Syukur: Kunci Nikmat yang Sering Kita Lupa Dipakai

Ada satu amalan yang sering kita lupa, padahal bisa dikerjakan kapan saja, bahkan di sela menggigit nasi. Amalan itu bersyukur. Bukan cuma sekadar menyebut “alhamdulillah” dengan lisan, tapi benar-benar merasa nikmat di hati. Saya pribadi masih belajar soal ini, dan tiap kali ingat, rasanya seperti ada yang menebal di dada — bahwa hidup ini jauh lebih baik daripada yang saya sadari.

Syukur Bukan Sekadar Kata

Al-Qur’an menyebutkan janji yang menarik. Ketika Allah memaklumkan kepada manusia: “Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu'” (QS Ibrahim: 7). Perhatikan baik-baik: bukan “jika kamu kaya” atau “jika kamu sehat”, tapi “jika kamu bersyukur”. Nikmat itu sendiri tidak menjamin tambahan nikmat. Yang menambah adalah cara kita menyikapinya.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.

QS Ibrahim: 7

Sebaliknya, QS Ibrahim: 12 mengingatkan bahwa Allah mengeluarkan kita dari rahim ibu kita dalam keadaan tidak tahu apa-apa, lalu memberi pendengaran, penglihatan, dan akal — “agar kamu bersyukur”. Nikmat paling dasar saja sudah dibeli dengan mahal: kemampuan mendengar suara anak, melihat wajah orang tua, berpikir soal masa depan. Kalau yang sedetail itu belum membuat kita terharu, memang apa yang bisa?

Latihan Kecil: Menyebut Nikmat Satu per Satu

Saya pernah dengar saran sederhana: sebelum tidur, sebutkan tiga nikmat hari itu. Bukan yang besar-besar. Bisa justru yang kecil — air hangat saat mandi, tahanan napas yang cukup, teman yang membalas pesan. Ketika dicoba, hasilnya mengejutkan: daftar itu ternyata panjang, dan sebagian besar baru saya sadari setelah ditanya. Seolah nikmat itu memang selalu ada, cuma radar syukurnya yang mati.

QS Saba: 13 bahkan menyebut bahwa “sedikit sekali di antara hamba-hamba Allah yang bersyukur”. Jadi bukan berarti kita lemah kalau sering lupa bersyukur — memang begitu kondisi manusia umumnya. Bedanya, orang yang berlatih sadar akan nikmat memandang kehidupan dengan cara yang sangat berbeda. Dua orang dengan kondisi yang sama, satu merasa cukup dan satu merasa kurang, bisa berjalan dengan langkah yang sangat berbeda.

Syukur Juga Ditujukan kepada Sesama

Ada hadits yang saya pegang erat: “Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR Tirmidzi 2048, hasan sahih). Artinya, terima kasih yang tulus kepada orang yang menolong kita — bapak yang menitipkan pekerjaan, tetangga yang menjaga paket, teman yang mengingatkan — bukan sekadar sopan santun. Itu bagian dari syukur yang lebih besar.

Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.

HR Tirmidzi 2048 (hasan sahih)

Mulai dari Hari Ini

Syukur bukan pekerjaan berat. Tidak perlu menunggu rezeki besar untuk memulainya. Cukup berhenti sejenak, menyebut satu nikmat, dan benar-benar merasakannya. QS Ar-Rahman: 13 terus mengulang pertanyaan yang sama: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” — pertanyaan yang seharusnya membuat kita berhenti, bukan menjawab cepat. Kalau urusan fikih atau amalan tertentu ingin digali lebih dalam, tetap lebih baik bertanya langsung kepada ustadz atau ulama. Tapi untuk hal sesederhana ini, kita bisa mulai malam ini juga: tiga nikmat, satu per satu, sebelum mata terpejam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses