Perbandingan Agentic AI Coding: OpenCode vs Claude Code vs Codex

Kemarin saya bahas cara kerja agentic AI coding dengan OpenCode sebagai studi kasus. Hari ini saya bandingkan tiga tool yang paling populer saat ini: OpenCode, Claude Code, dan Codex CLI. Semua angka repo diambil langsung dari GitHub API tanggal 11 Agustus 2026, dan detail fitur dari README/dokumentasi resmi masing-masing.

Sekilas Perbandingan

AspekOpenCodeClaude CodeCodex CLI
PengembangKomunitas (Anomaly)AnthropicOpenAI
LisensiMIT (open source)Terms komersial Anthropic (repo publik, bukan lisensi OSI)Apache-2.0 (open source)
⭐ GitHub~195.800~140.900~105.100
Dibuat30 Apr 202522 Feb 202513 Apr 2025
Model bawaanProvider-agnostic (Anthropic, OpenAI, OpenRouter, Ollama lokal, dll)Model ClaudeModel OpenAI
BentukTUI/CLI, desktop (beta), ekstensi IDETerminal, IDE, @claude di GitHubCLI lokal, desktop app, IDE (VS Code/Cursor/Windsurf), Codex Web (cloud)

OpenCode — Open Source Penuh & Bebas Model

Sudah saya bahas detail kemarin: lisensi MIT, provider-agnostic (bisa pakai model apa saja termasuk model lokal via Ollama), TUI-first, dengan sistem agent yang lengkap (primary: build/plan; subagent: general/explore/scout) dan tool bawaan bash, edit file, grep/glob, skill, todowrite, webfetch, websearch, sampai tool question untuk bertanya balik ke user. Punya dukungan MCP, LSP, dan custom tools.

Kekuatan utamanya: transparan dan tidak terikat vendor — kode terbuka (MIT), dan modelnya bisa diganti-ganti. Cocok kalau kamu mau kontrol penuh atas tooling dan tidak mau terkunci ekosistem satu penyedia AI.

Claude Code — Agentic Tool dari Anthropic

Claude Code (repo anthropics/claude-code) adalah agentic coding tool yang hidup di terminal: memahami codebase, mengeksekusi tugas rutin, menjelaskan kode kompleks, dan menangani workflow git lewat perintah bahasa alami. Bisa dipakai di terminal, IDE, atau mention @claude langsung di GitHub. Repo ini juga memuat beberapa plugin resmi yang menambah custom commands dan agents.

Catatan jujur dari README resmi: repo-nya publik tapi bukan open source OSI — didistribusikan di bawah Commercial Terms of Service Anthropic. Ada juga kebijakan data collection: Anthropic mengumpulkan data penggunaan (feedback, data percakapan), dengan beberapa safeguard privasi. Kalau kamu sensitif soal data, ini penting untuk diperhitungkan. Instalasi via npm sudah deprecated — disarankan curl -fsSL https://claude.ai/install.sh | bash, Homebrew, atau WinGet.

Codex CLI — Coding Agent dari OpenAI

Codex CLI (repo openai/codex, lisensi Apache-2.0) adalah coding agent dari OpenAI yang berjalan lokal di komputer. Uniknya, ia terintegrasi dengan ekosistem OpenAI: bisa sign in dengan akun ChatGPT (plan Plus/Pro/Business/Edu/Enterprise) atau pakai API key. Bentuknya beragam: CLI lokal, desktop app (codex app), ekstensi IDE untuk VS Code/Cursor/Windsurf, plus versi cloud-nya bernama Codex Web (chatgpt.com/codex).

Buat yang sudah berlangganan ChatGPT, ini jalur paling mulus: pakai kuota plan tanpa mikir API key. Source code CLI-nya sendiri open source (Apache-2.0), jadi bisa diaudit dan di-build sendiri.

Kapan Pilih Yang Mana?

Prioritas kamuRekomendasiAlasan
Open source penuh, bebas ganti model, TUI-firstOpenCodeMIT, provider-agnostic, ekosistem agen & tool lengkap
Sudah di ekosistem Claude / butuh integrasi GitHub (@claude)Claude CodeMatang dari Anthropic, ada plugin resmi; terima lisensi komersial & data collection
Sudah langganan ChatGPT, mau integrasi IDE + cloudCodex CLIApache-2.0, sign-in ChatGPT plan, ada desktop app & Codex Web

Kesimpulan

Ketiganya sama-sama agentic (loop: panggil tool → lihat hasil → iterasi), bedanya di ekosistem dan lisensi. OpenCode paling terbuka dan fleksibel soal model; Codex paling nyambung buat pengguna ChatGPT; Claude Code paling matang kalau kamu sudah di dunia Claude. Tidak ada yang “paling bagus” mutlak — pilih berdasarkan langganan yang kamu punya dan seberapa penting open source + privasi data buatmu.

Sumber

Belajar Adab Makan ala Rasulullah ﷺ

Hari ini saya belajar tentang adab makan dan minum menurut tuntunan Rasulullah ﷺ. Jujur, selama ini saya makan ya langsung makan saja — jarang memperhatikan hal-hal kecil yang ternyata punya nilai ibadah besar di sisi Allah. Catatan ini saya rangkum dari kajian Ustadz Abdullah Zaen tentang adab makan dan minum, kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri tentang adab di awal makan, serta artikel dari muslim.or.id dan Rumaysho.com. Semoga bermanfaat untuk saya pribadi dan siapa pun yang membacanya.

Adab Sebelum Makan: Membaca Bismillah

Pelajaran pertama yang paling membekas: sebelum makan kita dianjurkan membaca bismillah. Dalam hadits dari Umar bin Abi Salamah, Rasulullah ﷺ bersabda kepada beliau yang saat itu masih kecil,

«يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»

“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Subhanallah, dari satu hadits ini saja kita mendapat tiga adab sekaligus: menyebut nama Allah, makan dengan tangan kanan, dan mengambil makanan yang terdekat. Kalau lupa membaca bismillah di awal, Nabi ﷺ mengajarkan untuk mengucapkan “Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu” (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya) — HR. Abu Dawud no. 3767 dan Tirmidzi no. 1858, dishahihkan Syaikh Al-Albani.

Kenapa bismillah ini penting sekali? Karena dalam hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa “setan menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah padanya” (HR. Muslim no. 2017). Bahkan ada kisahnya: suatu ketika ada anak kecil dan seorang Arab Badui yang tangannya ditahan oleh Nabi ﷺ saat mau mengambil makanan, karena keduanya tidak membaca bismillah — dan ternyata setan ikut serta bersama mereka untuk menikmati makanan itu. Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dalam kajian “Adab di Awal Makan” mengingatkan hal yang sama: awal makan yang benar adalah dengan menyebut nama Allah, supaya setan tidak ikut serta.

Adab Saat Makan: Tangan Kanan dan Tidak Mencela Makanan

Selain makan dengan tangan kanan, ada satu adab yang dulu jarang saya sadari: jangan menjelek-jelekkan makanan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

“Tidaklah Nabi ﷺ mencela suatu makanan sedikit pun. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya; jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, ini adalah adab yang baik kepada Allah — karena kalau kita menjelek-jelekkan makanan, seolah-olah kita menolak rizki yang Allah berikan. Syaikh Utsaimin juga mengingatkan bahwa makanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri, bukan dicela. Kalau memang tidak suka, cukup tinggalkan saja tanpa komentar negatif. Yang menarik, Nabi ﷺ juga pernah memuji makanan sederhana: beliau bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka” (HR. Muslim no. 2052). Beliau tidak meminta yang mewah-mewah, lauk cuka pun dipuji dan disantap dengan senang hati.

Ada juga sunnah yang mungkin jarang kita lakukan: menjilat sisa makanan di jari setelah makan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian makan, janganlah ia mengusap tangannya sebelum ia menjilatnya atau dijilatkan kepada orang lain.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031). Alasannya, kita tidak tahu di bagian makanan mana letak keberkahan itu berada. Makan dengan tiga jari juga termasuk sunnah dan menunjukkan sikap tawadhu’.

Adab Setelah Makan: Memuji Allah

Ternyata selesai makan pun ada adabnya, yaitu memuji Allah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang menikmati makanan lalu memuji Allah setelahnya, atau meneguk minuman lalu memuji Allah setelahnya.” (HR. Muslim no. 2734)

Bayangkan, hanya karena mengucap hamdalah setelah makan, Allah ridha kepada kita. Masya Allah, begitu murahnya pahala yang Allah sediakan. Salah satu doa yang bisa dibaca setelah makan: “Alhamdulillaahil ladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa muslimiin” — “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, dan menjadikan kami orang-orang muslim” (HR. Abu Dawud no. 3850).

Yang paling berkesan buat saya dari belajar hari ini: makan itu ternyata bukan sekadar mengisi perut, tapi bisa menjadi ibadah yang berpahala jika dilakukan dengan adab. Mulai dari bismillah, makan pakai tangan kanan, tidak mencela makanan, sampai memuji Allah setelahnya — semuanya sederhana, tapi kalau dibiasakan insya Allah hidup kita jadi lebih berkah. Semoga Allah memberi kita taufik untuk istiqamah mengamalkan sunnah-sunnah kecil ini. Aamiin.

Cara Kerja Agentic AI Coding (Studi Kasus: OpenCode)

Kemarin saya sempat riset tentang agentic AI coding — tren AI yang lagi ramai dipakai untuk menulis kode. Beda dengan AI generasi lama yang cuma menjawab potongan kode sekali jalan, agentic AI bisa mengerjakan tugas sampai selesai: baca file, edit, jalankan perintah, cari di web, bahkan bertanya balik ke kita. Contohnya OpenCode, Claude Code, Codex CLI, Cursor Agent. Di tulisan ini saya bahas cara kerjanya, dengan OpenCode sebagai studi kasus.

Apa itu Agentic AI Coding?

Perbedaan fundamentalnya begini:

AI Assistant klasik (autocomplete/chat)Agentic AI coding
Cara kerjaMenjawab potongan kode sekali jalanLoop: model → panggil tool → lihat hasil → lanjut, sampai tugas selesai
AksesHanya teks di editorBisa baca/edit file, jalankan shell, cari di web, tanya user
KontrolUser yang mengeksekusiAgent yang mengeksekusi (dengan permission yang bisa dibatasi)
ContohCopilot autocompleteOpenCode, Claude Code, Codex CLI, Cursor Agent

Cara Kerja Inti: Agent Loop

Inti dari semua agentic coding adalah agent loop — siklus yang diulang sampai target tercapai:

  1. Konteks — agent diberi instruksi + isi repo, aturan proyek (AGENTS.md/rules), dan riwayat sesi.
  2. Putuskan — model memilih: jawab langsung, atau panggil tool.
  3. Eksekusi — tool dijalankan (edit file, run test, fetch docs), output dikembalikan ke konteks.
  4. Iterasi — ulangi sampai target tercapai, lalu lapor hasil.

Yang membuat loop ini aman dan berguna ada empat dukungan kunci: sistem permissions (apa yang boleh dijalankan tanpa izin), subagent (agent khusus yang didelegasikan), context management (kompaksi saat konteks panjang), dan integrasi LSP/MCP (code intelligence + tool eksternal).

OpenCode sebagai Contoh Nyata

OpenCode (opencode.ai) adalah agentic coding open-source yang cukup populer. Data repo terverifikasi via GitHub API (11 Agustus 2026):

  • Repo: anomalyco/opencode — “The open source AI coding agent”
  • ~195.800 ⭐, 25.100+ fork, lisensi MIT, bahasa TypeScript
  • Dibuat 30 April 2025, masih aktif (push terakhir 10 Agustus 2026)
  • Bentuk: TUI (terminal), CLI opencode run, desktop app (beta), ekstensi IDE

Sistem Agent

OpenCode punya dua tipe agent: primary (dipakai langsung, ganti via tombol Tab) dan subagent (dipanggil via @nama atau otomatis oleh agent utama):

AgentTipeAksesFungsi
buildprimary (default)semua tooldevelopment, edit + run perintah
planprimaryread-only (edit: deny, bash: ask)analisis & buat rencana tanpa menyentuh kode
generalsubagentsemua tool kecuali todoriset multi-langkah, bisa jalan paralel
exploresubagentread-onlyjelajah/cari di codebase dengan cepat
scoutsubagentread-onlyriset dokumentasi/dependency eksternal
compaction, title, summaryhiddenkompaksi konteks, judul sesi, ringkasan (otomatis)

Tool Bawaan

Semua tool bisa di-allow/ask/deny satu per satu lewat konfigurasi permission:

ToolFungsi
basheksekusi perintah shell
read / write / edit / apply_patchoperasi file
grep / globpencarian (ditenagai ripgrep, hormati .gitignore)
lsp (eksperimental)go-to-definition, find-references, hover
skillmemuat SKILL.md (knowledge prosedural)
todowritetodo list saat tugas kompleks
webfetchambil konten halaman web
websearchcari web via Exa AI (tanpa API key, aktivasi via env)
questionbertanya ke user saat eksekusi (klarifikasi/pilihan)

Cara kerja khasnya: agent memanggil tool → hasil tool masuk konteks → model menyambung logika → bisa membuat sesi child untuk subagent, lalu kembali ke sesi induk. Modelnya provider-agnostic (Anthropic, OpenAI, OpenRouter, model lokal via Ollama, dll) — tidak terikat satu vendor. Konfigurasi via opencode.json atau file markdown di .opencode/agents/.

Kesimpulan

Agentic coding pada dasarnya memberi LLM tangan (tools) + aturan (permissions) + ingatan kerja (konteks sesi), lalu membiarkannya mengulang loop eksekusi sampai selesai. OpenCode adalah implementasi open-source yang bagus untuk dipelajari: konsepnya sederhana (loop + tools), tapi lengkap — subagent, MCP, LSP, permission. Yang menarik buat saya: loop yang sama persis juga dipakai asisten riset di mesin ini untuk men-delegate tugas, jadi paham konsep ini ternyata berguna di luar coding.

Sumber