Assalamualaikum, sahabat. Kalau ditanya amalan apa yang ringan tapi tidak boleh kita tinggalkan, jawaban saya selalu sama: salawat. Ringan sekali — cukup ucapkan “shallallahu ‘alaihi wa sallam” — tapi dampaknya luar biasa besar menurut janji Allah dan Rasul-Nya.
Saya pribadi sering lupa. Sehari-hari sibuk kerja, sibuk urusan, sampai lupa mengirim salawat kepada Nabi ﷺ yang sudah berjuang keras agar kita bisa mengenal Islam hari ini. Makanya tulisan ini sekaligus jadi pengingat buat saya sendiri.
Apa itu Salawat?
Secara sederhana, salawat adalah doa dan pujian untuk Nabi Muhammad ﷺ. Yang paling umum kita dengar adalah shalawat Ibrahimiyah, yang kita baca saat tasyahhud shalat — doa yang sama juga dibaca oleh malaikat untuk Nabi kita.
Allah dan Malaikat Bershalawat, Lalu Kita?
Ini ayat yang sering saya baca tapi jarang saya renungkan betulan:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
QS Al-Ahzab: 56 (terjemah Kemenag)
Perhatikan urutannya: Allah dulu, malaikat menyusul, baru kita. Bayangkan — seluruh malaikat di seluruh penjuru semesta bershalawat untuk beliau setiap waktu. Kita, sebagai orang yang beriman, diperintahkan untuk ikut serta dalam barisan itu. Sungguh sebuah kehormatan yang tidak boleh kita sia-siakan.
Salawat Kita Dibalas Sepuluh Kali
Sayangnya, sering kali kita menganggap salawat sebagai amalan kecil yang tidak seberapa. Padahal Rasulullah ﷺ pernah memberi kabar gembira yang sangat menenangkan:
“Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”
HR Muslim no. 408, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
Sepuluh kali balasan dari Allah. Sementara kita hanya perlu sekali ucapkan. Kalau ada investasi dengan untung sedemikian besarnya, pasti semua orang berlomba-lomba. Tapi ternyata investasi paling menguntungkan di dunia ini hampir tidak memerlukan modal apa pun — cukup lisan dan hati yang hadir.
Mulai dari yang Kecil
Saya belajar bahwa salawat tidak harus panjang atau rumit. “Shallallahu ‘alaihi wa sallam” itu saja sudah cukup. Yang terpenting adalah istiqamah — konsisten meskipun sedikit. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari Jumat, karena shalawatku disampaikan kepadaku pada hari itu.”
HR Abu Dawud dan Tirmidzi
Beberapa kebiasaan kecil yang bisa kita coba: mengucapkan salawat setiap kali mendengar nama Nabi ﷺ disebut, bershalawat setiap kali selesai shalat, atau menyisihkan waktu di hari Jumat untuk memperbanyak salawat. Tidak perlu banyak — yang penting dilakukan dengan hati.
Boleh juga memulai dari salawat pendek setiap habis adzan, atau mengganti kebiasaan mengeluh dengan bershalawat ketika hati sedang tidak tenang. Ketenangan yang datang dari mengingat Nabi ﷺ sering kali lebih manis daripada mengeluh tanpa henti. Saya paling sering mencobanya saat macet di jalan — bukan agar cepat sampai, tapi supaya hati tidak ikut macet juga.
Salawat: Ibadah yang Menyambung Hati
Menurut saya, ada satu hal yang membuat salawat begitu istimewa: ini adalah satu-satunya ibadah yang tidak hanya mendekatkan kita kepada Allah, tapi juga menyambungkan kita dengan Nabi ﷺ. Setiap kali kita bershalawat, kita mengingat perjuangan beliau, kebaikan beliau, dan kasih sayang beliau kepada seluruh umat.
Jadi malam ini, kalau sempat, coba sisihkan sejenak untuk bershalawat. Tidak usah banyak, yang penting hadir. Insya Allah, dengan izin Allah, shalawat kecil kita akan menjadi jalan rahmat dan ampunan-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mengirim salam dan pujian kepada Nabi kita, Muhammad ﷺ.
Wallahu a’lam. Untuk masalah fikih detail seputar tata cara salawat, silakan bertanya kepada ustadz atau ulama terpercaya di daerah masing-masing.
Komentar Terbaru