Hari ini saya dapat belajar satu kisah pendek yang justru membuat saya berhenti cukup lama di tengah bacaan. Kisahnya hanya beberapa baris hadits, tanpa nama pelaku, tanpa latar belakang, tanpa kelanjutan. Seorang wanita, seekor anjing, sebuah sumur, dan satu keputusan kecil di hari yang sangat panas. Saya sebelumnya mengira kisah ini cuma soal “kebaikan dibalas”, ternyata lebih dalam dari itu.
Kisahnya, apa adanya
Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan kisah ini dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Redaksinya singkat sekali:
“Telah diampuni seorang wanita pezina (mumisah) yang melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di tepi sebuah sumur, hampir saja ia mati kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya, mengikatnya dengan kerudungnya (khimar), menimba air untuk anjing itu, dan memberinya minum. Maka ia diampuni karena perbuatannya itu.” (HR. al-Bukhari no. 3321, Muslim no. 2245)
Yang menarik bagi saya: ia tidak memberi minum kepada sesama manusia, tidak ada yang melihat, tidak ada yang mencatat, dan tidak ada balasan sosial yang bisa ia harapkan. Anjing itu sendiri tidak bisa berterima kasih. Ini berarti bagi saya, satu-satunya saksi perbuatannya hanyalah Yang Maha Melihat — dan justru di situlah letak bersihnya kebaikan itu.
Dua riwayat, satu pesan
Saya baru tahu setelah memeriksa rujukan: dalam riwayat lain yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim, pelakunya bukan wanita, melainkan seorang lelaki yang kehausan. Ia menemukan sumur, minum, lalu keluar dan melihat anjing yang hampir mati kehausan. Ia pun kembali turun, mengisi alas kakinya dengan air, menggigitnya dengan mulutnya saat naik, lalu memberi minum anjing itu. (HR. al-Bukhari no. 6009, Muslim no. 2244)
Dari kajian yang saya baca, dua redaksi ini tidak saling bertentangan — bisa jadi dua peristiwa berbeda di tempat dan waktu yang berbeda. Artinya bagi saya, pesannya justru ditekankan berulang: kebaikan sekecil apa pun kepada makhluk yang bernyawa dicatat Allah. Dari hadits lelaki itu, para sahabat bertanya apakah mereka bisa memperoleh pahala dari binatang ternak yang mereka pelihara, dan jawabannya: “Setiap kebaikan kepada makhluk yang bernyawa ada pahalanya.”
Yang membuat saya berhenti: ukuran dosa dan ukuran kasihan
Ada satu penekanan yang saya temukan di sumber kajian: hadits ini sering disalahpahami seolah orang berdosa otomatis masuk surga hanya karena satu perbuatan baik. Sebenarnya yang ditekankan justru sebaliknya — jangan berputus asa dari rahmat Allah, dan jangan pernah merasa dosa kita terlalu besar untuk diampuni. Dosa yang besar di mata kita tetap kecil di hadapan luasnya kasih sayang Allah, selama pintu taubat masih kita buka.
Ini berarti bagi saya bahwa kisah ini bukan alasan untuk malas memperbaiki diri, melainkan penawar rasa minder ketika kita ingin kembali. Kalau seorang wanita yang di lingkungannya dianggap paling hina pun masih dibukakan pintu ampunan melalui kebaikan sunnah yang sederhana, apalagi kita yang masih rutin sholat, puasa, dan berdzikir.
Dua sisi dari pengukuran yang sama
Kisah ini juga mengingatkan saya pada hadits yang berpasangan: seorang wanita ahli surga masuk neraka karena menyiksa seekor kucing yang ia kurung hingga mati kelaparan, karena tidak memberinya makan dan tidak melepaskannya supaya ia bisa makan dari serangga di bumi (HR. al-Bukhari no. 3318, riwayat Muslim). Dua kisah, dua arah, satu timbangan — kebaikan dan kezaliman kepada makhluk kecil ikut dihitung. Nabi ﷺ juga pernah bersabda: “Para penyayang akan disayangi Ar-Rahman. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1924)
Pelajaran yang saya bawa pulang
Saya catat tiga hal yang bisa saya terapkan mulai hari ini. Pertama, kebaikan yang tidak disaksikan siapa pun justru ringan di hati dan berat di timbangan. Kedua, tidak perlu menunggu kebaikan besar — seember air, sepatu yang bisa dipakai menimba, kerudung yang dijadikan tali sudah cukup. Ketiga, hati-hati dengan hal yang kita anggap sepele terhadap makhluk kecil, karena di situlah sering tersembunyi ridha atau murka Allah.
Saya tidak menulis ini untuk menggurui. Saya menulisnya supaya saya sendiri ingat: hari-hari ini saya sering sibuk dengan urusan besar sambil melewatkan mereka yang kecil di sekitar saya.
Sumber
- HR. al-Bukhari no. 3321 & Muslim no. 2245 — wanita pezina memberi minum anjing: muslim.or.id — Salah Kaprah Kisah Pelacur yang Masuk Surga
- HR. al-Bukhari no. 6009 & Muslim no. 2244 — lelaki memberi minum anjing: jabar.nu.or.id — Seekor Anjing dan Kisah Pelacur yang Masuk Surga
- Faedah hadis: muslim.or.id — Faedah dari Hadis tentang Pelacur yang Memberi Minum Anjing
- HR. al-Bukhari no. 3318 — wanita masuk neraka karena kucing: hadits.id — Hadits Bukhari No. 3318
- Tinjauan lain: rumaysho.com — Kisah Wanita Pezina yang Memberi Minum pada Anjing
Komentar Terbaru