Pernah nggak merasa hidup kayak jalan di tempat? Duit pas-pasan, hubungan renggang, hati sumpek — tapi nggak tahu harus mulai dari mana untuk memperbaikinya? Saya pernah. Dan justru di momen-momen seperti itu, saya menemukan satu amalan sederhana yang sering kita anggap remeh: istighfar.
Istighfar itu artinya memohon ampun kepada Allah. Bukan sekadar “ampuni dosaku, ya, Allah” lalu selesai. Istighfar yang sesungguhnya adalah kesadaran penuh bahwa kita ini hamba yang lemah, penuh kekurangan, dan sangat butuh rahmat Rabb-nya. Kalau kita membacanya dengan sungguh-sungguh — dengan hati, bukan hanya bibir — maka Allah benar-benar akan menjawab.
Apa yang Dijanjikan Allah bagi Orang yang Beristighfar?
Allah SWT berfirman dalam Surah Nuh ayat 10-12, yang merupakan inti dari seruan Nabi Nuh AS kepada kaumnya:
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.'”
QS. Nuh: 10-12 (sumber: quran.com)
Lihat betapa lengkapnya janji Allah: hujan (berkah), harta (rezeki), anak (keturunan), kebun (keberkahan hidup), dan sungai (kelapangan). Semua ini bukan hadiah instan. Istighfar membuka pintu-pintu yang selama ini kita tutup sendiri dengan dosa dan kesombongan.
Kenapa Kita Sering Lupa?
Di tengah kesibukan mengejar dunia, istighfar jadi amalan yang paling gampang dilupakan. Kita sibuk berdoa minta ini-itu, tapi lupa kalau dosa-dosa yang menumpuk bisa jadi penghalang doa itu dikabulkan. Rasulullah ﷺ sendiri, seorang nabi yang sudah dijamin masuk surga, tetap beristighfar sebanyak seratus kali dalam sehari.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya hatiku pernah tertutup, dan aku beristighfar kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.”
HR. Abu Dawud no. 1294 (sumber: sunan.abudawud.com)
Jika Rasulullah yang sudah ma’shum — terjaga dari dosa — merasa perlu beristighfar seratus kali sehari, bagaimana dengan kita yang dosanya tidak terhitung? Hati yang tertutup itu bisa berarti hati yang keras, hati yang lalai, atau hati yang jauh dari dzikrullah. Istighfar adalah cara membersihkannya.
Cara Beristighfar yang Sederhana
Istighfar tidak harus panjang-panjang. Yang terpenting adalah keikhlasan. Beberapa langkah sederhana yang bisa kita mulai hari ini:
Pertama, ucapkan “Astaghfirullahal adzim” minimal seratus kali sehari. Bisa dikalibrasi sambil jalan, sambil masak, sambil nunggu sesuatu. Jadikan kebiasaan, bukan ritual berat.
Kedua, segera akui kesalahan. Bukan hanya kepada Allah, tapi juga kepada orang yang kita sakiti. Memohon maaf kepada sesama manusia itu bagian dari istighfar yang sering kita lewatkan.
Ketiga, berubah. Istighfar yang benar tidak hanya di bibir, tapi menghasilkan perubahan perilaku. Kalau kita beristighfar karena suka bergosip, maka mulai hari ini kita menjaga lisan. Itu inti dari taubat: menyesal, berhenti, dan berusaha tidak mengulangi.
Renungan Kecil
Saya tidak menulis ini dari posisi yang sudah sempurna. Justru karena saya tahu betapa seringnya saya lupa. Tapi setiap kali saya kembali beristighfar — dengan sungguh-sungguh — ada ketenangan yang datang. Hati terasa lebih lapang. Dan anehnya, pintu-pintu rezeki yang sebelumnya tertutup mulai terbuka sedikit demi sedikit.
Mungkin ini saatnya kita mulai lagi. Hari ini. Sekarang. Satu kalimat sederhana: “Astaghfirullahal adzim wa atubu ilaih.” Mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, dan bertobat kepada-Nya. Tidak perlu menunggu malam Jumat, tidak perlu menunggu Bulan Ramadhan. Cukup hari ini, cukup sekarang.
Karena sejauh mana pun kita melangkah, Allah selalu dekat. Dan pintu-Nya untuk hamba-Nya yang mau kembali, tidak pernah ditutup.
Komentar Terbaru