kaum muslimin.” Dari kedua doa ini, saya belajar bahwa selesai makan pun harus diakhiri dengan syukur — bukan sekadar berdiri dari meja dan pergi.
Makanan halal versus thoyyib
Ada satu hal yang sering saya abaikan: makanan yang kita makan harusnya bukan hanya halal, tapi juga thoyyib. Allah berfirman: “Wahai manusia, makanlah yang halal dan thoyyib dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah: 168). Ayat ini mengingatkan saya bahwa halal saja tidak cukup — makanan juga harus baik, bersih, dan bermanfaat bagi tubuh. Halal soal hukum asal makanan, thoyyib soal kualitas dan kebermanfaatannya.
Menghargai makanan, tidak menyia-nyiakan
Islam sangat menekankan agar kita tidak menyia-nyiakan makanan. Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah kalian bersendawa, karena sesungguhnya orang yang bersendawa itu dipenuhi oleh setan di rumahnya” (HR. At-Tirmidzi no. 1029). Lebih dari itu, membazir makanan termasuk perbuatan yang dibenci Allah. Di tengah dunia yang masih banyak kelaparan, menyisihkan makanan menjadi perbuatan terpuji. Saya teringat pesan orang tua: “Makanlah secukupnya, sisakan untuk yang lain.” Ternyata itu bukan sekadar nasihat ekonomi — itu juga adab yang selaras dengan ajaran Rasulullah ﷺ. Jika ada sisa makanan, sebaiknya dibagikan kepada tetangga atau orang yang membutuhkan, bukan dibuang ke tempat sampah begitu saja.
Makanan dan kesehatan: makan sebelum kenyang
Menariknya, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan prinsip kesehatan dalam makan. Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda: “Isi perut dengan makanan (berat), sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara” (HR. Tirmidzi no. 2380, hasan). Prinsip sepertiga ini sangat relevan dengan ilmu gizi modern. Kita dianjurkan untuk tidak makan berlebihan — makan sebelum kenyang, bukan makan sampai kekenyangan. Hal ini juga diperkuat oleh riwayat dari Anas bin Malik bahwa Nabi ﷺ tidak pernah makan berlebihan (HR. Tirmidzi no. 2480). Tubuh yang sehat memungkinkan kita untuk beribadah dengan lebih optimal.
Adab makan berjamaah
Makan bersama dalam satu wadah atau satu meja memiliki keutamaan tersendiri. Dari Jabir bin Abdullah, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa makan dari satu nampan bersama-sama, maka akan diberkahi makanan tersebut” (HR. Ad-Darimi, dishahihkan Al-Albani). Ketika saya makan bersama keluarga, saya sering melihat si kecil mengambil bagian ayam paling besar — dan saya tersenyum karena itu juga mengingatkan diri sendiri untuk tidak melakukan hal yang sama. Adab makan berjamaah menuntut kita untuk tidak mengambil yang terbaik untuk diri sendiri, melainkan berbagi dengan adil. Inilah sejatinya makan bersama: bukan hanya soal kenyang, tapi soal kasih sayang dan kepedulian satu sama lain.
Makan di era modern: fast food, meal prep, dan eating clean
Kita hidup di zaman di mana makanan cepat saji (fast food) menjadi pilihan yang paling praktis. Sering kali kita tidak sempat membaca bismillah karena buru-buru, atau makan sambil menyetir mobil. Tren meal prep — menyiapkan makanan dalam porsi-porsi kecil untuk beberapa hari ke depan — bisa menjadi solusi untuk kita yang sibuk. Dengan meal prep, kita bisa memastikan makanan yang kita konsumsi halal, thoyyib, dan sesuai porsi yang disyariatkan. Konsep eating clean atau makan bersih juga sangat selaras dengan ajaran Islam: mengonsumsi makanan yang alami, minim proses, dan tidak berlebihan. Rasulullah ﷺ sendiri adalah contoh terbaik dalam hal ini — beliau memilih makanan sederhana, tidak berlebihan, dan selalu memastikan kehalalannya.
Refleksi saya
Belajar hal ini membuat saya malu sekaligus bersemangat. Malu, karena selama ini banyak yang belum saya lakukan — sering lupa bismillah, kadang mencela masakan orang, bahkan makan sambil main HP. Bersemangat, karena perbaikannya ternyata sederhana dan bisa dimulai dari makan berikutnya. Tidak perlu langsung sempurna, yang penting pelan-pelan dan istiqomah.
Ada pengalaman pribadi yang ingin saya bagi. Beberapa minggu lalu, saya mulai mencoba membiasakan diri membaca bismillah dengan benar — tidak sekadar lirih, tapi benar-benar mengucapkannya dengan sadar. Hasilnya? Makanan terasa lebih bermakna. Mungkin itu efek psikologis, mungkin juga itu memang berkah dari kebiasaan kecil yang kita lakukan dengan penuh kesadaran. Yang pasti, saya merasakan perbedaan. Mulai dari itu, saya juga mulai mencoba makan dengan tangan kanan secara konsisten. Awalnya canggung, tapi sekarang sudah terbiasa. Siapa sangka adab-adab kecil ini ternyata membawa perubahan besar dalam cara saya menikmati makanan.
Semoga catatan kecil ini bermanfaat, dan semoga kita semua dimudahkan untuk mengamalkan sunnah-sunnah kecil ini. Kalau nanti saya dapat ilmu baru lagi, insya Allah saya catat lagi di sini.
- Sumber: Kajian “Adab di Awal Makan” — Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc. (Kajian.net) — soundcloud.com/kajiannet
- Kajian “Adab Makan dan Minum (Bagian 1 & 2)” — Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA. (Yufid TV) — yufid.tv (Bagian 1) · yufid.tv (Bagian 2)
- Artikel “Adab Makan Penuh Barokah (1) & (2)” — Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.com) — rumaysho.com (Bagian 1) · rumaysho.com (Bagian 2)
Komentar Terbaru