Lisan yang Bisa Menjerat: Belajar Menjaga Mulut dari Ghibah

Jujur saja, saya sering lupa bahwa lisan itu punya “tulisan”. Maksudnya, setiap kata yang keluar dari mulut kita itu seolah tertulis — dan suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawabannya. Baru-baru ini saya membaca sebuah ayat yang langsung bikin hati gatal: tentang ghibah.

Ghibah atau menggunjing mungkin terasa seperti hal biasa dalam keseharian. Ngobrolin tetangga yang baru pindah rumah, membahas teman kantor yang dianggap kurang kompeten, atau sekadar “update” soal kehidupan orang lain yang bahkan tidak pernah kita tahu ujung-pangkalnya. Tapi ternyata, Islam menempatkan ghibah di level yang sangat serius.

Ayat yang Bikin Merinding

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 12:

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?

QS. Al-Hujurat (49):12 — terjemahan Kemenag RI

Baca ulang pelan-pelan. Bayangkan: memakan daging saudara sendiri yang sudah meninggal. Rasanya mual diceritakan, apalagi dilakukan. Tapi itulah perumpamaan Allah untuk ghibah. Mencelakakan, menjijikkan, dan tidak memberi manfaat apa pun — selain nafsu sesaat si pelaku.

Apa Sih Sebenarnya Ghibah Itu?

Suatu hari sahabat Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa itu ghibah. Beliau menjawab:

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci.” Mereka bertanya, “Bagaimana jika apa yang saya sebutkan itu memang benar ada pada dirinya?” Beliau menjawab, “Kalau memang itu ada pada dirinya, berarti kamu telah menggunjingnya. Jika tidak ada, berarti kamu telah berdusta atas nama saudaramu.”

HR. Muslim no. 2589

Perhatikan: Islam tidak membedakan antara menggunjing yang benar atau yang bohong. Kalau benar — itu ghibah. Kalau bohong — itu dusta dan fitnah. Dua-duanya dosa. Jadi alasan “kan emang bener kok” itu bukan pembenaran, malah memperparah keadaan.

Jenis-Jenis Ghibah yang Sering Kita Lewatkan

Yang paling jelas tentu ghibah langsung — menyebut nama orang, menceritakan kekurangan di hadapan orang lain secara terang-terangan. Tapi ada juga ghibah yang lebih halus dan sering kita lakukan tanpa sadar.

Pertama, ghibah tidak langsung. Misalnya, kita tidak menyebut nama tapi memberikan ciri khas yang membuat pendengar langsung tahu siapa yang dibicarakan. “Tau nggak, temen satu kantor saya yang sering pakai jam tangan itu lho…” Sama saja. Beda cuma di penyebutan nama, tapi makna dan dampaknya serupa.

Kedua, sindiran. Ghibah dalam bentuk humor. Kita tertawa bareng soal kekurangan seseorang, lalu bilang “eh cuma bercanda kok.” Padahal yang dibicarakan tetap tersakiti. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang bahaya menyindir:

“Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling menggunjing. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim membenci saudaranya lebih dari tiga hari.”

HR. Bukhari no. 6065 & Muslim no. 2564

Ketiga, ghibah lewat emoji, likes, atau reaksi di media sosial. Era digital membawa ghibah ke bentuk yang bahkan tidak memerlukan kata-kata. Mengirim screenshot chat seseorang ke grup, memberi like pada komentar yang merendahkan, atau membalas dengan emoji tertentu yang bermakna merendahkan — semuanya bisa masuk kategori ghibah. Jari kita pun ikut bertanggung jawab.

Dampak Ghibah: Lebih dari Sekadar Luka Hati

Ghibah bukan sekadar dosa kecil yang bisa dimaafkan begitu saja. Dampaknya berlapis dan serius.

Pertama, dosa besar. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Para hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman pada diri-Ku dan Aku telah mengharamkannya di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”

HR. Muslim no. 2577

Ghibah termasuk bentuk kezaliman — karena mengambil hak seseorang atas kehormatan dan nama baiknya tanpa izin.

Kedua, memecah persaudaraan. Islam membangun ukhuwah di atas saling menjaga, bukan saling membongkar. Ketika satu orang mulai menggunjing, yang lain ikut-ikutan. Timbul prasangka, jarak bertambah, dan akhirnya saudara yang seharusnya saling mencintai justru saling menjauh.

Ketiga, menciptakan budaya kebencian. Di lingkungan rumah atau komunitas, satu kalimat ghibah bisa memantik rentetan prasangka yang akhirnya menjadi polarisasi. Orang yang tadinya baik-baik saja jadi saling curiga hanya karena “katanya” seseorang pernah bilang begini dan begitu.

Ghibah di Era Digital: Jari Kecil, Dosa Besar

Jika di zaman Rasulullah ghibah terjadi di majelis dan pasar, hari ini ghibah punya ladang baru: media sosial, WhatsApp group, dan forum daring. Satu screenshot chat yang dikirim ke grup bisa menghancurkan reputasi seseorang dalam hitungan menit. Satu komentar “review” tentang teman atau kerabat bisa menyebar ke ratusan orang.

Bahkan ada istilah “review online” yang terkesan netral — misalnya menulis tentang pengalaman buruk dengan seseorang tanpa menyebut nama, tapi memberikan detail yang cukup untuk identifikasi. Dalam konteks ini, niatnya mungkin berbagi pengalaman, tapi dampaknya tetap ghibah.

Saya pernah memperhatikan, di beberapa WhatsApp group kantor, ada kebiasaan “mengkritik” rekan kerja yang tidak hadir — mulai dari cara kerja, sikap, sampai penampilan. Semuanya terasa ringan karena dilakukan dengan nada bercanda. Tapi sadar atau tidak, itu tetap ghibah — dan Allah tidak melihat nada bicara kita, melainkan isi hati kita.

Berkata Baik atau Diam

Sayangnya, banyak dari kita — termasuk saya — tidak menyadari bahwa di mulut kita tergantung dua pilihan: surga atau neraka. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.”

HR. Bukhari no. 6018 & Muslim no. 47

Sederhana sekali, kan? Berkata baik atau diam. Tapi mengapa ini jadi salah satu hal tersulit? Karena diam itu terasa “kurang puas”. Ada godaan untuk menambahkan komentar, memberi opini yang tidak diminta, atau sekadar berbagi “informasi” yang sebetulnya tidak perlu disampaikan.

Cara Menjaga Lisan: Langkah Praktis yang Bisa Dimulai Hari Ini

Selain tiga pertanyaan yang sudah saya sebutkan sebelumnya — benar, baik, dan berhak — ada beberapa cara lain yang coba saya terapkan dalam keseharian.

Berpikir sebelum bicara. Terdengar sederhana, tapi ini kunci. Sebelum mengeluarkan kata-kata tentang orang lain, saya coba tahan sedikit dan bertanya: “Apakah saya benar-benar perlu mengatakan ini?” Sering kali jawabannya adalah tidak. Dan diam di momen itu justru menyelamatkan kita dari dosa yang tidak perlu.

Mengalihkan pembicaraan. Ketika di majelis atau grup obrolan arahnya mulai ke ghibah, coba arahkan ke topik lain. Tidak harus frontal menegur — cukup dengan membawa obrolan ke arah yang lebih positif. “Eh btw, ada yang tahu cara memperbaiki…” Kadang satu kalimat pengalih sudah cukup untuk memutus rantai ghibah.

Mengingat bahwa yang dibicarakan juga punya perasaan. Ini yang paling susah tapi paling efektif. Saya coba bayangkan: bagaimana rasanya jika apa yang saya katakan tentang orang lain itu justru tentang saya? Apa saya masih mau mengatakannya?

Doa Perlindungan Lisan

Ada satu doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan dan saya coba baca setiap hari:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِسَانِي وَصْلِحْ قَلْبِي

“Allahumma ahsin lisanii wa sallih qalbii”

Ya Allah, perbaikilah lisanku dan perbaikilah hatiku.

HR. Ibnu Hibban no. 2526 & Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad

Doa ini mengingatkan saya bahwa menjaga lisan bukan sekadar urusan kemampuan, tapi juga urusan hati. Ketika hati sudah bersih, lisan ikut bersih. Ketika hati masih penuh prasangka dan dengki, mulut akan dengan mudah mengeluarkan yang tidak-tidak.

Taubat dari Ghibah: Bisa Dimulai dari Mana?

Jika kita menyadari sudah pernah melakukan ghibah — dan jujur saja, siapa yang belum? — maka langkah pertama adalah taubat nasuha: menyesali perbuatan, berniat tidak mengulangi, dan memperbaiki diri ke depannya.

Kepada Allah: Minta ampun dengan sungguh-sungguh. Ghibah itu dosa terhadap manusia, tapi dimulai dari pelanggaran terhadap larangan Allah. Jadi, bertobatlah kepada-Nya terlebih dahulu.

Kepada yang dighibahi: Jika mungkin dan masih ada jalannya, minta maaf langsung kepada orang yang pernah kita gunjing. Ini tidak selalu mudah, tapi sangat menenangkan hati. Jika sudah tidak mungkin — misalnya orangnya sudah meninggal atau sudah jauh — kita bisa mendoakannya dan bersedekah atas namanya sebagai ganti.

Memperbaiki kebiasaan: Taubat tidak lengkap tanpa perubahan perilaku. Mulai dari sekarang, jaga lisan. Jika pernah menyebarkan ghibah lewat chat atau media sosial, hapus. Jika ada yang terpengaruh, luruskan. Semua ini bagian dari taubat yang utuh.

Catatan Pribadi: Belajar dari Pengalaman Sendiri

Jujur, menulis tentang ghibah ini sekaligus mengingatkan saya pada kebiasaan lama yang masih susah hilang — terutama saat berkumpul dengan teman-teman lama. Ada semacam “ritual” yang namanya saling meng-update tentang orang-orang yang sudah jarang ketemu, dan tanpa sadar, obrolan itu sering berubah jadi ghibah.

Yang saya pelajari: menjaga lisan bukan berarti jadi orang yang kaku atau membosankan. Bisa tetap asyik bercanda, tetap seru ngobrol, tapi tanpa merendahkan orang lain. Ada perbedaan antara humor yang mengangkat dan humor yang menjatuhkan. Dan saya terus belajar untuk bisa membedakan keduanya.

Saya juga belajar bahwa diam bukan berarti setuju. Ketika ada teman yang mulai mengarah ke ghibah, saya tidak harus ikut. Cukup diam, dengarkan, dan kalau sudah kelewatan — tegur dengan lembut atau alihkan pembicaraan. Awalnya memang tidak nyaman. Tapi seiring waktu, teman-teman mulai terbiasa dan justru menghargai sikap itu.

Semoga kita semua dijauhkan dari ghibah. Bukan karena kita orang suci, tapi karena kita sedang belajar. Dan belajar itu memang butuh waktu, kesabaran, dan tentu — kejujuran pada diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses