Dengki: Penyakit Hati yang Diam-Diam Membakar Amal Kita

Pernahkah Anda membuka media sosial, lalu tiba-tiba hati terasa tidak tenang melihat kabar bahagia orang lain? Ada teman yang dapat pekerjaan baru, saudara yang menikah, atau tetangga yang rumahnya tampak lebih bagus — dan entah mengapa, senyum kita perlahan memudar. Saya sendiri sering mengalaminya, dan setiap kali itu terjadi, saya ingat satu kata: dengki.

Apa Itu Dengki?

Dalam istilah agama, dengki disebut hasad. Para ulama mendefinisikannya sebagai berharap hilangnya nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Bukan sekadar kagum, bukan pula ingin seperti dia — tapi ada bagian dalam hati yang ingin nikmat itu sirna dari orang itu. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan definisi ini dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, sebagaimana dikutip situs kajian Rumaysho.

Kabar buruknya, dengki bukan cuma perasaan sepele. Ia bisa diam-diam menggerus amal baik yang sudah kita kumpulkan.

Dalil: Dengki Membakar Amal Kita

Dan janganlah kamu mengangan-angankan karunia yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu dari sebagian yang lain.

QS. An-Nisa: 32

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak terus-menerus menghayalkan apa yang Allah berikan kepada orang lain. Bukan berarti dilarang punya cita-cita, tapi berhenti membandingkan hati sehingga melahirkan iri yang tidak sehat.

Jauhilah kalian semua hasad (dengki), karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

HR. Abu Dawud (no. 4903)

Bayangkan amal kita seperti tumpukan kayu, lalu dengki menjadi api yang pelan-pelan membakarnya. Sholat, puasa, sedekah — semuanya bisa tergerus oleh satu penyakit hati yang jarang kita sadari. Sungguh, musuh terbesar kita sering bukan orang lain, melainkan hati sendiri.

Dengki di Era Media Sosial

Dulu, kita hanya tahu kabar tetangga dari obrolan di halaman. Sekarang, kehidupan orang lain hadir di layar kita setiap hari, lengkap dengan foto-foto terbaiknya. Ini memudahkan hati untuk membandingkan: kenapa dia sudah segitu, sementara saya masih begini? Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kecil — belum pernah melihat ujian dan kesulitan yang dia lewati di balik layar.

Karena itu, saya selalu mengingatkan diri sendiri: jeda sebelum membandingkan itu mahal harganya. Lebih baik ucapkan “masyaAllah, barakallahu lah” dan lanjutkan hidup.

Ada Dengki yang Justru Dianjurkan

Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua orang: orang yang diberi Allah harta lalu dia infakkan siang dan malam, dan orang yang diberi Allah ilmu Al-Qur’an lalu dia amalkan siang dan malam.

HR. Bukhari (no. 5025) & Muslim (no. 815)

Hadits ini indah: Allah seolah membuka pintu “iri yang boleh” hanya pada dua hal — orang yang kaya dermawan dan orang yang alim. Artinya, kalau kita merasa tergerak melihat kebaikan orang lain, arahkan jadi semangat untuk menyusulnya, bukan jadi penyakit yang membakar diri sendiri.

Obat Sederhananya

Obat dengki sebenarnya tidak rumit: doakan orang yang kita dengki, syukuri apa yang sudah ada, dan tutup mata dari perbandingan yang tidak perlu. Setiap kali hati mulai tidak enak, ingat bahwa nikmat Allah memang dibagikan berbeda-beda, dan tugas kita adalah menjaga bagian yang sudah dipercayakan kepadanya.

Saya sendiri masih berlatih. Ada kalanya dengki datang tanpa diundang. Tapi setiap kali mengingat ayat dan hadits di atas, hati jadi lebih ringan untuk kembali bersyukur. Bagaimana denganmu?

Wallahu a’lam. Untuk masalah fikih detail, sebaiknya tanyakan langsung kepada ustadz atau ulama yang kompeten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses