Ada satu amalan yang sering kita anggap gampang, lalu akhirnya kita tinggalkan begitu saja: membaca Al-Qur’an. Bukan karena kita tidak tahu manfaatnya — kita semua tahu. Tapi rasanya selalu ada yang lebih “mendesak”: pekerjaan, notifikasi, serial, tidur. Saya pun begitu. Maka tulisan ini bukan untuk menggurui, tapi untuk mengingatkan diri sendiri sekaligus teman-teman yang sedang belajar.
Yang menarik, Islam tidak membebani kita dengan target yang berat. Rasulullah ﷺ justru memuji orang yang membaca sedikit tapi rajin. Konsistensi kecil yang berjalan bertahun-tahun jauh lebih berharga daripada semangat sesaat yang lalu padam.
Dalil yang menguatkan niat kita
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.”
QS Fathir: 29
Ayat ini menyandingkan pembaca Al-Qur’an dengan orang yang shalat dan bersedekah. Seolah membaca Kitab Allah adalah bagian dari “perdagangan” paling aman: tidak mungkin rugi. Di dunia, untung-rugi itu fluktuatif. Di sisi Allah, investasinya pasti kembali — bahkan berlipat.
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
HR Bukhari 5027 (dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu)
Perhatikan kata “memelajari” (ta’allama) — bukan sekadar “menghafal”. Belajar Al-Qur’an itu proses seumur hidup: membaca, mengulang, sedikit demi sedikit memahami maknanya. Dan “mengajarkannya” tidak harus berdiri di depan kelas; cukup mengajak anak, istri, atau sahabat kita membaca bersama.
Setiap huruf tetap dihitung
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan dengan membacanya, setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat.”
HR Tirmidzi 2910 (dari Aisyah radhiyallahu ‘anha; dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam As-Sahihah 660)
Pahala dihitung per huruf, bukan per juz. Artinya, tidak ada kata “terlalu sedikit” dalam kamus tilawah. Tiga baris setelah shalat Subuh, beberapa ayat sebelum tidur — semuanya berarti. Yang berbahaya bukan jumlah yang kecil, tapi nol yang terus-menerus karena kita menunggu “mood yang sempurna”.
Praktik kecil yang bisa dicoba minggu ini
Pertama, tentukan satu waktu tetap. Waktu paling mudah: habis Subuh atau sebelum tidur. Kedua, mulai dari target yang hampir mustahil gagal — satu halaman, atau bahkan setengah halaman. Biar konsistensi yang tumbuh lebih dulu, baru volume yang menyusul. Ketiga, usahakan satu halaman yang dibaca benar-benar dipahami maknanya, misalnya dengan membuka terjemah singkat di aplikasi Quran di HP. Keempat, ajak satu orang. Semangat membaca Al-Qur’an menular — dan inilah cara paling ringan menjadi bagian dari “yang mempelajari dan mengajarkannya”.
Jujur, saya sendiri masih sering bolong. Tapi setiap kali kembali membuka Al-Qur’an, rasanya selalu sama: tenang, lalu menyesal kenapa tidak dari tadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang senantiasa membaca Kitab-Nya. Aamiin.
Komentar Terbaru