Jujur saja, ada satu penyakit yang sering saya kira bukan penyakit. Ringan, tidak terasa, bahkan terlihat seperti kebaikan: riya’. Ya, riya’ — menyembunyikan kebaikan agar dilihat, dipuji, atau sekadar diketahui orang lain. Dulu saya pikir riya’ itu cuma soal pamer amalan besar di depan orang banyak. Ternyata tidak. Riya’ itu bisa menempel bahkan pada amalan yang paling sederhana, sampai-sampai Nabi Muhammad ﷺ menyebutnya sebagai hal yang paling beliau takutkan terjadi pada umatnya.
Apa Itu Riya’, dan Kenapa Bahayanya Besar?
Secara sederhana, riya’ adalah ketika niat kita berubah di tengah jalan. Awalnya mau ibadah karena Allah, lalu — entah sadar atau tidak — ada keinginan supaya orang lain tahu. Shalat berjamaah di masjid supaya dilihat jamaah lain. Makan dengan tangan kanan karena tahu ada yang memperhatikan. Menyumbang supaya namanya tercantum di papan pengumuman. Kecil-kecil begitu, tapi dampaknya bukan main.
“Sesungguhnya yang paling aku takut atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.”
HR. Ahmad (riwayat Abu Umamah)
Bayangkan: dari sekian banyak ketakutan yang bisa disebut Nabi — kemiskinan, fitnah, sesat sesudah tahu — beliau menyebut riya’. Karena riya’ tidak berteriak. Ia masuk diam-diam, dan ia menggerus pahala dari dalam.
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”
QS. Al-Bayyinah: 5
Tanda-Tanda Riya’ yang Sering Terlewat
Ada beberapa tanda yang kalau kita jujur, pernah kita alami. Pertama, kita merasa aman kalau amalan tidak dilihat orang — misalnya, kita lebih bersemangat mengaji di depan guru daripada sendirian di kamar. Kedua, hati kita ikut “turut campur” saat ada kabar bahwa amalan kita diketahui orang lain — ada rasa senang yang tidak perlu. Ketiga, kita memilih waktu atau tempat amalan yang ramai, bukan yang sepi, tanpa alasan yang jelas.
Riya’ juga bisa sangat halus. Ada yang shalat malam, lalu keesokan harinya menceritakannya kepada teman “secara tidak sengaja”. Ada yang menahan diri dari pamer besar, tapi pamer halus lewat unggahan foto sedang mengaji di sudut kamar yang estetik. Substansinya sama: pujian manusia menjadi tujuan, bukan keridhaan Allah.
Bagaimana Menjaga Niat dari Riya’?
Pertama, kenali dulu wajahnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dijelaskan bahwa di hari kiamat ada orang-orang yang datang membawa amalan seperti gunung, lalu Allah berfirman bahwa mereka melakukan amalan itu karena riya’ dan sum’ah (ingin didengar), dan amalan itu dihamburkan seperti abu tertiup angin. Amalan sebesar gunung pun bisa lenyap. Itu bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan: yang menjaga pahala kita bukan besarnya amalan, tapi keikhlasan kita.
Kedua, biasakan amalan yang tersembunyi. Nabi ﷺ mengajarkan doa memohon perlindungan dari riya’ dan sum’ah setelah shalat. Ketiga, kalau terlanjur merasa ada riya’ muncul di tengah amalan, perbarui niatnya segera — bertaubat dan berniat ulang karena Allah. Bukankah Allah Maha Penerima taubat? Keempat, kurangi paparan pamer — termasuk di media sosial kita sendiri. Jangan biarkan jempol kita menjadi pintu masuk riya’.
Amalan yang Paling Diam-Diam
Ada satu hal yang selalu menguatkan saya: di zaman yang serba dipamerkan ini, justru amalan yang paling diam-diam itu yang paling berharga. Sedekah tangan kanan yang tangan kiri tidak tahu. Memaafkan diam-diam tanpa perlu pengakuan publik. Berdoa untuk orang lain di sepertiga malam, tanpa ada satu pun yang tahu.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”
HR. Muslim
Yang Allah lihat adalah hati. Bukan jumlah likes, bukan komentar, bukan penghargaan. Semoga kita termasuk orang yang amalannya diam-diam, tapi tulus sepenuhnya hanya untuk-Nya. Aamiin.
Komentar Terbaru