Postingan sebelumnya kita berhenti pada satu kesimpulan: cara kita memandang pernikahan menentukan segalanya — nikah adalah ibadah, dan di dalamnya Allah menaruh aswaj serta sakinah. Ketika persepsi sudah dibetulkan, pertanyaan berikutnya muncul dengan sendirinya: kalau begitu, mulai dari mana? Dua episode Ngaji Jomblo kali ini menjawab pertanyaan itu, dan jawabannya cukup jelas bagi saya: kita tidak bisa memulai perjalanan menuju pernikahan yang diridai Allah dengan cara-cara yang tidak diridai Allah. Sebelum memikirkan taaruf, khitbah, atau biaya, ada satu langkah yang harus dibereskan lebih dulu — hijrah. Ini catatan belajar saya dari episode “Bersiap Memulai Menikah” dan “Menikah Karena Allah atau Modus Pacaran Syariah”.
Hijrah dimulai dari menyadari kesalahan
Ustadz Felix membuka dengan kisah pribadinya. Tahun 2002, semester tiga, beliau masuk Islam saat kuliah di Bogor, sementara pacarnya kuliah di Jakarta. Yang berubah paling besar bukan perilaku, melainkan persepsi — cara melihat, cara menilai, dan urutan kepentingan dalam hidup. Dalam bahasa agama, persepsi itu bernama akidah. Sejak itulah pacaran yang dulu terasa nikmat, romantis, dan perlu, berubah menjadi sesuatu yang terasa salah. Bukan berarti perasaan hilang — beliau mengaku masih ada rasa berdebar saat bertemu — tetapi ada bagian dalam diri yang melawan: di Bogor berusaha menjadi orang saleh, di Jakarta bermaksiat. Sampai pada satu titik, beliau berkata kepada pacarnya: kita putus. Alasannya tegas: kalau kamu sayang kepada saya, kamu tidak akan mau saya dibakar api neraka. Dan karena saya sayang kepadamu, saya pun tidak mau kamu dibakar api neraka.
Bagi saya, bagian penting dari kisah ini adalah titik mulainya. Awal perubahan bukan menambah amalan, melainkan mengakui kesalahan. Ustadz Felix mengingatkan bahwa dalam syahadat pun, sebelum mengakui Allah, kita mengingkari lebih dulu apa yang salah. Menyadari bahwa pacaran bukan jalan menuju pernikahan yang kita inginkan adalah langkah pertama. Beliau tidak memungkiri bahwa langkah ini sulit — butuh keberanian dan pertimbangan. Tetapi yang jelas: orang yang sudah tahu pasti arah tujuannya tidak akan memilih jalan yang salah.
Pacaran: jalan orang yang tidak serius
Untuk menjelaskan mengapa pacaran bukan jalan, Ustadz Felix memakai perumpamaan. Orang di Jakarta yang ingin ke Bandung tetapi berjalan ke arah Banten jelas tidak serius. Orang yang ingin ke Turki tetapi menyiapkan becak, bukannya tiket pesawat, juga tidak serius. Begitu pula orang yang mengaku ingin menikah karena Allah, tetapi jalannya pacaran. Kalau gambaran pernikahan sudah jelas — ibadah kepada Allah yang kelak diukur — maka kita akan menempuh jalan yang Allah tunjukkan. Pacaran, kata beliau, adalah metode yang diciptakan untuk orang-orang yang tidak serius: ingin mendapat kenikmatan, tetapi tidak mau komitmennya. Orang yang siap dengan komitmennya langsung menikah.
Ada alasan yang lebih mendasar: kita tidak bisa memulai sesuatu yang Allah ridai dengan sesuatu yang Allah benci. Beliau menganalogikannya dengan membuat kopi — cangkirnya harus bersih dulu, karena kopi yang enak tidak akan lahir dari cangkir kotor. Bagaimana mungkin keberkahan yang dalam bahasa Arab disebut ziyadatul khayr, tambahan kebaikan dari Allah, turun pada pernikahan yang dimulai dari kemaksiatan? Kalau niatnya memang menikah karena Allah, mulainya pun harus dari hal-hal yang syar’i.
Halwat: berdua-duaan yang dilarang
Episode ketujuh menjelaskan batas yang sebenarnya: hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Rasulullah bersabda — sebagaimana dikutip Ustadz Felix — bahwa tidaklah seorang lelaki berhalwat dengan perempuan yang bukan mahramnya, kecuali setan menjadi yang ketiga di antara keduanya. Karena itu dalam Islam, kehidupan laki-laki dan perempuan non-mahram dipisahkan. Ustadz Felix lalu memaknai halwat secara praktis: berdua-duaan di satu ruang — ruang nyata atau ruang maya — di mana ketika ada orang lain yang hendak masuk ke dalam forum itu, ia merasa tidak nyaman dan merasa harus meminta izin. Bahkan pasangan muda yang berdua-duaan di pojok angkot sampai penumpang lain sungkan pun, kata beliau, sudah termasuk halwat.
Dari definisi itu, pacaran jelas masuk dalam halwat — bahkan beliau menyebutnya halwat yang paling parah, karena bukan sekadar berdua-duaan lagi melainkan sudah melampaui batas. Ustadz Felix juga mengingatkan dengan jujur: tidak semua pacaran berakhir dengan kehamilan atau kecelakaan, tetapi kebanyakan kecelakaan berawal dari pacaran — karena itulah jalannya. Soal chat dan DM yang sering dianggap aman, beliau memberi batas yang masuk akal: komunikasi yang ada keperluannya — urusan jual beli, endorse, dan semacamnya — tidak masalah. Yang dilarang adalah modus: tidak ada keperluan, tetapi sengaja berbincang pribadi berdua sampai larut. Dan ketika ada yang beralasan “masa mau putus, nanti putus silaturahmi”, beliau menjawab tegas: tidak ada silaturahmi dalam maksiat. Hubungan yang salah sejak awal tidak bisa dipertahankan dengan dalih yang terlihat baik.
Galau itu soal trigger: putus, bersihkan, ganti
Setelah memutuskan berhenti, pasti ada galau. Ustadz Felix mengaku mengalaminya juga — namanya juga manusia. Kuncinya, kata beliau: galau muncul karena ada pemicu (trigger). Hilangkan pemicunya, galau tidak muncul. Pemicu bisa berupa benda: foto, rekaman, nomor telepon, buku, atau boneka pemberiannya — kembalikan atau singkirkan. Di zaman sekarang, pemicu yang paling sering adalah media sosial: unfollow, jangan stalking. Beliau tegas — stalking tidak ada gunanya: tidak mendekatkan dia kepada kita, juga tidak mempersiapkan diri kita. Yang didapat hanya potensi-potensi maksiat.
Yang lebih sulit adalah pemicu yang berupa ingatan. Solusinya: jangan menonton film romantis, film tentang percintaan, atau film pernikahan; kalau ada teman yang mulai membicarakan soal mantan, alihkan pembicaraan. Dan yang paling penting: sediakan pengganti (replacement). Olahraga, dakwah, kajian. Ustadz Felix menceritakan bahwa penggantinya saat itu adalah kajian — mengenal Allah, membaca sirah Rasulullah, belajar dakwah. Kebiasaan bisa diganti dengan kebiasaan lain; memang tidak mudah dan butuh perjuangan, tetapi lambat laun kita akan lebih senang dengan dakwah daripada dengan mantan.
Ganti dengan kajian yang sistematis
Setelah bersih dari trigger, langkah berikutnya adalah mengkaji Islam secara sistematis. Alasannya sederhana: Islam bukan kumpulan aturan yang dibuka hanya saat Ramadan, saat ada yang disunat, saat tahlilan, atau saat mau menikah. Islam adalah sistem kehidupan yang lengkap dari A sampai Z — dari perkara sekecil masuk kamar mandi hingga urusan bernegara, ekonomi, politik, budaya, dan tentu saja pernikahan. Ketika kita mempelajari keseluruhan sistem itu, sebenarnya kita sedang membentuk kehidupan yang ideal. Memahami Islam hanya saat butuh, kata beliau, ibarat baru ingat agama ketika kemasukan setan.
Ketika kajiannya sistematis, kita akan punya guru — murabbi atau murabbiah, musyrif atau musyrifah, ustaz atau ustazah. Sebagaimana para sahabat mengkaji Islam dalam kelompok-kelompok, kita pun akan memiliki pembina yang lebih berilmu dan lebih mengingat Allah daripada kita. Orang inilah yang nanti berperan besar ketika kita mulai menentukan siapa calon pendamping hidup. Ustadz Felix menyarankan untuk berjamaah sejak awal: dengan berjamaah kita punya waktu untuk mendalami agama, dan kematangan wawasan keislaman akan menentukan kematangan emosi — sesuatu yang sangat penting di dalam pernikahan.
Dibina dulu, baru dibini
Di masa kampusnya, Ustadz Felix sering mendengar slogan: mau memilih yang sudah dibina baru dibini, atau yang dibini dulu baru dibina? Yang sudah dibina — sudah mengikuti pengajian intensif — telah tahu tentang kehidupan, tahu prioritas dalam nikah, dan mudah diajak berdialog ketika suami atau istrinya memiliki kekurangan, karena ia sudah tahu tujuan hidupnya. Sedangkan yang baru dibina setelah dinikahi? Kalau ternyata tidak bisa dibina, pilihan yang tersisa tinggal satu — dibinasakan. Ini guyonan yang serius. Bagi saya, slogan ini menegaskan bahwa persiapan keilmuan bukan pelengkap, melainkan bagian dari tanggung jawab sebelum menikah.
Karena itu, orang yang baru hijrah lalu langsung menikah itu boleh, tetapi tidak ideal — ia belum punya bekal. Ustadz Felix butuh sekitar empat tahun: masuk Islam tahun 2002, dan datang kepada bapaknya tahun 2006 dengan kalimat “ini calon saya”. Beliau juga mencontohkan seorang ustaz yang butuh empat atau lima tahun mempersiapkan pernikahannya. Dan yang lebih penting: nikah bukan sarana menyelesaikan masalah. Nikah — terutama bagi laki-laki — adalah ketika kita sudah mampu menyelesaikan masalah kita sendiri, lalu siap membantu menyelesaikan masalah orang lain. Orang yang menikah karena ingin membagi beban, namanya mengoper beban. Setelah menikah, ujian justru bertambah — dan pahalanya pun bertambah.
Al-hubbu fillah: Allah di tempat pertama
Semua langkah praktis tadi bermuara pada satu fondasi yang dibahas di episode ketujuh: al-hubbu fillah — mencintai karena Allah. Definisinya sederhana: menaruh Allah di nomor satu, di atas segala-galanya, termasuk di atas orang yang paling kita cintai. Ustadz Felix menjelaskan logikanya dengan runut: pemberi selalu lebih penting daripada pemberiannya. Kita mencintai ibu karena pengorbanannya — itu wajar — tetapi Allah yang menciptakan kita, memelihara kita bahkan sebelum kita lahir, dan tidak pernah berhenti memberi. Hadis tentang halawatul iman, manisnya iman, menyebut tiga perkara: mencintai Allah dan Rasul melebihi segala-galanya; mencintai seseorang hanya karena Allah; dan tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana tidak suka dilemparkan ke neraka. Allah bahkan berfirman bahwa jika bapak, anak, saudara, pasangan, harta, perniagaan, dan rumah yang kita sukai lebih kita cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah keputusan Allah (QS. At-Taubah: 24).
Di sinilah letak pembeda antara cinta yang benar dan sekadar modus. Ustadz Felix mengingatkan banyak orang yang menggantungkan ibadahnya pada orang lain: dekat dengan dia, rajin salat; dekat dengan dia, jadi terasa agamis. Itu namanya mencintai Allah karena dia — terbalik. Yang benar justru sebaliknya: kalau dia taat kepada Allah, kita mencintainya; kalau dia bermaksiat, kita tidak menyukainya. Karena itu ungkapan “aku mencintaimu karena Allah” yang sering dipakai menjelang pernikahan harus diuji: apakah ia sudah mencintai Allah lebih dari segalanya, sudah mengenal Allah, sudah berada di jalan Allah? Kalau belum, kata beliau, itu baru sekadar kata-kata — modus, seperti halnya “pacaran syariah” yang tidak pernah ada dalam Islam.
Penutup episode ketujuh membuat saya merenung lama: menikah adalah fase ujung dari mencintai Allah. Ketika kita sudah mencintai Allah lebih dari segala-galanya, Allah akan memilihkan hamba-hamba-Nya yang terbaik untuk mencintai kita dengan cara yang paling baik, di waktu yang paling tepat, dalam bentuk yang paling tidak bisa kita bayangkan. Maka jalannya bukan memaksakan proses, melainkan membereskan dulu posisi Allah di hati. Putuskan yang salah, bersihkan trigger-nya, ganti dengan kajian sistematis, lalu biarkan Allah yang mengarahkan. Dibina dulu, baru dibini. Insya Allah.
Sumber
- Ngaji Jomblo 06 — “Bersiap Memulai Menikah”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
- Ngaji Jomblo 07 — “Menikah Karena Allah atau Modus Pacaran Syariah”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
- QS. At-Taubah: 24 — cinta kepada keluarga, harta, dan tempat tinggal tidak boleh melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
- Hadis tentang halawatul iman (manisnya iman) — tiga perkara: mencintai Allah dan Rasul melebihi segala-galanya; mencintai seseorang karena Allah; tidak suka kembali kepada kekufuran
- Hadis tentang halwat — “tidaklah seorang lelaki berhalwat dengan perempuan yang bukan mahramnya kecuali setan menjadi yang ketiga di antara keduanya”
- Buku “Udah Putusin Aja” — Ustadz Felix Siauw (dirujuk di dalam kajian)
Komentar Terbaru