Setelah di bagian pertama kita membahas kenapa menikah — bahwa pernikahan adalah ibadah dan tujuannya harus jelas sebelum melangkah — kajian Ngaji Jomblo kali ini mundur selangkah lagi ke hal yang paling mendasar: persepsi. Ustadz Felix Siauw membuka episode kedua dengan tegas: persepsi menentukan segala-galanya. Sebelum membahas cara mencari pasangan, cara taaruf, atau cara meyakinkan orang tua, kita harus bereskan dulu bagaimana kita memandang pernikahan itu sendiri. Lalu di episode ketiga, beliau mengupas apa sebenarnya nikah itu menurut Al-Quran — konsep aswaj dan sakinah.
Persepsi menentukan segalanya
Ustadz Felix memakai beberapa perumpamaan untuk menjelaskan persepsi. Bayangkan orang memakai kacamata hitam — mendadak semua di depannya tampak gelap, dan dia yakin dunia memang gelap. Orang memakai kacamata merah bersikukuh semuanya merah. Padahal di luar sana warnanya sama. Begitu pula cara kita memandang; ubah persepsinya, berubah seluruh caranya. Beliau mencontohkan lewat kejadian di mobil: ketika ada yang kentut dan tidak ada yang mengaku, anak-anak takut dimarahi. Tapi begitu persepsinya diganti — “Abi tidak marah pada orang yang kentut, Abi marah pada yang bohong” — kejujuran pun keluar. Mengganti persepsi berarti mengganti cara orang bersikap, berperasaan, dan memahami.
Dalam Islam, persepsi itu ibarat akidah — dasar dari segala dasar yang dibangun di atasnya. Sebelum ada fisik bangunannya, sudah ada dulu persepsinya. Kalau persepsi kita benar, hampir semua pertanyaan yang sering muncul di benak calon pengantin — soal pasangan seperti apa yang dicari, soal biaya, soal perbedaan agama, soal keluarga — perlahan akan terjawab dengan sendirinya.
Persepsi yang salah: nikah ala film dan sinetron
Sebagian besar orang membangun persepsi pernikahan dari film. Nonton Twilight, lalu membayangkan nikah itu harus seperti di layar: cewek seksi, cowok ganteng, gaun indah, diselingi lagu Thousand Years. Ada yang membayangkan nikah seperti sinetron, seperti komik Jepang, atau sekadar live happily ever after — berakhir bahagia tanpa tahu apa yang terjadi setelah tulisan “selesai”.
Dari persepsi itulah lahir perilaku. Kalau nikah dibayangkan sebagai romantisme belaka, wajar kalau yang dicari adalah kangen-kangenan, telepon-teleponan, pegangan tangan, dan nonton bareng. Wajar kalau jalurnya pacaran — karena di jalan pacaranlah orang mencari romantisme. Ustadz Felix mengaku dulu, sebelum masuk Islam, persepsinya persis seperti itu: pernikahan hanyalah kelanjutan kisah cinta, sampai menua lalu mati. Tapi ketika Islam masuk, semuanya berubah.
Persepsi berubah: ada kehidupan setelah hidup yang ini
Persepsi dasar yang diajarkan Islam adalah: hidup di dunia ini sementara, dan ada kehidupan setelahnya yang kekal. Semua yang kita lakukan sekarang sedang dicatat dan akan dipertanggungjawabkan. Maka persepsi Ustadz Felix tentang pernikahan berubah total — dari sekadar romantisme menjadi ibadah: sebuah aktivitas yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Beliau lalu memberikan analogi yang kuat: kalau pernikahan adalah ibadah, maka kita harus mengikuti spek yang diinginkan oleh yang punya perusahaan — bukan selera kita. Seperti karyawan yang diberi lima tugas oleh bosnya: tiga wajib, dua opsional. Kalau karyawan itu malah mengerjakan yang opsional dengan sangat bagus tapi mengabaikan yang wajib, bosnya tidak peduli. “Kamu dibayar untuk mengerjakan yang tiga itu.” Begitu pula nikah: kalau kita menganggapnya ibadah, kita harus belajar rukunnya, syaratnya, dan kondisi idealnya dari Allah dan Rasul-Nya — bukan dari film.
Nikah: ibadah yang paling lama
Salat berapa lama? Lima sampai delapan menit. Puasa? Beberapa belas jam sehari, dan hanya sebulan dalam setahun. Haji? Beberapa hari. Tetapi nikah berlangsung bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun — dan tidak ada orang waras yang menetapkan target “nikah sampai kapan”. Kita ingin menikah untuk selama-lamanya, sampai-sampai istri atau suami kita kelak diharapkan menemani kita di surga. Karena itulah nikah disebut ibadah yang paling lama, dan akadnya disebut Al-Quran sebagai mitsaqan ghalizha — perjanjian yang teramat berat dan suci (QS. An-Nisa: 21).
Kalau salat yang hanya beberapa menit saja disiapkan dengan wudu, pakaian, dan ilmu, apalagi pernikahan yang bertahun-tahun. Karena itu masuk ke pernikahan tidak boleh dengan tergesa-gesa (kesusu, bahasa Jawanya) atau dengan cara trial and error. Ketidaktahuan mengakibatkan ketakutan; pengetahuan mengakibatkan ketenangan. Kalau belum tenang menghadapi nikah, berarti belum cukup tahu.
Nikah 101: apa itu aswaj
Di episode ketiga, Ustadz Felix membuka “Nikah 101” dari ayat yang sering dibaca di undangan pernikahan, QS. Ar-Rum: 21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan (aswaj) dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram (litaskunu) kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang…”
Kata aswaj bisa diartikan pasangan, istri, atau pelengkap. Konsepnya dalam: seluruh ciptaan Allah diciptakan berpasangan — hanya Allah yang tidak berpasangan, karena Dia Maha Esa dan tidak membutuhkan pelengkap. Manusia justru diciptakan dalam keadaan tidak lengkap sebelum punya pasangan. Pasangan itu melengkapi apa yang tidak kita miliki. Ustadz Felix mencontohkan dirinya yang mudah terburu-buru dan kurang sabar, sehingga mencari istri yang sabar dan penuh perhitungan — bukan yang sama persis dengannya. Sekufu itu penting, sama itu tidak penting. Yang sama tidak melengkapi; justru perbedaan yang saling menutup kekurangan itulah makna aswaj.
Allah menghiasi manusia dengan rasa cinta dan kasih sayang — termasuk cinta kepada lawan jenis dan kepada anak. Ikatan pernikahan adalah cara Allah menyalurkan rasa itu dengan cara yang benar. Kalau institusi pernikahan rusak, penyakit sosial pun bertambah; orang stres dan mencari pelampiasan yang salah, karena kehilangan saluran kasih sayang yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta.
Sakinah: ketenangan jiwa, bukan sekadar rumah mewah
Kata sakinah berasal dari sakana-yaskunu, artinya diam — lawan dari bergerak dan bergejolak. Kata sukun dalam ilmu tajwid berasal dari akar yang sama: sukun berarti berhenti. Maskanah berarti tempat kediaman, tempat istirahat. Makanya istri disebut sakinah: orang yang menenteramkan — menentramkan hati, pikiran, dan jiwa suaminya, begitu pula sebaliknya.
Sejak kisah Adam di surga, Allah berfirman: “Wahai Adam, tinggallah (uskun) engkau dan istrimu di surga…” (QS. Al-Baqarah: 35). Bukan Adam sendirian — Adam dan pasangannya, untuk diam dan tenang bersama. Ini menegaskan bahwa ketenangan dalam Al-Quran selalu berhubungan dengan pasangan. Istri adalah “rumah” sejati; rumah yang asal katanya adalah perasaan, bukan bentuk fisik. Ustadz Felix menegaskan: berapa banyak orang yang masuk rumah malah stres, deg-degan, tidak nyaman? Berarti rumahnya tidak memberikan sakinah. Sebaliknya, Rasulullah — ketika pulang dalam keadaan gemetar setelah menerima wahyu — melihat wajah Khadijah dan setengah kekhawatirannya hilang. I’m home. Hadirnya sang istri saja sudah cukup membuat beliau tenang.
Karena sakinah adalah perkara perasaan, ia tidak bisa dibeli dengan furniture atau rumah besar. Beliau bahkan mengingatkan para istri dengan guyonan yang serius: jangan pakai daster lusuh terus di rumah, sementara baju terbaik dipakai di luar. Kalau suami di rumah melihat pemandangan di luar lebih “bagus” daripada di dalam, di situlah sakinah mulai hilang. Bersoleklah di rumah, untuk orang yang halal melihatnya. Begitu pula suami: istri yang selalu merasa takut, tidak berharga, atau “tidak pernah benar” di depan suaminya berarti tidak menemukan ketenangan.
Sakinah turun dari Allah
Yang paling dalam dari pembahasan ini: sakinah itu diturunkan Allah, bukan dibuat manusia. Al-Quran memakai kata anzala (menurunkan) hanya untuk hal-hal yang datang langsung dari Allah — seperti Al-Quran. Maka sakinah adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada pasangan yang menikah karena-Nya. Ketika suami istri saling melengkapi dan semuanya dilakukan lillah, Allah turunkan ketenangan itu. Sakinah membuat kita tidak tertarik mencederai pernikahan, karena pasangan kita sudah menjadi penawar dari komentar-komentar toksik dunia luar. Seperti Allah yang menurunkan sakinah kepada orang-orang beriman saat menghadapi pasukan yang lebih besar, hanya Allah pula yang bisa menurunkan sakinah dalam rumah tangga.
Kesimpulannya: kalau kita menikah karena Allah, kita akan menemukan sakinah di dunia — dan balasan dari sisi Allah yang tidak terhitung di akhirat. Inilah yang dicari dalam pernikahan. Jangan membayangkan nikah hanya soal romantis-romantisnya; pahami dulu bagaimana Allah menempatkan manusia, lalu bagaimana kesempatan untuk meraih sakinah itu bisa direalisasikan — salah satunya lewat pernikahan. Persepsi dibetulkan dulu, baru urusan visi, keuangan, menghadapi orang tua, dan proses khitbah bisa dibahas di atas fondasi yang benar — insya Allah di episode-episode berikutnya.
Sumber
- Ngaji Jomblo 02 — “Nikah Itu Mulai dari Persepsi”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
- Ngaji Jomblo 03 — “Nikah 101”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
- QS. Ar-Rum: 21 — aswaj dan litaskunu (pasangan sebagai pelengkap dan penenteram)
- QS. Al-Baqarah: 35 — “uskun anta wa zaujuka al-jannah” (Adam dan Hawa diam di surga)
- QS. An-Nisa: 21 — akad nikah sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat)
- HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani — “barang siapa menikah, ia telah menyempurnakan separuh agamanya” (Syaikh Al-Albani menilainya sahih dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 625; sebagian ulama lain menilai dhaif)
Komentar Terbaru