Belajar Adab Tidur: Cara Sederhana agar Tidur Kita Bernilai Ibadah

Hari ini saya belajar tentang adab tidur. Jujur, selama ini saya menganggap tidur sebagai aktivitas “mati gaya” — tinggal rebahan, pejamkan mata, selesai. Padahal tidur menghabiskan sepertiga dari hidup kita. Kalau cara kita tidur tidak pernah diperhatikan, berarti sepertiga hidup kita lewat begitu saja tanpa nilai. Ternyata Rasulullah ﷺ mengajarkan adab-adab tidur yang membuat aktivitas ini bisa bernilai ibadah. Catatan ini saya rangkum dari kajian Ustadz Abdullah Zaen tentang adab tidur (10 Adab Harian) dan artikel Rumaysho tentang adab islami sebelum tidur. Berikut poin-poin yang paling berkesan buat saya.

Kenapa adab tidur itu penting?

Karena tidur bukan sekadar istirahat fisik, tapi juga momen kita menyerahkan diri kepada Allah. Dalam doa sebelum tidur, kita mengakui bahwa tidur itu seperti “mati kecil” — kita tidak tahu apa yang terjadi pada diri kita sampai bangun lagi. Karena itu, seorang muslim menutup harinya dengan dzikir dan doa, memohon perlindungan Allah semalaman. Yang menarik, semua adab ini sederhana dan tidak butuh waktu lama, tapi efeknya luar biasa: tidur kita dijaga, hati tenang, dan yang tadinya aktivitas biasa berubah menjadi ibadah.

Adab sebelum tidur yang saya catat

Pertama, berwudhu sebelum tidur lalu berbaring miring ke kanan. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Nabi ﷺ bersabda: “Jika kamu mendatangi tempat tidurmu, maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710). Ibnul Qayyim menjelaskan, tidur miring ke kanan dianjurkan agar kita tidak kesusahan bangun untuk shalat malam, dan lebih baik bagi jantung. Saya jadi paham kenapa dulu sering diajari tidur miring kanan — ternyata ini sunnah yang punya hikmah.

Selain miring ke kanan, sunnah tidur juga mengajarkan meletakkan tangan kanan di bawah pipi atau pipi kanan di atas telapak tangan kanan. Posisi ini tidak sekadar nyaman — Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad menjelaskan bahwa posisi ini membuat tubuh lebih rileks, pernapasan lebih lancar, dan mencegah tidur telentang yang bisa membuka aurat. Rasulullah ﷺ sendiri rutin berbaring miring kanan dengan tangan di bawah pipi. Dari Thawus, “Rasulullah ﷺ apabila berbaring untuk tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1228). Dari kecil saya sering melihat kakek-nenek tidur dengan posisi ini, tapi baru sekarang paham bahwa itu ternyata sunnah yang punya dasar syar’i dan hikmah kesehatan.

Kedua, membaca dzikir-dzikir sebelum tidur. Yang dicontohkan Nabi ﷺ: mengumpulkan kedua telapak tangan, meniupnya sambil membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, lalu mengusapkannya ke kepala, wajah, dan tubuh yang terjangkau — diulang tiga kali (HR. Bukhari no. 5017). Selain itu, membaca Ayat Kursi. Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa yang membaca Ayat Kursi saat hendak tidur, “maka akan senantiasa ada penjaga dari Allah dan setan tidak akan mendekatinya sampai pagi” (HR. Bukhari no. 3275). Lalu ditutup dengan doa: بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا — “Bismikallahumma amuutu wa ahyaa” (Dengan nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup) (HR. Bukhari no. 6324).

Doa bangun tidur dan adab menghindari begadang

Saat bangun tidur pun ada doanya: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ — “Alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur” (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali) (HR. Bukhari no. 6324). Bayangkan, tidur dianggap sebagai “mati kecil”, lalu bangun pagi adalah “hidup lagi” — jadi setiap pagi kita sebenarnya sedang diberi umur baru. Masya Allah, makin saya renungkan makin merinding.

Poin yang paling menampar saya: Nabi ﷺ membenci begadang tanpa kepentingan. Dari Abu Barzah, “Rasulullah ﷺ membenci tidur sebelum shalat Isya dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari no. 568). Umar bin Khattab bahkan pernah memukul orang yang begadang setelah Isya sambil berkata, “Apakah kalian begadang di awal malam, lalu di akhir malam tertidur lelap?!” Dalam riwayat lain dari At-Tirmidzi, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa tidur sebelum shalat Isya, maka ia seolah-olah tidur bersama kaum musyrikin” (HR. at-Tirmidzi no. 460). Hadits ini sangat menampar — artinya tidur sebelum Isya itu bukan sekadar menghilangkan waktu, tapi bisa menghilangkan keberkahan malam yang Rasulullah ﷺ jaga dengan shalat malam. Saya langsung muhasabah — berapa malam yang saya habiskan hanya untuk scroll ponsel sampai larut, padahal waktu itu seharusnya bisa dipakai untuk shalat malam atau setidaknya istirahat yang berkah.

Waktu tidur yang disunnahkan: qailulah dan tidur Dhuha

Ternyata Islam tidak melarang tidur siang selama diatur waktunya. Ada dua waktu tidur siang yang disunnahkan. Pertama, qailulah — tidur sebentar setelah shalat Dhuha sampai menjelang waktu Zuhur. Dari Ibnu Umar, Nabi ﷺ bersabda: “Kami pernah tidur (qailulah) bersama Rasulullah ﷺ setelah shalat Ashar, lalu kami bergegas bangun untuk mengejar shalat Maghrib” (HR. Bukhari no. 524). Qailulah dianjurkan karena di waktu itu syariat malaikat bergantian — malaikat malam naik dan malaikat siang turun. Dengan tidur singkat di jam ini, tubuh mendapat istirahat yang berkualitas tanpa mengganggu waktu shalat.

Kedua, tidur Dhuha — setelah shalat Dhuha, sebelum masuk waktu Zuhur. Tidur di waktu ini juga sangat dianjurkan karena cuaca panas dan waktu ini memang efektif untuk istirahat sejenak. Yang perlu diingat, tidur sunnah ini harus singkat — idealnya 15–30 menit — supaya tidak membuat kita malas dan terlewat waktu shalat. Jadi tidur siang yang disunnahkan itu bukan alasan untuk bermalas-malasan, tapi strategi istirahat yang Rasulullah ﷺ ajarkan agar badan tetap bugar dan ibadah tidak terganggu.

Adab kamar tidur: bersih, gelap, dan tenang

Salah satu hal yang saya pelajari dan ternyata diamini oleh studi modern: kondisi kamar tidur sangat mempengaruhi kualitas tidur. Dari sudut pandang sunnah, Rasulullah ﷺ menjaga kamar tidurnya dalam kondisi bersih dan sederhana. Beberapa adab kamar tidur dalam Islam antara lain: membersihkan kamar dari kotoran dan debu (karena syaitan suka tempat kotor dan gelap), tidak membawa makanan ke dalam kamar tidur (agar tidak menjadi sarang semut atau tikus), dan menjaga agar kamar tetap gelap saat tidur. Rasulullah ﷺ bahkan menutup wadah air dan menutup pintu rumah sebelum tidur (HR. Muslim no. 2012), yang bertujuan menjaga kebersihan dan keamanan. Jadi menjaga kebersihan kamar tidur itu bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga bagian dari menjaga kebersihan diri sebagai seorang muslim.

Tidur dan kesehatan: sudut pandang modern

Yang menarik, adab tidur yang Rasulullah ﷺ ajarkan belasan abad lalu ternyata sejalan dengan penemuan ilmu pengetahuan modern. Beberapa riset kesehatan menyebutkan bahwa durasi tidur ideal bagi orang dewasa adalah 7–8 jam per malam. Kurang dari itu, risiko penyakit jantung, diabetes, gangguan kekebalan tubuh, dan bahkan kegemukan meningkat secara signifikan. Studi dari National Sleep Foundation dan berbagai jurnal medis mengonfirmasi bahwa tidur yang cukup dan berkualitas membantu memperbaiki sel-sel tubuh, memperkuat daya ingat, menjaga keseimbangan hormon, dan menjaga kesehatan mental. Sungguh mengagumkan — Allah ﷻ telah memerintahkan tidur yang berkualitas melalui sunnah Nabi ﷺ, dan kini sains modern membuktikan betapa pentingnya hal itu untuk kesehatan jasmani maupun rohani.

Tidur dalam Islam: bukan kemalasan, tapi ibadah dengan niat

Banyak orang mengira kalau banyak tidur berarti malas. Tapi Islam punya pandangan yang lebih holistik. Nabi ﷺ sendiri pernah bersabda: “Sebagian dari kebaikan agama seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya” (HR. at-Tirmidzi no. 2317). Jadi yang menjadi masalah bukan tidurnya, tapi apa yang ditinggalkan saat kita tidur — apakah kita meninggalkan shalat? Meninggalkan pekerjaan yang harus diselesaikan? Atau justru kita tidur agar bisa bangun lebih segar untuk beribadah? Jika niatnya demikian, maka tidur itu sendiri bernilai ibadah. Rasulullah ﷺ tidur untuk menjaga energi agar shalat malamnya lebih khusyuk. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Rasulullah ﷺ biasa tidur di awal malam (setelah Isya) dan bangun di pertengahan malam, lalu tidur lagi di akhir malam” (HR. Muslim no. 746). Pola tidur ini menunjukkan bahwa tidur yang teratur dan dengan niat yang benar justru mendukung produktivitas ibadah, bukan menghalanginya.

Catatan pribadi: mencoba menerapkan adab tidur

Saya akui, sebelum belajar ini, kebiasaan tidur saya jauh dari ideal. Sering begadang main ponsel, tidak pernah membaca doa sebelum tidur, dan posisi tidur pun acak-acakan — telentang, tengkurap, tergantung posisi tubuh saat itu. Setelah belajar adab tidur ini, saya coba terapkan sedikit demi sedikit. Awalnya sulit — rasanya aneh harus berwudhu dulu sebelum tidur, dan sering lupa membaca doa. Tapi setelah beberapa minggu konsisten, saya mulai merasakan perbedaan. Tidur jadi lebih nyenyak, bangun pagi terasa lebih ringan, dan yang paling penting, saya merasa hari-hari saya lebih terarah. Ada kepuasan tersendiri ketika tahu bahwa sepertiga hidup saya tidak lagi dihabiskan begitu saja, tapi diam-diam diamalkan sebagai ibadah. Perubahannya memang kecil, tapi kalau istiqamah, sepertiga hidup saya tidak lagi terbuang sia-sia — malah jadi ladang pahala. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk mengamalkan sunnah-sunnah sederhana ini. Kalau saya ada salah dalam catatan ini, mohon dikoreksi; saya masih belajar.

Belajar Adab Makan: Cara Sederhana agar Makan Kita Penuh Berkah

Hari ini saya belajar tentang adab makan. Jujur, selama ini saya mengira makan itu urusan “teknis” saja — yang penting kenyang dan enak. Ternyata anggapan saya salah. Dalam Islam, cara kita makan bisa menjadi ibadah yang bernilai pahala, bahkan bisa mendatangkan keberkahan. Catatan ini saya rangkum dari kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri tentang adab di awal makan, kajian Ustadz Abdullah Zaen tentang adab makan dan minum, serta artikel Rumaysho tentang adab makan yang penuh barokah. Saya tulis di sini poin-poin yang paling berkesan buat saya.

Kenapa adab makan itu penting?

Alasannya sederhana: makan adalah kebutuhan yang kita lakukan setiap hari, bahkan berkali-kali dalam sehari. Kalau setiap kali makan kita melakukannya dengan cara yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, otomatis kita mengumpulkan pahala tanpa harus menambah aktivitas apa pun. Sebaliknya, kalau kita makan seenaknya, setan pun ikut “makan” bersama kita. Dari Hudzaifah, Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah padanya” (HR. Muslim no. 2017). Na’udzubillah, saya tidak mau makanan saya dimakan setan, jadi poin ini langsung saya catat baik-baik.

Selain itu, makanan yang kita konsumsi akan menjadi darah, daging, dan energi yang menentukan kualitas ibadah kita sehari-hari. Jika makanan kita baik dan halal, insya Allah ibadah kita pun akan lebih optimal. Sebaliknya, makanan yang haram akan menjadi penghalang antara kita dan doa kita. Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Muslim no. 1015). Hadits ini mengingatkan saya bahwa kualitas makanan dan cara makan sama-sama penting.

Adab-adab makan yang saya catat

1. Membaca bismillah sebelum makan

Pertama, membaca bismillah sebelum makan. Ini adab paling utama di awal makan, sebagaimana judul kajian Ustadz Nuzul Dzikri. Nabi ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan, maka ucapkanlah bismillah. Jika lupa menyebut nama Allah di awal makan, hendaklah ia mengucapkan: Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu — ‘dengan nama Allah pada awal dan akhirnya'” (HR. Abu Dawud no. 3767, dishahihkan oleh Al-Albani). Sunnah yang sederhana ini sering saya lupa, padahal hanya satu kalimat. Maka saya mulai menempelkan catatan kecil di meja makan sebagai pengingat.

2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

Sunnah lain yang sering terlewat adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Nabi ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia mencuci tangannya sebelum makan” (HR. Abu Dawud no. 3830). Membersihkan tangan bukan hanya soal higienitas — itu adalah bentuk penghormatan terhadap nikmat Allah yang akan kita terima. Di era modern ini, sabun dan air mengalir mudah didapatkan, jadi tidak ada alasan untuk melewati sunnah ini.

3. Makan dengan tangan kanan

Kedua, makan dengan tangan kanan. Nabi ﷺ bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan jika minum, minumlah dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kirinya pula” (HR. Muslim no. 2020). Saya baru sadar, ternyata sering sekali saya makan pakai tangan kiri tanpa sadar — mulai sekarang harus pelan-pelan dibiasakan.

4. Makan dari yang ada di hadapan, tidak mengambil yang terbaik

Ketiga, makan dari yang ada di hadapan kita, bukan mengambil bagian orang lain. Ini nasihat Nabi ﷺ kepada Umar bin Abi Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di hadapanmu” (HR. Bukhari no. 5376). Keempat, kalau makan bersama dalam satu wadah, ambil dari pinggir, bukan dari tengah, karena barokah itu turun di tengah-tengah makanan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila makanan diturunkan dalam satu nampan, janganlah kalian mengambilnya dari tengah-tengahnya, tetapi ambillah dari pinggirnya” (HR. Ibnu Majah no. 3276, hasan). Adab ini mengajarkan kita untuk tidak egois — makan bersama berarti saling menghargai.

5. Tidak bersendawa keras

Adab lain yang perlu saya perhatikan adalah tidak bersendawa dengan keras. Bersendawa memang reaksi alami dari perut, tetapi mengendalikannya adalah bagian dari tata krama makan. Dalam sebuah riwayat, Nabi ﷺ bersabda: “Aku dilarang dari tiga hal: menggonggong, bersendawa, dan beriwak” — yang dimaksud dengan bersendawa di sini adalah yang keras dan berlebihan (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubra, dishahihkan Al-Albani). Makan dengan tenang dan tidak terburu-buru juga membantu mengurangi sendawa berlebihan.

6. Jangan mencela makanan

Kelima, jangan mencela makanan. Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali; kalau beliau menyukainya, beliau memakannya, dan kalau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya begitu saja (HR. Bukhari no. 5409). Saya pribadi sering tergoda untuk mengomentari masakan orang — ternyata itu termasuk mencela nikmat yang Allah berikan. Mulai sekarang, kalau tidak suka, cukup diam dan tidak makan — tanpa perlu mengucapkan apa pun yang menyakitkan bagi yang memasak.

Doa sebelum dan sesudah makan

Selain adab makan, doa sebelum dan sesudah makan juga tidak kalah pentingnya. Doa sebelum makan yang paling utama adalah membaca bismillah, namun ada doa khusus untuk makanan yang disajikan: Allaahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban-naar — “Ya Allah, berkahilah makanan yang Engkau rizkikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa neraka” (HR. Ibnu Majah no. 3320, shahih). Doa ini singkat, mudah dihafal, dan mengandung permohonan keberkahan sekaligus perlindungan.

Adapun doa sesudah makan, telah saya sebutkan di atas: Alhamdulillaahilladzii ath’amani haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwah — “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan merizkikannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan). Barangsiapa membacanya, diampuni dosanya yang telah lalu. Ada juga lafadz lain: Alhamdulillaahilladzii ath’amanaa wa saqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin — “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami dan menjadikan kami dari golongan kaum muslimin.” Dari kedua doa ini, saya belajar bahwa selesai makan pun harus diakhiri dengan syukur — bukan sekadar berdiri dari meja dan pergi.

Makanan halal versus thoyyib

Ada satu hal yang sering saya abaikan: makanan yang kita makan harusnya bukan hanya halal, tapi juga thoyyib. Allah berfirman: “Wahai manusia, makanlah yang halal dan thoyyib dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah: 168). Ayat ini mengingatkan saya bahwa halal saja tidak cukup — makanan juga harus baik, bersih, dan bermanfaat bagi tubuh. Halal soal hukum asal makanan, thoyyib soal kualitas dan kebermanfaatannya.

Menghargai makanan, tidak menyia-nyiakan

Islam sangat menekankan agar kita tidak menyia-nyiakan makanan. Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah kalian bersendawa, karena sesungguhnya orang yang bersendawa itu dipenuhi oleh setan di rumahnya” (HR. At-Tirmidzi no. 1029). Lebih dari itu, membazir makanan termasuk perbuatan yang dibenci Allah. Di tengah dunia yang masih banyak kelaparan, menyisihkan makanan menjadi perbuatan terpuji. Saya teringat pesan orang tua: “Makanlah secukupnya, sisakan untuk yang lain.” Ternyata itu bukan sekadar nasihat ekonomi — itu juga adab yang selaras dengan ajaran Rasulullah ﷺ. Jika ada sisa makanan, sebaiknya dibagikan kepada tetangga atau orang yang membutuhkan, bukan dibuang ke tempat sampah begitu saja.

Makanan dan kesehatan: makan sebelum kenyang

Menariknya, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan prinsip kesehatan dalam makan. Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda: “Isi perut dengan makanan (berat), sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara” (HR. Tirmidzi no. 2380, hasan). Prinsip sepertiga ini sangat relevan dengan ilmu gizi modern. Kita dianjurkan untuk tidak makan berlebihan — makan sebelum kenyang, bukan makan sampai kekenyangan. Hal ini juga diperkuat oleh riwayat dari Anas bin Malik bahwa Nabi ﷺ tidak pernah makan berlebihan (HR. Tirmidzi no. 2480). Tubuh yang sehat memungkinkan kita untuk beribadah dengan lebih optimal.

Adab makan berjamaah

Makan bersama dalam satu wadah atau satu meja memiliki keutamaan tersendiri. Dari Jabir bin Abdullah, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa makan dari satu nampan bersama-sama, maka akan diberkahi makanan tersebut” (HR. Ad-Darimi, dishahihkan Al-Albani). Ketika saya makan bersama keluarga, saya sering melihat si kecil mengambil bagian ayam paling besar — dan saya tersenyum karena itu juga mengingatkan diri sendiri untuk tidak melakukan hal yang sama. Adab makan berjamaah menuntut kita untuk tidak mengambil yang terbaik untuk diri sendiri, melainkan berbagi dengan adil. Inilah sejatinya makan bersama: bukan hanya soal kenyang, tapi soal kasih sayang dan kepedulian satu sama lain.

Makan di era modern: fast food, meal prep, dan eating clean

Kita hidup di zaman di mana makanan cepat saji (fast food) menjadi pilihan yang paling praktis. Sering kali kita tidak sempat membaca bismillah karena buru-buru, atau makan sambil menyetir mobil. Tren meal prep — menyiapkan makanan dalam porsi-porsi kecil untuk beberapa hari ke depan — bisa menjadi solusi untuk kita yang sibuk. Dengan meal prep, kita bisa memastikan makanan yang kita konsumsi halal, thoyyib, dan sesuai porsi yang disyariatkan. Konsep eating clean atau makan bersih juga sangat selaras dengan ajaran Islam: mengonsumsi makanan yang alami, minim proses, dan tidak berlebihan. Rasulullah ﷺ sendiri adalah contoh terbaik dalam hal ini — beliau memilih makanan sederhana, tidak berlebihan, dan selalu memastikan kehalalannya.

Refleksi saya

Belajar hal ini membuat saya malu sekaligus bersemangat. Malu, karena selama ini banyak yang belum saya lakukan — sering lupa bismillah, kadang mencela masakan orang, bahkan makan sambil main HP. Bersemangat, karena perbaikannya ternyata sederhana dan bisa dimulai dari makan berikutnya. Tidak perlu langsung sempurna, yang penting pelan-pelan dan istiqomah.

Ada pengalaman pribadi yang ingin saya bagi. Beberapa minggu lalu, saya mulai mencoba membiasakan diri membaca bismillah dengan benar — tidak sekadar lirih, tapi benar-benar mengucapkannya dengan sadar. Hasilnya? Makanan terasa lebih bermakna. Mungkin itu efek psikologis, mungkin juga itu memang berkah dari kebiasaan kecil yang kita lakukan dengan penuh kesadaran. Yang pasti, saya merasakan perbedaan. Mulai dari itu, saya juga mulai mencoba makan dengan tangan kanan secara konsisten. Awalnya canggung, tapi sekarang sudah terbiasa. Siapa sangka adab-adab kecil ini ternyata membawa perubahan besar dalam cara saya menikmati makanan.

Semoga catatan kecil ini bermanfaat, dan semoga kita semua dimudahkan untuk mengamalkan sunnah-sunnah kecil ini. Kalau nanti saya dapat ilmu baru lagi, insya Allah saya catat lagi di sini.