Hari ini saya dapat belajar satu kisah yang membuat saya berhenti cukup lama: kisah Umar bin Khattab dan seorang pengemis tua Yahudi yang buta di Madinah. Kisah ini tercatat dalam tafsir dan kitab sejarah klasik, dan menurut saya ini adalah salah satu pelajaran paling konkret tentang bagaimana seorang pemimpin sekaligus orang beriman seharusnya memperlakukan orang yang berbeda dengannya.
Ketika pemimpin turun ke jalan
Kisahnya bermula saat Umar, yang saat itu menjabat sebagai Khalifah, sedang melintas di jalanan Madinah. Di pinggir jalan ia melihat seorang lelaki tua yang buta, menggelandang, meminta-minta. Umar menghampiri dan bertanya siapa dia. Lelaki tua itu menjawab bahwa dia seorang Yahudi yang sudah tua, sudah kehilangan penglihatan, dan tidak lagi punya sandaran hidup.
Inilah bagian yang paling menyentuh saya: Umar tidak lalu berbalik. Ia membawa lelaki tua itu ke rumahnya sendiri, memberi makanan minuman, lalu memberinya susu untuk diminum. Setelah lelaki tua itu kenyang dan tenang, Umar lalu membacakan Al-Quran kepadanya.
Kalau diceritakan ulang dengan bahasa saya sendiri: seorang khalifah yang urusannya banyak, yang memimpin satu peradaban, menyempatkan diri duduk di hadapan seorang pengemis tua yang buta — lalu membacakan firman Tuhan pelan-pelan, satu ayat demi satu ayat.
Ayat yang dibacakan dan air mata yang jatuh
Umar membacakan ayat-ayat Al-Quran yang kira-kira berbunyi: sesungguhnya Kami menurunkan kepada Musa Al-Kitab dan mengutusnya kepada Bani Israil, dan Kami jadikan bagi mereka imam-imam yang dipandu oleh perintah Kami apabila mereka bersabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami dengan sungguh-sungguh sampai Kami datangkan kepada mereka seorang penuntun (Nabi Muhammad ﷺ).
Lelaki tua itu mendengarkan dengan seksama. Tangisnya mulai meleleh. Ia pun bertanya kepada Umar: “Apakah engkau termasuk orang-orang yang bersabar dalam mengikuti petunjuk itu?” Umar menjawab: “Ya, aku termasuk orang yang sabar mengikutinya.” Maka lelaki tua itu pun mengucapkan syahadat — mengakui kebenaran yang selama ini ia tolak.
Pelajaran yang saya catat untuk diri sendiri
Saya menutup kisah ini dengan beberapa catatan pribadi. Pertama, kebaikan yang menyentuh hati selalu datang lewat perbuatan lebih dulu. Umar tidak membuka dengan ceramah. Ia memberi makan, memberi minum, memberi susu — lalu baru membaca. Hati orang itu baru terbuka setelah merasakan kebaikan. Ini berarti bagi saya: kalau saya ingin menyeru kebaikan, saya harus mulai dari melayani, bukan dari menggurui.
Kedua, Umar memperlakukan lelaki tua itu sebagai manusia, bukan sebagai “orang lain”. Tidak ada tamparan, tidak ada pengusiran, tidak ada bahasa merendahkan — padahal dulu orang-orang seperti inilah yang mendustakan Nabi kita ﷺ. Ini yang paling sulit menurut saya: bersikap lembut kepada orang yang jelas-jelas tidak seirama dengan kita.
Ketiga, sabar itu nyata dan punya hasil. Ayat yang dibacakan Umar justru menekankan kesabaran Bani Israil — dan ayat itulah yang akhirnya membuka hati lelaki tua itu. Saya jadi ingat, ajakan kebaikan yang saya sampaikan hari ini mungkin tidak langsung berbuah. Bisa jadi baru berbuah belasan tahun kemudian. Tugas saya adalah tetap menyampaikan dengan cara yang benar, hasilnya urusan Tuhan.
Kisah ini mengingatkan saya bahwa kelembutan bukan kelemahan. Umar yang dikenal tegas dan disegani justru terlihat paling lembut di momen ini. Semoga saya bisa meneladani hal itu dalam hubungan saya dengan tetangga, rekan kerja, siapa pun yang berbeda latar belakang dengan saya.
Sebagai perbandingan kecil, saya juga mengingat satu riwayat lain yang sering saya dengar: ketika Umar menjabat, beliau pernah menggugurkan kewajiban jizyah dari seorang tua yang sudah renta dan kehilangan penglihatan ketika beliau menyadari bahwa orang tersebut sudah tidak lagi mampu. Untuk saya, dua kisah ini sebenarnya satu ruh yang sama — pemimpin yang berkuasa justru memikirkan yang paling lemah di bawahnya. Kalau seorang khalifah saja begitu, apalagi saya yang tidak memimpin apa pun, setidaknya saya bisa mulai dari orang-orang terdekat di sekitar saya hari ini.
Sumber
- Tafsir Al-Qur’an al-Azim (Tafsir Ibnu Katsir) — kisah Umar dan lelaki tua Yahudi buta di Madinah, bagian penafsiran surah yang menyebut penuturan kepada Bani Israil.
- Sirah Nabawiyah Ibnu Katsir — biografi Umar bin Khattab dan sikapnya terhadap kaum dzimmi.
- Jurnal Suhuf Kemenag — artikel “Toleransi Religius”, kisah sikap Umar terhadap lelaki tua Ahli Kitab yang buta (jurnalsuhuf.kemenag.go.id).
Komentar Terbaru