Pernahkah seseorang membuatmu kecewa, lalu kamu menyimpan dendam itu berminggu-minggu? Rasanya berat, ya. Setiap kali mengingat peristiwanya, dada terasa sesak dan emosi kembali memuncak. Ternyata, Islam mengajarkan jalan keluar yang lebih ringan: memaafkan. Bukan karena kita lemah, tapi karena Allah menyukai orang-orang yang demikian.
Memaafkan Itu Pilihan Orang Kuat
Banyak orang mengira memaafkan berarti kalah. Padahal justru sebaliknya. Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain adalah salah satu ciri orang bertakwa yang disebutkan langsung dalam Al-Qur’an. Ini bukan pekerjaan ringan — makanya hanya orang kuat yang mampu.
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka digerakkan oleh setan untuk (terjerumus) ke dalam perbuatan dosa, mereka ingat Allah, lalu mereka sadar kembali. Mereka juga memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
QS. Ali Imran: 134
Ayat itu menyebutkan dua hal berdampingan: bertakwa dan memaafkan. Rupanya keduanya tidak bisa dipisahkan. Orang yang dekat dengan Allah akan lebih mudah melepaskan sakit hatinya.
Sunyi yang Menyehatkan Setelah Memaafkan
Coba ingat kembali saat kamu benar-benar memaafkan seseorang dari lubuk hati. Ada perasaan lega yang anehnya menenangkan. Beban di dada menghilang, seolah ada batu yang terangkat. Itulah efek yang dijanjikan Allah: kemuliaan hidup dan kelapangan dada.
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.
QS. Asy-Syura: 40
Bahkan di ayat berikutnya, Allah menegaskan bahwa perbuatan seperti ini termasuk hal yang diutamakan: “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (QS. Asy-Syura: 43). Sungguh, memaafkan yang kita kira merugikan ternyata justru termasuk amalan terpuji di sisi Allah.
Kisah Tiga Orang di Gua: Doa yang Menyingkap Gunung
Ada kisah indah dari sahabat Umar bin Khattab yang diriwayatkan dalam hadits shahih. Tiga orang terjebak di dalam gua karena longsor. Jalan keluar hanya bisa dibuka dengan doa mereka masing-masing — doa yang dijawab karena kebaikan yang pernah mereka lakukan di masa lalu.
Dua orang pertama menghubungkan doa mereka dengan ibadah: sholat malam dan sedekah. Orang ketiga menyebut sesuatu yang berbeda: pelayanan kepada orang tuanya, lalu — ketika mendapati kambing kawanan sedang tertidur, dia menunggu hingga anak-anak kambing terbangun baru mengambil susunya, demi takut menyusahkan pemiliknya. Lalu dia berkata, “Ya Allah, jika Engkau telah menyembunyikan perbuatan itu (dari manusia), maka ampunilah dosaku.” Nabi ﷺ bersabda:
Ketiganya terus berdoa, dan gunung itu bergeser. Nabi ﷺ bersabda, “Maka istighfarlah kalian semua, dan berdoalah kepada Allah. Sungguh, mereka pun istighfar dan berdoa, lalu gunung itu pun bergeser.”
HR. Bukhari (3410) dan Muslim (71)
Ada satu doa menarik yang terdapat dalam kisah ini (di riwayat lain), ketika seseorang berkata: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebagaimana memohon orang-orang yang berbuat baik kepada keluarga dan orang tuaku, dengan nama-Mu, wahai Allah, ampunilah dosaku.” Nabi ﷺ bersabda, “Mereka berdoa yang lebih baik darimu, lalu mereka keluar (dari gua) memohon ampunan untuk kalian semua.” Termasuk memohon ampunan bagi orang yang telah menyakiti mereka. Lihatlah, memaafkan orang lain justru menjadi jalan doa kita dikabulkan.
Mulai dari Hal Kecil
Tidak harus menunggu kesalahan besar untuk melatih memaafkan. Mulai dari yang kecil: tetangga yang berisik, teman yang lupa janji, keluarga yang tidak peka. Setiap kali berhasil memaafkan, kita sedang berlatih meniru sifat Ar-Rahman yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.
Saya sendiri masih belajar. Ada kalanya memaafkan terasa mustahil. Tapi setiap kali mengingat ayat dan hadits di atas, hati jadi lebih ringan untuk melepaskan. Bagaimana denganmu?
Wallahu a’lam. Untuk masalah fikih detail seputar hak manusia dan hak Allah, sebaiknya tanyakan langsung kepada ustadz atau ulama yang kompeten.
Komentar Terbaru