Adab Makan dan Minum: Ibadah Sehari-hari yang Sering Kita Lupakan

Jarang sekali kita menyadari bahwa makan dan minum sebenarnya adalah ibadah. Setiap hari, tiga kali atau bahkan lebih, kita melakukannya. Tapi berapa kali kita benar-benar menghadirkan niat untuk beribadah saat duduk di depan piring? Saya sendiri mengakui, sering kali makan hanya karena lapar — tanpa basmalah, tanpa adab, dan tanpa rasa syukur yang mendalam.

Pertama-tama, mari kita ingat surat Al-Maidah ayat 88:

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

QS. Al-Maidah: 88

Ayat ini mengingatkan dua hal penting: makanan harus halal, dan harus baik. Halal bukan sekadar dari sisi kehalalan bahan, tapi juga proses mendapatkannya. Sementara “baik” bisa dimaknai dari kualitas makanan itu sendiri — makanan yang bergizi, tidak merugikan tubuh.

Baca Bismillah Sebelum Makan

Ini adab paling dasar, tapi paling sering terlupa. Ada hadits yang sangat populer dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘anhu:

“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah ‘Bismillah’), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.”

HR. Abu Daud no. 3768, Tirmidzi no. 1855, dan disahihkan Al-Albani

Perhatikan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menyuruh baca basmalah, tapi juga mengajarkan adab-adab lain dalam satu kalimat. Makan dengan tangan kanan — karena setan makan dan minum dengan tangan kiri (HR. Muslim no. 2020). Dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu — jangan serakah mengambil yang jauh, ambil yang dekat dulu.

Makan Sambil Duduk

Saya pernah terbiasa makan sambil berdiri — misalnya di warung pinggir jalan yang penuh. Ternyata, ada larangan khusus untuk ini. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah seorang di antara kalian makan sambil berdiri. Barang siapa yang lupa, hendaklah ia duduk apabila teringat.”

HR. Muslim no. 2024

Makan sambil berdiri selain tidak dianjurkan, juga kurang baik untuk pencernaan. Kita bisa melihat betapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memperhatikan kesehatan umatnya, bahkan dalam hal yang tampak sepele.

Jangan Lupa Meniup dan Jilat Jari

Sunnah lain yang sering kita abaikan: menjilat jari sebelum atau sesudah makan. Ini bukan sekadar kebiasaan, tapi ada makna di baliknya — bersyukur atas nikmat yang diberikan, dan tidak ada satu pun bagian makanan yang sia-sia. Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menjilat jari-jarinya. Janganlah salah seorang di antara kalian tidak menjilat jari-jarinya, karena ia tidak mengetahui di mana berkah makanannya.”

HR. Muslim no. 2033

Selain itu, Rasulullah juga melarang meniup makanan atau minuman (HR. Ibnu Majah no. 3291, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu). Karena yang tahu suhu makanan terbaik adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makan Bersama itu Ada Berkahnya

Islam mengajarkan untuk makan bersama dalam satu nampan atau wadah, bukan masing-masing sendiri-sendiri. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Makanlah bersama-sama dan hendaklah masing-masing menyebut nama Allah (sebelum makan).”

HR. Abu Daud no. 3767, dan disahihkan Al-Albani

Berkah dalam konteks ini tidak hanya soal rezeki yang bertambah. Tapi juga mempererat ukhuwah, membangun kebersamaan, dan menghilangkan sekat-sekat sombong antar sesama. Makan bersama keluarga, bersama teman, atau bersama tetangga — itu semua bisa jadi ladang pahala kalau dilakukan dengan niat yang benar.

Ucapan “Alhamdulillah” Setelah Selesai

Seperti membaca basmalah sebelum makan, ada adab juga untuk setelah makan. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa jika seseorang selesai makan dan membaca:

“Alhamdulillahilladzi at’amani hadza wa razaqanihi ghaira maufidin lahu wa la quwwatin.”

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makan ini dan memberiku rezeki tanpa upaya dan kekuatan dariku.” (HR. Abu Daud no. 3451, dan disahihkan Al-Albani)

Sederhana sekali kalimatnya. Tapi coba kita hitung, berapa kali dalam sehari kita makan? Setiap kali itu kesempatan untuk mengucapkan kalimat itu? Berapa banyak pahala yang terlewat begitu saja?

Renungan Kecil

Adab makan dan minum ini mungkin terlihat sepele. Siapa sih yang tidak tahu cara makan? Tapi justru di sinilah letak ujiannya — apakah kita mau menghidupkan sunnah dalam aktivitas yang paling kita lakukan setiap hari? Makan itu wajib. Tapi adab makannya yang membedakan seorang muslim dengan yang lain.

Saya sendiri masih belajar untuk konsisten mengamalkan adab-adab ini. Kadang sudah baca basmalah, tapi lupa makan dengan tangan kanan. Atau sudah duduk, tapi lupa ucap syukur setelah selesai. Tapi insya Allah, dengan terus mengingatkan diri sendiri, lama-kelamaan ini bisa menjadi kebiasaan yang membawa berkah.

Karena pada akhirnya, berkah itu tidak datang dari jumlah porsi atau mahalnya makanan. Tapi dari adab kita saat menerimanya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses