Di antara semua panca indera yang Allah berikan, mata mungkin yang paling “berbahaya” kalau tidak dijaga. Lidah bisa kita atur dengan menutup mulut; tangan bisa kita kalungkan di dada. Tapi mata? Cukup satu kilas pandang, dan hati ikut terbawa. Itulah kenapa dalam Al-Qur’an, perintah menjaga pandangan datang berdampingan dengan perintah menjaga kemaluan — satu ayat, dua kewajiban yang saling terkait.
Saya sendiri dulu menganggap ini hal sepele. “Lihat sebentar apa juga dosa,” begitu pikir saya. Ternyata tidak sesederhana itu, dan justru di situlah jebakannya: pandangan pertama memang sering tidak disengaja, tapi pandangan kedua, ketiga, dan seterusnya adalah pilihan sadar yang kita ambil sendiri.
Apa Kata Al-Qur’an?
Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
QS An-Nur: 30
Ayat 31 dari surat yang sama juga memerintahkan hal serupa kepada perempuan beriman. Menariknya, kata “menundukkan” (bentuk masdar dari kata khashsha) menunjukkan bahwa pandangan itu bukan dihilangkan — kita tetap boleh melihat jalan, melihat orang saat bicara — melainkan ditundukkan: diarahkan, dibatasi, tidak dikumbar. Ada nuansa kontrol aktif di situ.
Pandangan Pertama Boleh, Pandangan Kedua Tidak
Nabi ﷺ memberi batasan yang sangat praktis lewat sabdanya kepada Ali bin Abi Thalib:
“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua, karena pandangan pertama itu buatmu, sedangkan pandangan kedua bukan buatmu.”
HR At-Tirmidzi dan Abu Dawud
Ini kalimat yang sangat membebaskan, menurut saya. Allah tidak mempersulit: pandangan tak sengaja pertama kali — wajar, manusiawi. Yang jadi masalah adalah saat kita sengaja “mengulur” pandangan mencari-cari, atau menoleh lagi ke arah yang sama. Di sinilah letak tanggung jawab kita. Ustadz-ustadz juga sering mengingatkan bahwa pandangan adalah salah satu “panah-panah iblis” yang paling efektif menembus hati — karena begitu sampai ke hati, syahwat ikut terbangun.
Praktik Kecil yang Bisa Dicoba
Saya tidak akan menuliskan daftar panjang aturan, karena untuk masalah fikih detail seperti batasan pandangan dalam pergaulan sehari-hari, lebih adil kalau kita bertanya langsung ke ustadz atau ulama yang berilmu. Yang bisa saya catat dari belajar ini justru kebiasaan-kebiasaan sederhana:
Pertama, sadari pola. Kebanyakan dari kita punya “titik lemah” — misalnya melihat ke arah yang sama setiap kali melintas di satu tempat. Kesadaran itu sendiri sudah setengah solusi. Kedua, alihkan cepat. Bukan berpura-pura tidak melihat, tapi memilih untuk tidak menatap. Ada bedanya. Ketiga, perbanyak dzikir saat berada di lingkungan yang penuh godaan pandangan. Hati yang sedang “ramai” mengingat Allah jauh lebih sulit terseret.
Jujur, ini bukan perjuangan yang selesai sekali jadi. Tapi setiap kali kita berhasil menundukkan pandangan, ada perasaan tenang yang datang — perasaan bahwa hati kita masih “bersih”, masih punya kendali. Dan menurut saya, perasaan itu sendiri sudah satu nikmat yang besar.
Semoga kita semua termasuk golongan orang yang menjaga pandangannya, bukan karena takut ketahuan orang, tapi karena sadar Allah selalu melihat lebih dulu.
Komentar Terbaru