Bandingkan jumlah emiten, kinerja historis ISSI vs IHSG, dan alasan memilih syariah bukan hanya soal agama tapi juga disiplin keuangan. Hari ini saya belajar melihat perbandingan yang sering jadi pertanyaan pemula: kalau tujuannya untung, kenapa harus pilih saham syariah? Bukankah pasar sahamnya sama saja? Jawabannya punya dua lapis — lapis prinsip dan lapis angka.
Pasar yang sama, daftar yang berbeda
Perlu saya tegaskan sejak awal: saham syariah dan saham konvensional diperdagangkan di bursa yang sama (BEI), dengan mekanisme transaksi, settlement, dan peraturan yang sama. Bedanya hanya pada seleksi: saham syariah adalah saham emiten yang lolos screening DES — usahanya halal dan rasio keuangannya memenuhi ambang syariah.
Per 2025, jumlah emiten di DES mencapai sekitar 650-an dari total sekitar 950 emiten yang tercatat di BEI. Artinya, mayoritas saham di bursa tetap masuk DES — pilihannya banyak, dan seorang investor syariah tidak merasa terbatas. Yang tersaring keluar sebagian besar adalah sektor jasa keuangan konvensional (bank berbasis bunga), industri rokok, alkohol, dan perjudian.
Kinerja historis: ISSI vs IHSG
Pertanyaan berikutnya: apakah imbal hasil saham syariah lebih rendah karena tersaring banyak emiten? Data historis memberi gambaran yang menarik. Indeks syariah Indonesia (ISSI) — indeks komposit yang mencakup seluruh saham DES — secara historis cenderung bergerak searah dengan IHSG, dengan periode di mana ISSI unggul dan periode di mana IHSG unggul.
Secara umum yang saya catat dari literatur dan data indeks: dalam jangka panjang, kinerja indeks syariah Indonesia tidak kalah jauh dengan indeks konvensional, dengan volatilitas (fluktuasi harga) yang cenderung lebih rendah pada beberapa periode. Penyebabnya secara logika masuk akal: emiten dengan rasio utang lebih rendah cenderung lebih tahan terhadap guncangan ekonomi, karena beban bunga yang lebih ringan.
Saya tidak mengklaim angka persentase kinerja tahunan di sini karena angkanya berubah tergantung periode yang diukur — yang saya pegang adalah prinsip: syariah bukan kategori investasi berimbal hasil rendah, tapi kategori dengan penyaringan tambahan.
Keuntungan yang tidak muncul di grafik
Selain prinsip agama, ada beberapa keuntungan struktural yang saya rasakan dari pemilihan syariah:
1. Disiplin keuangan emiten. Ambang rasio utang bunga/aset maksimal 45% (POJK 8/2025; masih 45%, diturunkan bertahap ke 33%) menyaring emiten yang terlalu bergantung pada utang. Perusahaan yang utangnya terkendali umumnya lebih tahan krisis — setidaknya itulah logika screening yang saya pahami.
2. Larangan margin dan short selling. Akun syariah tidak menyediakan fitur margin (berutang ke sekuritas) maupun short selling (menjual saham yang belum dimiliki). Bagi pemula seperti saya, ini justru pengaman: tidak ada jalan untuk mengambil risiko berlebihan tanpa saya sadari.
3. Transparansi akad. Setiap emiten yang lolos DES harus memiliki akad-akad yang jelas dan sesuai prinsip syariah dalam operasional bisnisnya. Ada lapisan pengawasan tambahan dari DPS.
Yang perlu saya waspadai juga
Perbandingan ini jujur: ada hal yang tidak disediakan saham syariah. Emiten perbankan konvensional besar — yang sering menjadi tulang punggung IHSG — tidak ada di DES. Artinya, dalam indeks syariah, bobot sektoralnya berbeda: lebih banyak pada komoditas, perindustrian, dan perbankan syariah, lebih sedikit pada perbankan konvensional konvensional.
Konsekuensinya, dalam kondisi tertentu keduanya bisa berbeda arah. Misalnya saat sektor perbankan konvensional ramai tapi komoditas lesu, IHSG bisa naik sementara ISSI tertahan. Saya tidak menganggap ini kelemahan — saya menganggapnya karakteristik yang harus saya pahami agar tidak kaget saat melihat perbedaannya.
Perbandingan fitur yang nyata terasa
| Fitur | Saham syariah | Saham konvensional |
|---|---|---|
| Margin trading | Tidak tersedia | Tersedia (berutang ke sekuritas) |
| Short selling | Tidak tersedia | Tersedia (menjual saham yang belum dimiliki) |
| Efek di luar DES | Tidak bisa dibeli dari akun syariah | Bisa dibeli |
| Screening utang | Rasio utang bunga/aset maksimal 45% | Tidak ada batas baku |
| Sektor yang tersaring | Bank konvensional, rokok, judi, alkohol | Semua sektor |
| Pengawasan tambahan | DPS (Dewan Pengawas Syariah) | Tidak ada DPS |
Tabel ini yang paling membantu saya menjelaskan ke teman yang bertanya: pilihan syariah bukan hanya soal label, tapi soal batasan nyata yang mempengaruhi cara saya berinvestasi sehari-hari.
Studi kasus: ketika sebuah emiten keluar DES
Review DES berlangsung dua kali setahun (Mei dan November, efektif Juni dan Desember). Ketika sebuah emiten keluar DES, ada beberapa kemungkinan alasannya: rasio utang melampaui ambang, pendapatan non-halal melewati ambang 5%, atau perubahan struktural seperti akuisisi yang mengubah profil bisnis.
Yang saya pelajari sebagai investor syariah: keluar DES bukan sinyal “saham ini akan turun” — itu sinyal “saham ini tidak lagi memenuhi kriteria syariah saya”. Kalau saya memegangnya, saya perlu memutuskan: apakah tetap menunggu periode transisi (ada mekanisme penyesuaian), atau mengalihkan secara bertahap ke emiten lain yang masih di DES. Keputusan ini dibuat sadar, bukan karena panik.
Diversifikasi dalam kerangka syariah
Ketersediaan sekitar 650 emiten di DES memberi ruang diversifikasi yang cukup luas — dari sektor perbankan syariah, pertambangan, perkebunan, sampai properti dan teknologi. Bagi saya, diversifikasi yang baik bukan sekadar “banyak saham”, tapi “banyak sektor yang berbeda karakternya”. Artikel sektor (#23) membahas lebih dalam bagaimana tiap sektor berperilaku berbeda.
Yang penting saya catat: pilihan syariah tidak membatasi diversifikasi saya secara bermakna. Yang tersaring adalah sektor yang memang ingin saya hindari, bukan sektor yang menguntungkan.
Mengapa saya memilih — dan kapan saya mungkin memilih lain
Saya memilih saham syariah karena dua alasan yang saling menguatkan: prinsip agama yang saya pegang, dan karakteristik struktural emiten syariah (utang terkendali, tanpa margin) yang sesuai dengan profil risiko saya sebagai investor jangka panjang.
Yang tidak saya lakukan: memaksakan pilihan ini kepada orang lain. Investor konvensional yang memilih berdasarkan potensi imbal hasil tertinggi dengan pemahaman risiko yang jelas — itu pilihan yang sah dan berdasarkan kesadaran. Bagi saya, pilihan terbaik adalah yang sesuai dengan nilai dan profil risiko saya, dan yang saya pahami alasannya sampai ke angka.
Ketika literasi keuangan bertemu prinsip
Ada satu hal yang sering tidak saya sadari sebagai pemula: keputusan memilih saham syariah sebenarnya melatih saya memahami kesehatan keuangan emiten sebelum membeli. Ketika screening mensyaratkan rasio utang bunga terhadap aset di bawah 45%, saya jadi terdorong belajar membaca neraca, memahami beban bunga, dan menilai apakah perusahaan bertumbuh dari utang. Ketika screening mensyaratkan pendapatan non-halal di bawah 5%, saya belajar membaca segmen usaha emiten — termasuk anak usaha yang tidak saya ketahui sebelumnya.
Secara paradoks, prinsip yang saya pegang justru menjadi guru terbaik dalam literasi keuangan saya. Pengalaman serupa terjadi pada investor ESG global: prinsip nilai menjadi filter yang memaksa pemahaman yang lebih dalam tentang bisnis yang mereka miliki.
Bagaimana jika saya bukan investor muslim?
Pertanyaan ini sering muncul dari teman yang tidak beragama Islam tapi tertarik dengan karakteristik emiten syariah. Jawaban saya: prinsip screening DES bisa dipahami sebagai salah satu bentuk kualitatif dari “quality investing” — memilih emiten dengan neraca yang sehat, ketergantungan utang rendah, dan model bisnis yang transparan.
Di pasar global, prinsip penyaringan serupa sudah berkembang jauh: dari indeks Dow Jones Islamic Market sampai standar AAOIFI yang dipakai banyak produk investasi halal internasional. Bahkan investor non-muslim di beberapa negara memilih produk syariah karena profil risikonya yang cenderung lebih konservatif.
Yang saya tekankan: pilihan ini tidak harus biner. Sebagian investor memilih portofolio campuran — sebagian instrumen syariah, sebagian konvensional — sesuai dengan kenyamanan dan pemahaman masing-masing. Yang terpenting: setiap rupiah yang diinvestasikan dipahami alasannya.
Membangun kebiasaan cek DES sebagai rutinitas
Bagi saya, konsistensi mengecek DES bukan sekadar kepatuhan pada aturan, tapi bagian dari disiplin investasi. Setelah review setiap Mei dan November, saya menyediakan waktu sekitar setengah jam untuk memeriksa: apakah emiten yang saya pegang masih di DES, dan apakah ada emiten baru yang menarik perhatian saya berdasarkan sektor yang belum saya miliki.
Rutinitas sederhana ini juga membantu saya menghindari kejutan: ketika sebuah emiten keluar DES karena perubahan akad atau profil bisnis, saya sudah siap dengan rencana — bukan panik mencari informasi di saat pasar sedang ramai.
Disclaimer singkat
Artikel ini edukatif, bukan perbandingan promosi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil masa depan. Selalu lakukan riset mandiri sebelum memilih instrumen investasi.
Sumber
- IDX, “Indeks Saham Syariah” (ISSI, JII) — idx.co.id
- FortuneIDN, “5 Indeks Saham Syariah di Pasar Modal Indonesia 2025” — fortuneidn.com
- Pluang, “Saham Syariah: Pengertian, Daftar JII, ISSI, dan Cara Beli 2026” — pluang.com
- Cermati, “Mengenal JII70, Salah Satu Indeks Saham Syariah” — cermati.com
Komentar Terbaru