Hari ini saya dapat belajar lagi satu kisah dari Al-Quran yang panjang umurnya selalu saya dengar tapi baru sekarang saya mau memahaminya pelan-pelan: kisah Nabi Yunus alaihissalam dan ikan besar. Kisahnya ringkas di dalam Al-Quran, tapi dari situ saya mendapat banyak pelajaran tentang sabar, taubat, dan adab seorang hamba kepada Rabb-nya. Ini yang saya catat.
Ketika Seorang Nabi Meninggalkan Kaumnya
Nabi Yunus diutus kepada penduduk Ninawa, sebuah negeri yang penduduknya menyembah berhala. Bertahun-tahun beliau berdakwah, tapi hanya sedikit yang mau beriman. Suatu ketika beliau marah dan pergi meninggalkan kaumnya — sebelum Allah mengizinkan beliau hijrah. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam firman-Nya:
“Dan (ingatlah) kisah Dzun-Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia mengira bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka dia berdoa dalam kegelapan yang sangat gelap, ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.'” (QS. Al-Anbiya: 87)
Bagian yang menyentuh saya dari ayat ini: Nabi Yunus tidak marah kepada Allah, tapi karena kaumnya membangkang, beliau meninggalkan tugasnya tanpa izin. Lalu beliau sendiri yang mengakui, “Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” Orang besar saja bisa berbuat keliru, dan yang membedakan adalah keberaniannya mengakui kesalahan itu di hadapan Allah.
Di Dalam Perut Ikan Besar
Setelah meninggalkan Ninawa, Nabi Yunus menaiki kapal yang penuh muatan. Di tengah laut kapal itu terombang-ambing dan dikhawatirkan tenggelam karena kelebihan penumpang. Para penumpang sepakat mengadakan undian, dan undian jatuh kepada Nabi Yunus. Beliau pun dilemparkan ke laut, lalu ditelan oleh ikan besar. Allah berfirman dalam QS. Ash-Shaffat:
“…Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berdzikir (kepada Allah), niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 142–143)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu menjelaskan, kegelapan yang disebut dalam doa Nabi Yunus adalah tiga lapis sekaligus: gelapnya malam, gelapnya lautan, dan gelapnya perut ikan. Dalam kondisi sehina-hinanya itu, yang Nabi Yunus lakukan bukan mengeluh, bukan menyalahkan siapa pun, melainkan berdzikir dan berdoa. Saya baru sadar: dzikir yang selama ini saya anggap aktivitas “mengisi waktu” ternyata bisa menjadi penyelamat dalam keadaan paling genting sekalipun.
Doa yang Menembus Kegelapan
Doa Nabi Yunus, “Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin”, dijawab langsung oleh Allah. Firman-Nya:
“Maka Kami mengabulkan (doa)nya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 88)
Allah memerintahkan ikan untuk melepaskan Nabi Yunus, lalu melemparkannya ke tepi pantai dalam keadaan sakit, dan Allah menumbuhkan untuknya sebatang pohon labu sebagai naungan dan obat (QS. Ash-Shaffat: 145–146). Saya belajar dari sini: pertolongan Allah datang bukan karena hebatnya amal yang kita timbun, tapi karena keikhlasan taubat dan doa. Setelah diselamatkan, Nabi Yunus diutus kembali kepada kaumnya — kini kepada seratus ribu orang atau lebih (QS. Ash-Shaffat: 147).
Kaum yang Bertobat Sebelum Azab
Yang membuat kisah ini istimewa: kaum Ninawa akhirnya beriman. Allah menyebut mereka dalam QS. Yunus ayat 98 sebagai satu-satunya kaum yang imannya muncul tepat sebelum azab turun, lalu azab itu diangkat dari mereka. Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa azab dari Allah “tidak akan ditolak dari kaum yang berdosa” (QS. Yunus: 101), kecuali untuk kaum Yunus yang diistimewakan.
Ini berarti bagi saya: taubat tidak pernah terlambat selama nyawa masih di badan. Kaum Ninawa nyaris ditimpa azab, dan ketika mereka bersungguh-sungguh bertobat, Allah menghilangkan azab itu. Pintu taubat terbuka sampai matahari terbit dari barat.
Pelajaran Adab: Jangan Merendahkan Sesama Manusia
Ada satu hadits yang membuat saya tersadar akan derajat Nabi Yunus di sisi Allah. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Tidak layak bagi seorang hamba untuk mengatakan, ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.'” (HR. Muslim, Kitab Fadhail)
Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya. Meski Nabi Yunus sempat berbuat keliru, Allah telah mengampuninya dan memujinya, sampai-sampai Nabi kita melarang kita menganggap beliau rendah. Saya terapkan dengan begini: jangan pernah menghakimi kesalahan orang lain seolah saya lebih baik darinya. Siapa tahu orang yang saya nilai rendah itu justru lebih dicintai Allah karena taubatnya.
Yang Saya Bawa Pulang Hari Ini
Dari kisah Nabi Yunus, ada tiga hal yang ingin saya amalkan:
- Jangan lari dari masalah, selesaikan dengan Allah. Ketika dakwah terasa berat, Nabi Yunus memilih pergi. Saya belajar bahwa sikap yang benar bukan kabur dari tanggung jawab, tetapi meminta petunjuk dan kesabaran kepada Allah.
- Hafalkan doa Dzun-Nun untuk saat sulit. Rasulullah bersabda, doa Nabi Yunus ini mustajab — tidak ada seorang Muslim yang berdoa dengannya dalam kesulitan kecuali Allah mengabulkannya (HR. Tirmidzi). Saya mulai menghafalnya, karena tidak tahu kapan butuh.
- Taubat tidak pernah terlambat. Kaum Ninawa diselamatkan karena taubat. Selama saya masih bernapas, tidak ada alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah.
Sungguh, kisah ini mengajarkan saya bahwa di balik kesalahan, ada taubat; di balik kegelapan, ada doa; dan di balik kesulitan, ada jalan keluar bagi orang-orang yang beriman. Semoga catatan ini bermanfaat juga untuk pembaca sekalian.
Sumber
- Al-Quran, QS. Al-Anbiya: 87–88; QS. Ash-Shaffat: 139–148; QS. Yunus: 98 (Terjemahan Kementerian Agama RI)
- Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Anbiya ayat 87–88
- HR. Muslim, Kitab Fadhail (no. 6159, riwayat Abu Hurairah)
- HR. Tirmidzi tentang keutamaan doa Dzun-Nun, diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash
- NU Online — “Kisah Nabi Yunus saat Ditelan Ikan Besar” (islam.nu.or.id/hikmah/kisah-nabi-yunus-saat-ditelan-ikan-besar-RCxGp)
- Hadits.id — kumpulan “Aku diberi keutamaan yang lebih besar daripada Yunus bin Matta” (hadits.id)
Komentar Terbaru