Tulisan ini adalah catatan belajar lanjutan dari seri Ngaji Jomblo. Pada dua catatan sebelumnya saya mencatat soal tujuan menikah — bahwa nikah adalah ibadah yang paling lama dan sarana kaderisasi umat — lalu soal persepsi: nikah harus dipandang sebagai ibadah, dan pasangan adalah pelengkap (aswaj) yang membuat kita merasa sakinah. Kali ini pembahasannya sampai pada bagian yang paling ditunggu banyak orang: soal cinta. Dari episode keempat, Nikah 102, saya belajar sesuatu yang mengubah cara saya memandang romantisme pernikahan: cinta dalam rumah tangga ternyata terdiri dari dua kata yang berbeda makna — mawaddah dan rahmah — dan keduanya adalah buah dari sakinah yang Allah turunkan. Di episode ketujuh belas yang berbentuk sesi tanya jawab, urusan ini dituntaskan: cinta sejati justru datang setelah nikah, bukan sebelumnya.
Mawaddah warahmah: buah dari sakinah
Di catatan kedua saya sempat menulis QS. Ar-Rum: 21, ayat yang hampir selalu dibaca di undangan pernikahan. Kalau dibaca utuh, ayat itu berisi tiga bagian: Allah menciptakan pasangan dari jenis kita supaya kita merasa tenteram kepadanya (litaskunu ilaiha), lalu Allah menjadikan di antara kita rasa kasih dan sayang (mawaddah warahmah), dan semua itu adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi kaum yang berpikir. Urutan ini bukan kebetulan: ketenteraman disebut lebih dulu, baru kemudian cinta. Artinya, mawaddah warahmah adalah hasil dari sakinah, bukan syarat untuk mendapatkannya.
Ustadz Felix menjelaskan satu detail kebahasaan Al-Quran yang bagi saya sangat dalam. Untuk penciptaan langit dan bumi, Al-Quran memakai kata khalaqa — menciptakan dari tidak ada, tanpa campur tangan manusia. Tetapi untuk cinta dan kasih sayang, Allah memakai kata ja’ala — menjadikan, yang menuntut usaha dari pihak yang menjadikan. Allah menjadikan cinta di antara pasangan dengan melibatkan usaha manusia, dan Allah ingin melihat usaha itu. Manusia tidak bisa memproduksi sakinah; sakinah diturunkan Allah. Tetapi setelah sakinah turun, manusialah yang menjaganya dengan mawaddah warahmah. Karena itu doa walimatul ‘ursy — sakinah, mawaddah, warahmah — bagi ustadz sebenarnya sudah cukup menggambarkan seluruh harapan pernikahan: ketenangan dulu, lalu cinta menyusul karena Allah yang menjadikannya.
Karena sakinah adalah ketenangan yang diturunkan Allah kepada orang-orang yang taat, ustadz juga menjelaskan pembandingnya: orang yang bermaksiat justru memperoleh deg-degan, bukan ketenangan. Ia mengutip hadits Rasulullah agar kita minta fatwa pada hati sendiri — kemaksiatan adalah yang membuat kita benci jika dilihat orang lain, sedangkan ketaatan terasa tenang dikerjakan dan tidak masalah dilakukan di tengah orang banyak. Perumpamaannya, orang yang sudah menikah berjalan dengan istrinya tampak santai, stabil, memegang tangan sewajarnya; orang yang pacaran terlihat mengebu-gebu karena dikuasai syahwat. Seperti orang lapar yang baru berbuka puasa dengan satu kurma dan seteguk air lalu merasa cukup — ketika sakinah turun, semuanya tenang.
Mawaddah: cinta yang membuncah
Kata pertama, mawaddah, sering diterjemahkan sekadar “cinta”. Padahal para ulama tafsir menggambarkannya jauh lebih berwarna: sebuah rasa yang membuncah, sangat kuat, kadang tidak tertahan dan menggelega. Mawaddah adalah cinta yang melimpah dalam bentuk fisik — ketika suami membelai istrinya yang halal, memeluknya, dan menjalani interaksi suami istri. Ustadz Felix menegaskan, Islam tidak pernah menghalangi romantisme di dalam rumah tangga. Suami istri yang berromantis ria seperti adegan film Korea? Tidak ada masalah, selama itu di dalam ikatan yang halal. Bahkan Islam memperbolehkan suami istri saling menyenangkan di malam hari di bulan Ramadan sekalipun.
Beliau mengutip hadits ketika Rasulullah ditanya tentang memilih istri: pilih yang perawan. Kenapa? Karena perawan lebih bisa bercumbu ayu, lebih enak diajak bermain — playful. Dalam hadits lain, Rasulullah menyebut tiga permainan yang bermanfaat: menjinakkan kuda, membidik panah dengan baik, dan seorang laki-laki yang bercumbu ayu dengan istrinya. Dari sini saya paham, mawaddah bukan sesuatu yang harus ditahan-tahan; ia bagian dari kehidupan rumah tangga yang disyariatkan dan diperbolehkan untuk dinaikkan levelnya bersama istri.
Syahwat kepada istri: yang melembutkan hati
Di bagian ini ustadz mengutip Imam Nawawi. Menurut beliau, syahwat yang disukai para nabi, rasul, ulama, dan orang-orang saleh adalah syahwat kepada istrinya. Syahwat ini menghindarkan manusia dari banyak keburukan: menundukkan pandangan, menjaga diri, dan memperbanyak keturunan. Yang paling membuat saya tercenung adalah penjelasan beliau: andaikan syahwat-syahwat dunia yang lain dituruti, ia akan mengeraskan hati. Tetapi syahwat kepada istri ini tidak mengeraskan — justru melembutkan hati para pelakunya. Itulah syahwat yang diberkahi Allah dalam bentuk mawaddah di antara suami dan istri.
Karena mawaddah penting, Rasulullah bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu (al-ba’ah), maka menikahlah.” Sebagian ulama menafsirkan al-ba’ah sebagai kemampuan menjalani hubungan suami istri — isyarat bahwa urusan ini harus diperhatikan, bukan dianggap tabu. Ada juga riwayat yang disampaikan dalam kajian ini: seorang sahabat bertanya, bolehkah ia mendatangi istrinya dengan syahwat yang menggelega? Rasulullah menjawab boleh. Apakah ia mendapat pahala? Rasulullah balik bertanya: kalau ia mendatangi orang lain dalam zina, apakah berdosa? Pasti. Maka demikian pula ketika ia mendatangi istrinya dengan halal, itu adalah pahala.
Rahmah: kasih sayang yang tidak perlu fisik
Kata kedua, rahmah, adalah pasangan dari mawaddah. Kalau mawaddah bersifat fisik dan membuncah, rahmah adalah kasih sayang yang berkepanjangan dan tidak butuh fisik sama sekali — tidak butuh balasan, tidak butuh syarat. Di sini ustadz bercerita tentang kutipan Buya Hamka dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang ia baca sejak masa sekolah, jauh sebelum masuk Islam: “Cinta itu punya banyak pintu… dan pintu yang terbaik adalah lewat rasa kasihan.” Dulu ia hanya merasa kutipan itu keren; setelah ngaji, baru ia paham maksudnya. Dicintai karena kasihan — karena dikasihani — itulah rahmah, dan ia adalah perwujudan cinta Allah kepada makhluk-Nya.
Ustadz menggambarkan rahmah lewat seorang ibu: ia merobek dagingnya, mengucur darahnya, hampir retak tulangnya ketika melahirkan — lalu tersenyum, menangis bahagia, menyusui anaknya, seolah tidak ada yang lebih senang darinya di dunia ini. Itu rahmah: tidak butuh fisik, tidak butuh balasan. Maka ketika kita menghadap Allah kelak, yang kita harapkan bukan keadilan-Nya — karena kalau Allah adil kepada kita, habislah kita — melainkan rahmah-Nya. Allah mensifati diri-Nya dengan Ar-Rahman Ar-Rahim: pengasih yang sebesar-besarnya dan sepanjang-panjangnya. Dalam rumah tangga, rahmah tampak ketika pasangan berbuat salah dan kita mampu marah, tetapi memilih membalasnya dengan senyuman dan kata-kata baik. Man la yarham la yurham — siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi. Rasulullah menyebutkan, pandangan seorang suami kepada istrinya dengan pandangan rahmah saja sudah bernilai pahala; ketika suami memegang tangan istrinya, berguguran dosa-dosa dari sana.
Cinta sejati datang setelah nikah
Di episode ketujuh belas yang berbentuk tanya jawab, ada pertanyaan yang menurut saya mewakili banyak jomblo: bagaimana kalau ada laki-laki yang baik agamanya menghitbah, tetapi kita tidak punya rasa suka sama sekali? Jawaban ustadz mengejutkan: yang kita cari bukan rasa suka dulu. Perasaan itu adalah hasil dari interaksi, bukan syarat awal. Orang Jawa punya pepatah, witing tresno jalaran soko kulino — cinta itu tumbuh karena terbiasa. Karena itu ustadz mengingatkan, jangan sering menonton film yang mengajarkan love at first sight. Rasa suka pada pertemuan pertama itu ada, tetapi bukan cinta. Ia sendiri mengaku: ketika pertama kali melihat istrinya, ia senang — bukan cinta.
Lalu beliau menegaskan sesuatu yang bagi saya adalah inti catatan hari ini: kita tidak akan pernah memahami cinta yang sejati sebelum menikah. Cinta sejati itu ada setelah nikah — itulah yang Allah maksudkan ketika berfirman, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin” (QS. Al-Fath: 4). Sakinah yang Allah turunkan itulah cinta sejati. Bukan perasaan yang kita usahakan sendiri, tetapi yang Allah berikan dan Allah tumbuhkan di hati orang-orang yang nantinya mencintai kita. Jadi kalau hari ini kita dihitbah oleh orang yang baik agamanya tetapi belum ada perasaan, itu bukan masalah — cinta itu akan datang, Allah yang karuniakan, dan biasanya justru setelah pernikahan berlangsung.
Menjaga hati sambil menunggu
Masih dari sesi tanya jawab, ada pertanyaan tentang bagaimana menahan hati dari seseorang sebelum menikah. Ustadz menjelaskan soal trigger: perasaan selalu dipicu oleh sesuatu — fisik, seperti melihat sendalnya atau tulisannya, dan memori. Cara menahannya adalah menghilangkan trigger-nya, lalu menumpuk memori lama dengan kebiasaan baru: belajar, berdakwah, mengaji — aktivitas yang jelas faidahnya. Ustadz mengaku, waktu dulu keseruan berdakwah dan mempelajari Islam itu sama serunya dengan orang pacaran; bedanya, yang satu berfaidah dan yang lain maksiat.
Dari episode keempat dan ketujuh belas ini, catatan saya sederhana: jangan menunggu merasa cinta dulu untuk berani menikah, dan jangan menganggap perasaan sebagai satu-satunya modal rumah tangga. Sakinah diturunkan Allah; mawaddah warahmah dijadikan Allah dari usaha kita. Urutannya jelas: taat karena Allah, sakinah turun, lalu cinta — yang membuncah dan yang berkepanjangan — menyusul. Itulah cinta sejati, dan ia datang setelah nikah. Insya Allah di catatan berikutnya kita lanjut ke soal mencintai karena Allah, yang sempat disebut ustadz sebagai kelanjutan dari pembahasan Nikah 102.
Sumber
- Ngaji Jomblo 04 — “Nikah 102”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
- Ngaji Jomblo 17 — “Q&A”, Ustadz Felix Siauw (YouTube)
- QS. Ar-Rum: 21 — mawaddah warahmah sebagai tanda kekuasaan Allah
- QS. Al-Fath: 4 — Allah menurunkan ketenangan (sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin
- Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck — “Cinta itu punya banyak pintu… pintu yang terbaik adalah lewat rasa kasihan”
- Hadits dan riwayat yang dikutip dalam kajian (perawi dan status kesahihan tidak disebutkan dalam episode): memilih perawan karena bisa bercumbu ayu; tiga permainan yang bermanfaat; “man istatha’a minkumul ba’ah falyatazawwaj”; pahala mendatangi istri secara halal; man la yarham la yurham; pandangan rahmah bernilai pahala dan memegang tangan istri menggugurkan dosa
Komentar Terbaru